Ajari Anak Anda dengan Kasih dan Cinta!
Sebentar lagi tahun ajaran baru kembali datang. Orang tua mulai sibuk mencari sekolah terbaik buat anaknya. Bagi mereka yang memiliki kecupukan ekonomi tentu hal ini bukan masalah, tetapi bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan, tahun ajaran baru seringkali dihadapi dengan kening berkerut. Mereka bingung dari mana uang akan diperoleh untuk membayar sekolah.
Menyayangi anak dengan mencarikan sekolah yang terbaik buatnya sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang tua. Semua orang tua pasti akan dengan ikhlas bekerja keras demi anak-anaknya, sebab anak bagi mereka adalah sumber kebahagiaan dan pandangan yang menyenangkan.
Sebagian besar orang tua akan menjadikan anaknya sebagai tumpahan harapan di masa depan. Sejak awal sudah terbayang olehnya kebahagiaan kelak setelah anak-anaknya dewasa. Sebab keberhasilan mengantarkan anak sukses di masa depan adalah kebahagiaan bagi orang tua.
Keberhasilan seorang anak di masa depan tentu tergantung kepada pendidikan yang diperolehnya, tidak hanya pendidikan formal di sekolah-sekolah, tetapi yang jauh lebih penting adalah pendidikan di rumah. Orang tua adalah pendidik terbaik bagi anak-anaknya, terutama dalam pembentukan karakter yang baik.
Penanaman karakter yang baik adalah bagian terpenting dalam sebuah proses pendidikan. Dalam Islam diajarkan bahwa sejak dini seorang anak seyogyanya telah ditanamkan nilai-nilai ketuhanan, sehingga kelak akan menjadi seorang saleh dan taat kepada Allah Swt. Dengan demikian, dari dalam diri sang anak akan muncul unsur-unsur kebaikan dan sumber-sumber kebahagiaaan. Sosok anak yang demikianlah yang disebut sebagai perhiasan dunia, sebagaimana firman-Nya, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (Al-Kahfi: 46).
Oleh sebab itu, di tengah arus modernisasi yang ‘serba boleh’ ini, orang tua harus memberikan perhatian ekstra terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam diri anak-anaknya yang seringkali berasal dari sumber-sumber yang tidak benar. Orang tua harus menjadikan Islam sebagai rujukan utama dalam mendidik anak-anaknya, sebab jika tidak anak-anak mereka akan mengalami kebimbangan hingga terperosok ke dalam jurang kehancuran. Mengabaikan pendidikan anak berarti menjadikan mereka sebagai sumber bencana, malapetaka, dan kesengsaraan.
Seorang muslim yang benar-benar memahami ajaran Islam akan menyadari tanggung jawabnya yang besar terhadap anak-anaknya, karena dia senantiasa memperhatikan apa yang telah difirmankan Allah Swt, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6).
Dengan tuntutan tanggung jawab yang besar tersebut, Islam mewajibkan orang tua untuk memberikan perhatian penuh kepada pendidikan keislaman bagi anak-anaknya. Orang tua bertanggung jawab dalam membentuk anaknya menjadi orang yang soleh, yang tegak di atas akhlak yang mulia.
Oleh sebab itu, rumah harus dijadikan sebagai tempat bagi pembentukan jiwa, akal, kebiasaan, kencenderungan dan kepribadian anak. Orang tua harus mampu memainkan peran sebagai guru sekaligus teladan yang baik bagi anak-anaknya agar rumah sebagai tempat pendidikan pertama dan terbaik dapat menjalankan fungsinya dengan secara maksimal. Pendidikan di rumah harus dilakukan secara seimbang, baik fisik, akal, maupun rohani.
Orang tua yang memahami ajaran Islam dengan baik akan mengetahui kondisi kejiwaan anak-anaknya, sehingga mereka akan memperlakukan anak-anaknya dengan baik dan lembut. Mereka akan mendidik dan membimbing anak-anaknya dengan cara-cara yang baik.
Mereka mencurahkan cinta kepada anak-anaknya dengan bermacam cara; mendekati dengan memperhatikan tingkat kemampuan intelektualitas dan waktu anak-anaknya, mencari tahu tempat bermainnya, bercanda, berbasa-basi, serta mengucapkan kata-kata yang menyenangkan dan menarik. Semua itu akan menambah rasa cinta dan sayang anak kepada orang tua. Mereka akan mendengarkan dan mengikuti bimbingan dan arahan orang tua dengan penuh semangat dan keseriusan, sehingga ketaatan yang mereka tunjukkan benar-benar bermuara dari hati yang paling dalam. Sebab ada perbedaan antara ketaatan yang bersumber dari hati dan berdasar atas cinta kasih, penghormatan, penghargaan dan kepercayaan, dengan ketaatan palsu yang berdasarkan kepada kekasaran, kekerasan, paksaan, dan ketidakhormatan. Ketaatan pertama merupakan ketaatan yang abadi, kuat dan membuahkan hasil, sedangkan ketaatan yang kedua adalah kekataatan temporer dan mandul, serta akan cepat seiring dengan hilangnya kekerasan, kekasaran, dan paksaan.
Sebagian orang mengira bahwa ketebukaan dan kedekatan pergaulan orang tua dengan anak-anaknya akan merusak wibawanya di hadapan mereka. Pandangan seperti ini jelas salah, karena yang demikian itu merupakan salah satu cara terbaik dalam mendidik anak yang sekarang ini diterapkan dalam sistem pendidikan modern, padahal hal itu telah dilakukan oleh Rasulullah Saw sejak lima belas abad silam baik melalui ucapan maupun perbuatannya.
Kasih sayang adalah sifat Islami yang paling mendasar, yang terpancarkan dari kepribadian Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Anas ra menceritakan, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih sayang kepada keluarnya selain Rasulullah Saw. Pada saat Ibrahim hendak dicarikan wanita yang menyusuinya dari kalangan keluarga Madinah, beliau pergi dan kami bersamanya lalu beliau masuk ke suatu rumah dan menggendong Ibrahim dan menciumnya, dan kemudian pulang.” (H.R. Muslim)
Rasulullah Saw senantiasa menanamkan kelembutan dan kasih sayang kepada para pengikutnya. Kasih sayangnya semakin tampak ketika beliau sedang berhadapan dengan anak-anak, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas ra bahwa setiap kali Rasulullah Saw berjalan melewati anak-anak kecil beliau selalu tersenyum dan memberikan salam kepada mereka. (dari berbagai sumber)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar