Malu
Dalam tradisi ksatria Jepang (baca: ninja), kita mengenal istilah ‘hara-kiri’, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai tindakan bunuh diri ketika posisi sudah terdesak dalam sebuah pertarungan. Para ninja biasanya akan melakukan hara-kiri jika merasa sudah tidak mungkin lagi memenangkan pertarungan, karena bagi mereka menyerah adalah tindakan yang memalukan.
Pada era modern ini, hara-kiri bagi sebagian masyarakat Jepang masih dianggap sebagai salah satu pilihan yang baik, meskipun bentuknya tidak selalu bunuh diri. Dalam konteks politik atau bisnis misalnya, mereka akan memilih mengundurkan diri jika gagal mencapai target tertentu. Oleh sebab itu, belakangan ini kita sering mendengar seorang politisi atau pemimpin bisnis di Jepang mengundurkan diri dari jabatannya karena gagal menjalankan tugasnya, karena bagi masyarakat Jepang kegagalan adalah sebuah aib yang sangat memalukan.
Dalam konteks ‘malu’ inilah tulisan ini akan saya tempatkan, karena penulis tidak memiliki pretensi apapun untuk mengatakan apakah tradisi hara-kiri pada masyarakat Jepang tersebut benar atau salah. Menurut hemat penulis, ‘malu’ seyogya adalah sifat yang baik dan harus dimiliki oleh semua orang, karena dengan rasa malu seseorang akan senantiasa mawas diri. Dia akan berusaha mengendalikan dirinya agar tidak melakukan perbuatan yang memalukan.
Sebagai suri tauladan terbaik sepanjang zaman, Rasulullah Saw telah memberikan contoh bahwa salah satu kriteria seorang muslim yang baik adalah orang yang selalu memiliki rasa malu dalam dirinya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Sa’id Al-Khudri ra menceritakan, “Rasulullah Saw lebih malu daripada seorang gadis yang berada dalam pingitan, apabila beliau melihat sesuatu yang dibencinya, kami mengetahuinya dari wajahnya.” (H.R. Muttafaqun ‘Alaih).
Para ulama menjelaskan bahwa malu merupakan akhlak mulia yang selalu mendorong seseorang untuk meninggalkan segala bentuk keburukan dan melarang perbuatan yang dapat merugikan kepentingan orang lain. Rasulullah Saw mengatakan bahwa malu adalah bagian dari iman, sebagaimana sabdanya, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh satu sampai tujuh puluh sembilan, atau enam puluh satu sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah ucapan: La Ilaaha Illa Allah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan barang berbahaya dari jalanan, dan malu itu adalah cabang dari iman.” (Muttafaqun ‘Alaih).
Seorang muslim yang jujur dan benar-benar bertaqwa kepada Allah Swt akan selalu memiliki rasa malu. Dia tidak akan pernah melakukan sesuatu perbuatan buruk yang dapat menyakiti orang lain serta tidak akan berupaya untuk mengurangi atau melanggar hak-hak orang lain.
Malu menjadi semacam perisai penghalang bagi seorang muslim untuk melakukan perbuatan dosa, sehingga dia akan terhindar dari ancaman api neraka. Maka dari itu, seorang muslim seyogyanya tidak hanya malu kepada sesama manusia, tetapi lebih jauh dari itu adalah malu kepada Allah Swt. Malu kepada Allah Swt harus lebih didahulukan dari pada malu kepada manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar