Kamis, 24 Juni 2010

Belajar Tawaddu'

Belajar Tawadhu’ Dari Orang-orang Saleh
Menjadi orang tawadhu’memang tidak mudah, tetapi setidak-tidaknya kita bisa belajar dari orang-orang yang saleh. Ketahuilah bahwa musuh utama orang-orang tawadhu’ adalah kesombongan. Kesombongan bisa tampak dari berbagai perilaku, seperti memalingkan wajah, memicingkan mata, menundukkan kepala, cara duduk, hingga intonasi suara.
Dalam buku Intisari Ihya Ulumuddin karangan Sayid Hawwa disebutkan bahwa seorang yang tawadhu’ akan selalu berusaha menghindari berbagai macam bentuk kesombongan. Diantara sikap sombong yang sering menyertai seseorang, khususnya orang-orang yang berkuasa adalah sebagai berikut: Pertama, keinginan agar orang-orang berdiri untuknya. Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Barangsiapa ingin melihat seorang lelaki dari penghuni neraka maka hendaklah dia melihat seorang lelaki yang tengah duduk tetapi di hadapannya ada orang-orang yang berdiri.” Anas ra berkata: “Tidak ada orang yang lebih mereka cintai ketimbang Rasulullah Saw. Sekalipun demikian apabila melihatnya, mereka tidak berdiri kepadanya karena mereka tahu kebenciannya terhadap hal tersebut.” (HR. Imam Tirmidzi).
Kedua, keinginan agar ketika dia berjalan didampingi atau diiringi oleh orang lain. Abu Darda berkata: “Seorang Hamba senantiasa bertambah jauh dari Allah Swt selagi dia berjalan dengan diiringi di belakangnya.” Orang-orang tidak bisa membedakan Abdur Rahman bin Auf daripada budaknya karena dia tidak membedakan dirinya dari mereka dalam bentuk lahiriah. Dalam riwayat lain disebutkan, orang-orang pernah berjalan di belakang Hasan Al-Bashri, lalu dia melarang mereka seraya berkata: “Janganlah keinginan ini ada di dalam hati seorang Hamba.”
Ketiga, tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah dengan tangannya sendiri. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Abdul Aziz kedatangan seorang tamu di rumahnya pada malam hari. Ketika itu dia sedang menulis dan lampunya hampir padam, lalu sang tamu bertanya: “Aku perbaiki lampu itu? Umar bin Abdul Aziz menjawab: “Menyuruh tamu adalah perbuatan yang tidak mulia.” Tamu itu berkata: “Aku bangunkan pembantu?” Umar berkata: “Dia baru saja tidur.” Kemudian Umar berdiri mengisi minyak lampu. Menyaksikan hal itu, sang tamu bertanya: “Kamu sendiri yang melakukan wahai Amirul Mukminin?” Umar menjawab: “Aku pergi dan kembali tetap saja Umar namanya, tidak ada sesuatu pun yang berkurang dariku! Sebaik-baik orang adalah orang yang tawadhu’ di sisi Allah Swt.
Keempat, merasa malu membawa barang kebutuhan rumah tangga ke rumah. Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Kesempurnaan seseorang tidak akan berkurang karena hanya dia membawa sesuatu untuk keluarganya. Dalam riwayat lain, Zaid bin Wahab berkata: “Aku pernah melihat Umar bin Khaththab keluar ke pasar sambil tangannya membawa susu dan memakai kain sarung yang bertambal sebanyak empat belas tambalan, sebagian tambalannya bahkan dari kulit. (disarikan dari Intisari Ihya Ulumuddin karangan Sayyid Hawwa)

Tidak ada komentar: