Kamis, 24 Juni 2010

Maligi Riwayatmu Kini

Ekspedisi Singgalang Maligi
Tiram dan Kerbau Maligi Mulai Langka

Laporan MUSRIADI MUSANIF

PASBAR -- Secara geografis, Maligi, Kenagarian Sasak, Kecamatan Sasak Ranah Pasisie, Pasaman Barat, berada di sepanjang garis pantai yang berbatasan langsung dengan Muara Sasak dan Sikilang. Untuk akses ke jalan lintas Sumatra yang menghubungkan Simpang Empat dengan Ujung Gading, Maligi terhalang oleh dua perusahaan perkebunan kelapa sawit milik investor multinasional. Perusahaan itu memiliki pabrik pengolahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menjadi cruid palm oil (CPO) alias minyak mentah kelapa sawit.

Kendati belum diketahui adanya pencemaran terhadap perairan sepanjang pantai Maligi akibat aktifitas industri CPO di daerah hulu tersebut, namun beberapa tahun belakangan masyarakat Maligi mulai merasakan, jalan roda ekonomi sebagian keluarganya mulai macet, terutama mereka yang selama ini menggantungkan hidupnya dari mencari tiram (kerang) di aliran air payau yang ada di sekeliling kampung itu. Tiram, adalah komoditas andalan yang dahulu banyak terdapat di sana. Selain tiram, perairan Maligi juga menghasilkan berbagai jenis udang kualitas ekspor.

Mencari tiram, sesungguhnya juga merupakan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat yang melaut sebagai nelayan. Tatkala musim sulit mendapatkan ikan dan udang karena faktor cuaca tiba, biasanya mereka beralih mencari tiram. Tapi itu dulu. Kini, tiram mulai langka dan sulit didapat. Posisinya sebagai mata pencaharian yang bisa menyambung hidup warga, sudah mulai bergeser. Banyak di antara mereka yang beralih menjadi buruh kasar di perkebunan-perkebunan kelapa sawit yang memagari kampung mereka.

Tapi musim susah kembali melanda setelah banyak di antara warga yang dulu bekerja sebagai buruh di perkebunan, kini telah diberhentikan lantaran perusahaan investor besar itu tidak lagi membutuhkan buruh dalam jumlah besar. Kebun-kebun kelapa sawit sudah memasuki tahap produksi. Pengurangan besar-besaran tenaga kerja, membuat banyak di antara warga Maligi kehilangan pekerjaan, sementara untuk kembali menjalankan profesi pencari tiram, sudah tidak memungkinkan lagi. Tidak ada yang berani memastikan, kehadiran industri kelapa sawit di hulu memiliki korelasi dengan mengecilnya jumlah tiram di sana.

Sementara itu, di tengah keputusasaan dan kemelaratan menyapu kehidupan sebagian besar masyarakat Maligi, beberapa birokrat pemerintahan di Pasaman Barat dan Provinsi Sumbar malah sesumbar, Maligi adalah daerah potensial untuk pembangunan tambak udang berkualitas ekspor. Ucapan itu dilontarkan lantaran berbagai jenis udang menjadi tangkapan utama nelayan tradisional di sana. Sayangnya, kendati telah berbilang tahun, namun ucapan-ucapan pejabat itu tetap saja berstatus omong kosong.

Di laman resmi Pemkab Pasbar dituliskan, Maligi dan Sikilang adalah daerah yang dikembangkan untuk budidaya tambak dengan komoditas yang dikembangkan adalah udang windu (penaens monodon), Bandeng dan Kepiting. Pengembangan budidaya ini mempunyai prospek pasar yang besar. Peluang investasi yang dapat dilakukan adalah pembangunan usaha budidaya pembesaran dan pembenihan udang windu, bandeng dan kepiting bakau.

Kerbau maligi
Selain terkenal dengan udang, kepiting dan tiram, Maligi juga dikenal sebagai daerah penghasil kerbau terbesar di Pasaman Barat. Berbeda dengan daerah lain, peternakan kerbau di sana tidak memerlukan padang pengembalaan. Kerbau-kerbau maligi tidak pernah diikat. Gerombolan kerbau itu hanya dibiarkan berkeliaran di sepanjang aliran sungai dan muara yang mengurung daerah itu dari dunia luar.

Dahulu, ratusan kerbau dengan mudah bisa ditemukan merumput, berendam dan iberkubang. Kini, populasinya sudah jauh menurun. Sulit diperoleh penjelasan, faktor apa sesungguhnya yang mengakibatkan peternakan itu tidak lagi menarik perhatian warga.

“Nampaknya saja kerbau itu yang liar dan tak bertuan. Semuanya sudah ada yang punya. Pemiliknya dengan mudah bisa mengenali kerbau yang berkeliaran itu miliknya dari bentuk tanduk, warna bulu dan oakannya (suara kerbau). Seorang peternak, biasanya memulai usaha peternakan dengan membeli seekor atau beberapa ekor kerbau betina untuk kemudian dilepas. Takkan lebih dari lima tahun, kerbaunya akan berkembang biak dan bisa dijual sebagai tambahan penghasilan keluarga,” tutur seorang warga.

Sepintas, beternak kerbau di Maligi terlihat begitu mudah, karena hanya dibiarkan lepas seperti hewan-hewan liar. Tapi sebenarnya tidak. Kerbau-kerbau itu juga perlu dipantau terus pergerakannya. Bila tidak, maka ketika hendak ditangkap dan dijual, si pemilik akan kesulitan mencari di mana posisi ternaknya tersebut. Maklum, wilayah jelajah sang kerbau cukup luas.

Bagi masyarakat Maligi, kerbau tidak hanya untuk dijual ke luar daerah yang akan dimanfaatkan orang di daerah lain dalam kawasan Pasaman Barat untuk menarik bajak pengolah sawah, tetapi juga berfungsi sebagai penarik pedati. Kerbau maligi dikenal cukup kuat dan tangguh menarik pedati bermuatan sekitar satu ton, melewati jalan berlumpur dan memudikkan aliran sungai. Berkat bantuan kerbau penarik pedati itu pulalah, warga Maligi bisa mengirim hasil produksi daerah mereka ke Pasar Sasak, sekaligus membawa barang-barang kebutuhan harian masuk ke Maligi.***

Sumber: http://musriadi.multiply.com/journal/item/274

Tidak ada komentar: