Kamis, 24 Juni 2010

Kesederhanaan Rasulullah

Kesederhanaan Rasulullah Saw
Menjadi penguasa di negeri ini memang enak. Semuanya disediakan oleh negara, mulai dari gaji yang besar hingga fasilitas kelas satu. Sayangnya, sebagian dari mereka belum juga merasa cukup. Mereka tergoda oleh kemewahan. Berbagai cara pun dilakukan, termasuk dengan melawan hukum. Maka terjadilah berbagai kasus korupsi yang membelit bangsa ini. Korupsi yang menyebabkan kemiskinan.
Pejabat masa kini belum juga belajar dari para pendahulunya. Pendiri bangsa ini adalah orang-orang yang hidup sederhana. Mereka bukanlah orang yang gampang tergoda oleh kemewahan. Bayangkan, Mohammad Natsir, seorang Perdana Menteri pada tahun 1950-an, suatu ketika menggunakan baju yang bertambal. Suatu sikap kesederhanaan yang sulit kita jumpai pada pemimpin saat ini.
Kesederhanaan Mohammad Natsir belumlah sebanding dengan keteladanan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sebagai pemimpin negara, seluruh rakyat tunduk terhadap kekuasaannya. Setiap saat, unta yang penuh dengan muatan barang-barang berharga tidak henti-hentinya datang kepada beliau. Berbagai perhiasan mewah seperti emas dan perak pun selalu terhampar di hadapan beliau. Namun beliau tidak pernah tergoda untuk menikmati itu semua. Harta-harta tersebut beliau bagikan kepada fakir miskin.
Kesederhanaan hidup Rasulullah Saw dapat kita lihat dari hidangan yang disediakan di tengah-tengah keluarganya. Makanan yang dihidangkan sangatlah sederhana, berbeda sekali dengan hidangan para raja atau orang-orang kaya yang ada pada masa itu. Aisyah RA mengungkapkan: “Keluarga Rasulullah Saw tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga beliau wafat.” (HR. Muslim)
Rasulullah Saw tidak pernah makan daging dengan roti kecuali ketika menjamu para tamu. Beliau juga tidak pernah makan hingga kenyang. Terbatasnya jumlah makanan, membuat beliau tidak memperoleh makanan yang cukup. Anas bin Malik mengungkapkan: “Rasulullah Saw tidak pernah makan siang dan makan malam dengan daging beserta roti kecuali bila menjamu para tamu.” (HR. At-Tirmidzi).
Suatu saat Rasulullah Saw bahkan tidak mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Beliau tertidur dalam keadaan lapar, karena tidak ada sesuap makanan pun yang mengganjal perutnya. Ibnu Abbas RA menuturkan: “Rasulullah Saw dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar selama beberapa malam berturut-turut. Mereka tidak mendapatkan hidangan untuk makan malam. Sedangkan jenis makanan yang sering mereka makan adalah roti yang terbuat dari gandum.” (HR. At-Tirmidzi)
Kesederhanaan hidup Rasulullah Saw bukanlah karena beliau tidak mempunyai harta. Beliau tidak ingin harta-harta yang dimilikinya membuat dirinya lalai kepada Allah Swt. Oleh sebab itu, harta-harta tersebut selalu beliau sedekahkan. Uqbag bin Al-Harist berkata: “Pada suatu hari Rasulullah Saw mengimami kami shalat Ashar. Seusai shalat beliau segera memasuki rumah, tidak lama kemudian beliau keluar kembali. Aku bertanya kepada beliau tentang perbuatan beliau itu. Beliau menjawab: “Aku tidak meninggalkan sebatang emas harta sedekah di rumah. Aku tidak ingin emas itu berada di tanganku sampai malam nanti. Karena itulah aku segera membagikannya.” (HR. Muslim)

Tidak ada komentar: