Kamis, 24 Juni 2010

Maligi Sengaja Dimiskinkan

Maligi Sengaja Dibiarkan Miskin?

Pasbar, Singgalang

Laporan Ekspedisi Singgalang 4 ke Maligi yang disiarkan Harian Umum Singgalang, baik melalui edisi cetak maupun online, mendapat respon dari salah seorang warga Maligi alumni ‘Sekolah Laskar Pelangi’, Jasra Putra, M.Si. Menurut staf pada Pusat Perlindungan Anak dan Lansia itu, sejak masih SD di Maligi tempo doeloe, sebenarnya dia sudah heran, kenapa Maligi tidak masuk ke dalam peta Sumbar dan Pasaman yang mereka pelajari.
“Negeri ini sudah merdeka selama 64 tahun dengan gegap gempita pembangunan yang dilakukan. Berbagai hasil sudah dinikmati oleh sebagian masyarakat. Tapi untuk Maligi, negeri yang terletak di tepi pantai tersebut belum bisa menikmati kemerdekaan. Kadangkala saya pernah berpikir, waktu masih belajar di SD dan MTsM, lembaga yang disebut sebagai Sekolah Laskar Pelangi oleh Singgalang, kenapa negeri kaya ini tak masuk ke dalam peta,” ujar Jasra kepada dalam tanggapan tertulisnya yang dikirim kepada Singgalang, Jumat (1/1/2010) dari Bandung.
Jasra yang mengaku saat menulis tanggapan itu tengah mengikuti rapat untuk membuat Rencana Strategis (renstra) Pusat Perlindungan Anak dan Lansia itu mempertanyakan, apakah orang-orang yang ada saat ini di Maligi dan Pasbar masih punya tanggungjawab untuk mengangkat keterpurukan Maligi. Jangan-jangan, tuturnya, Maligi dianggap tidak pernah ada, sehingga tidak perlu menjadi perhatian oleh pejabat-pejabat yang bertanggungjawab untuk mengurusi persoalan ini, baik di level Pasbar maupun Sumbar.
“Saya sangat malu dan prihatin terhadap gega-gempita yang dijanjikan oleh ‘pedagang politik’ yang membuai masyarakat dengan janji-janji, setelah mendapat jabatan, mereka justru lupa dengan semua janjinya dan berjalan tanpa merasa berdosa. Ketertinggalan Maligi telah mereka jadikan dagangan politik. Saya curiga, ada upaya pembiaran kemiskinan di Maligi,” tegasnya.
Pada Silaturahim Idul Fitri 2008 lalu, Jasra mengaku sudah pernah melemparkan persoalan Maligi kepada sejumlah pejabat Pasbar, terutama menyangkut masalah ekonomi, sosial dan politik. Dengan enteng mereka menjawab, tutur Jasra, orang-orang penting Pasbar menyatakan sistem yang ada telah berjalan sejak masih pemerintahan Kabupaten Pasaman sebelum dimekarkan.
Ketika pejabat itu didesak untuk melahirkan beragam inisiatif untuk menyelesaikan persoalan Maligi dan daerah-daerah miskin di sepanjang pesisir Pasbar, mereka justru bersikap lempar batu sembunyi tangan, sekaligus menganggap isu itu adalah persoalan yang ‘sudah masuk angin’.
“Sebagai putra Maligi, saya berterima kasih kepada Singgalang yang telah mau mengungkap persoalan Maligi dengan melakukan ekspedisi ke sana. Mudah-mudahan informasi ini bisa membuka hati dan pikiran para pemangku kebijakan di Pasbar dan Sumbar. Bagi masyarakat Maligi, kemedekaan itu artinya sangat sederhana, yakni bagaimana mereka bisa melepaskan diri dari kubangan kemiskinan yang sudah lama dirasakan. Harapan ini, sudah tak tahu lagi hendak disampaikan ke mana dan kepada siapa,” ucapnya.
Sumber: http://musriadi.multiply.com/journal/item/276

1 komentar:

edi candra mengatakan...

jangan terlalu berharap kepada orang lain bang!!! masalh maligi merupakan tanggung jawab kita semua sebagai putra maligi.
puluhan manusia sukses yang berasal dari maligi di tambah lagi jumlah pelajar dan mahasiswa yang terus meningkat dari tahun ke tahun!!!!
apakah elemen ini masih kurang untuk menyelesaikan masalah maligi???
kapan elemen ini bisa menyatukan misi untuk mengangkat keterpurukan maligi??