Bak permainan catur, demikianlah hidup ini. Kita bak bidak-bidak catur yang dimainkan oleh Sang Pemain. Kita bergerak kemana Sang Pemain ingin menggerakkan kita. Sungguh kita tak punya kemauan, karena Sang Pemainlah yang Maha Punya Kemauan.
Memainkan peran sebagai bidak catur, sudah menjadi takdir manusia. Kita tak bisa menolak peran yang diberikan Sang Pencipta Permainan. Apakah sebagai raja, perdana menteri, banteng, kuda, peluncur, ataupun pion, kita harus menerimanya, tak peduli apakah kita suka atau tidak terhadap peran tersebut. Oleh sebab itu, menerima segala peran dengan lapang dada akan lebih menenteramkan jiwa kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar