Minggu, 16 Desember 2007

Pion

Bak permainan catur, demikianlah hidup ini. Kita bak bidak-bidak catur yang dimainkan oleh Sang Pemain. Kita bergerak kemana Sang Pemain ingin menggerakkan kita. Sungguh kita tak punya kemauan, karena Sang Pemainlah yang Maha Punya Kemauan.

Memainkan peran sebagai bidak catur, sudah menjadi takdir manusia. Kita tak bisa menolak peran yang diberikan Sang Pencipta Permainan. Apakah sebagai raja, perdana menteri, banteng, kuda, peluncur, ataupun pion, kita harus menerimanya, tak peduli apakah kita suka atau tidak terhadap peran tersebut. Oleh sebab itu, menerima segala peran dengan lapang dada akan lebih menenteramkan jiwa kita.

Selasa, 11 Desember 2007

Kemana Pendidikan Kita

Bicara pendidikan memang tidak ada habisnya. Masih banyak hal yang harus diperbaiki. Tapi kemana arah pendidikan kita akan dibawa? Menjawab pertanyaan ini memang bukan suatu hal yang mudah. Sudah banyak cara yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan kita. Tapi hasilnya? Semuanya nihil!!!. Pendidikan Indonesia tetap jalan di tempat. Sementara Singapura dan Malaysia yang dulu belajar ke Indonesia sekarang jauh lebih maju. Selangkah lagi mereka sudah mampu menandingi Jepang ataupun Amerika. Lantas apa sebenarnya masalah pendidikan kita?

Ada beberapa hal yang bisa kita kemukakan untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, masalah kultural. Merujuk pada pemikiran Greetz, masyarakat Indonesia (khususnya Jawa) terbagi kepada tiga kelompok sosial, yaitu kaum bangsawan, priyayi, dan rakyat jelata. Pengelompokan masyarakat semacam ini membuat sistem pendidikan di Indonesia pada zaman Hindia Belanda menjadi diskriminatif. Ketika itu pendidikan formal hanya bisa dinikmati oleh kelompok bangsawan dan pegawai Belanda.