Mahalnya Sebuah Kejujuran
Oleh: Khairunnas*
Dalam sebuah tayangan reality show di televisi kita menyaksikan aksi seorang pesulap menghipnotis penonton. Dalam kondisi setengah sadar sang ‘korban’ ditanyai hal-hal seputar kehidupan pribadinya. Berbagai jawaban yang seharusnya bersifat ‘rahasia’ pun meluncur dari mulutnya. Termasuk hal-hal yang selama ini tidak diketahui oleh orang terdekatnya sekalipun.
Akan tetapi, setelah kondisi kesadarannya pulih kembali dan diajukan pertanyaan yang sama, maka jawabannya berbeda. Bahkan ia menyangkal dan mengelak ketika sang pesulap mengkonfirmasi jawaban sebelumnya.
Kejujuran memang kata yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Seorang remaja yang sedang kasmaran dengan entengnya akan mengatakan ia hanya mencintai kekasihnya seorang, padahal di belakangnya ia juga menyukai orang lain. Seorang suami juga seringkali berbohong kepada istri dan anaknya, bahkan untuk hal-hal yang sepele sekalipun seperti masalah uang belanja dan lain sebagainya.
Mencari orang jujur di zaman seperti sekarang memang sesuatu yang teramat sulit. Seperti pepatah mengatakan ‘ibarat mencari jarum di dalam jerami’. Kejujuran telah menjadi barang mahal dan langka. Seorang pimpinan tak lagi berani berkata jujur kepada bawahannya. Seorang bawahan pun tak berani berkata jujur kepada pimpinannya. Mereka terjebak dalam pusaran kebohongan.
Dalam skala yang lebih besar, bangsa Indonesia saat ini pun sangat sulit menemukan seorang pemimpin yang jujur. Ketika Skandal Bank Century meledak ke hadapan publik tak ada satu pun pengambil kebijakan yang berani bertanggung jawab. Mereka lebih banyak menghindar dan berkata tidak tahu ketika Pansus Hak Angket DPR RI mengajukan pertanyaan. Mereka berusaha mencari kambing hitam dan saling lempar kesalahan. Jika kepemimpinan seperti ini terus dipertahankan, mungkinkah cita-cita kemerdekaan dapat diwujudkan?
Sebagai negeri Muslim terbesar di dunia, bangsa ini seyogyanya kembali kepada ajaran Islam yang hakiki. Islam mengajarkan seorang Muslim untuk senantiasa bersikap jujur. Kejujuran adalah landasan utama dari seluruh perbuatan baik dan puncak dari akhlakul karimah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan, sedang kebaikan itu akan menuntun ke surga. Dan seorang laki-laki yang berbuat jujur akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan menghantarkan ke neraka. Seorang laki-laki yang berbuat dusta akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (H.R. Bukhari Muslim)
Seorang Muslim yang benar adalah Muslim yang senantiasa berusaha untuk bersikap jujur baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dia tidak boleh takut berkata benar sekalipun beresiko. Seorang Muslim yang tidak jujur tak pantas mengaku sebagai ummat Muhammad SAW yang Al-Amin. Seorang Muslim yang suka berbohong tak pantas mengaku sebagai pengikut Rasulullah SAW yang memiliki sifat Asy-Ayiddiq. Dan kita tak pantas mengaku sebagai seorang Muslim jika kita terus berbohong bahkan terhadap diri sendiri sekalipun. * hamba Allah, Al-Fakir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar