Kamis, 24 Juni 2010

Cara Rasulullah Memperlakukan Pekerja

Cara Rasulullah SAW Memperlakukan Pekerja

Masalah tenaga kerja acapkali menjadi isu nasional. Kita sering mendengar tenaga kerja Indonesia mengalami kekerasan di luar negeri. Mereka menjadi korban majikannya. Berbagai kekerasan mereka alami, mulai dari pemukulan, penyiksaan, hingga kekerasan seksual dan lain sebagainya.

Masalah tenaga kerja Indonesia tidak hanya terjadi di luar negeri tetapi juga di dalam negeri. Berbagai perlakuan buruk majikan (baca: pemilik perusahaan-red) dengan mudah dapat kita saksikan. Bentuknya sangat beragam, mulai dari upah yang rendah, jam kerja yang tidak jelas, perjanjian kerja yang memberatkan karyawan, hingga pemutusan hubungan kerja sepihak.

Majikan hendaknya meneladani Rasulullah SAW dalam meperlakukan para pekerjanya. Beliau adalah orang yang sangat menghargai pelayannya. Beliau menempatkan pelayan yang miskin lagi lemah pada kedudukan yang layak. Beliau mengukurnya dari sisi agama dan ketakwaannya, bukan dari sisi status sosial dan kedudukannya yang lemah. Anas bin Malik mengungkapkan, “Aku pernah menjadi pelayan Rasulullah SAW selama sepuluh tahun. Tidak pernah sama sekali beliau mengucapkan ‘hus’ kepadaku. Beliau tidak pernah membentakku terhadap sesuatu yang kukerjakan (dengan ucapan), ‘Mengapa engkau kerjakan begini!’ Dan tidak pula terhadap sesuatu yang tidak kukerjakan (dengan ucapan), ‘Mengapa tidak engkau kerjakan!” (HR. Muslim)

Pujian seorang pelayan terhadap majikannya adalah bukti bahwa sang majikan telah memperlakukannya dengan baik. Anas bin Malik mengungkapkan dengan tulus kekagumannya terhadap Rasulullah SAW sebagai seorang majikan. Beliau tidak pernah membentak dan memerintahnya. Sebaliknya beliau justru memberikan balasan yang setimpal, membuat bahagia perasaannya, menutupi kebutuhannya beserta keluarga, serta mendo’akannya.

Rasulullah SAW adalah orang yang senantiasa berlaku adil terhadap pelayannya. Beliau tidak pernah mengebiri hak kaum lemah yang berada di bawah tanggung jawabnya. Beliau memperlakukan mereka seperti layaknya saudara sendiri. “Mereka (para pelayan dan pekerja) adalah saudara kamu (seiman). Allah SWT menempatkan mereka di bawah kekuasaan kamu. Berilah mereka makanan yang biasa kamu makan, berikanlah mereka pakaian yang biasa kamu makan. Janganlah memberatkan mereka di luar batas kemampuan. Jika kamu memberikan sebuah tugas, bantulah mereka dalam melaksanakannya,” (HR. Muslim).

Tidak ada komentar: