Beberapa tahun yang lalu, almarhum mantan Ketua Umum PBNU dan Presiden Republik Indonesia ke-4 , K.H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur pernah melontarkan ucapan yang sangat kontroversial. Dia mewacanakan ucapan ‘salam’ sebaiknya diganti dengan ‘selamat pagi’. Pendapat ini tentu saja mendapat tentangan keras dari umat Islam, karena salam dalam ajaran Islam memiliki makna yang sangat dalam.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam sejumlah hadits, salam merupakan perkara yang tidak boleh dianggap remeh temeh. Seseorang yang senantiasa menebarkan salam akan menempati posisi yang amat mulia di sisi Allah Swt. Dia akan memperoleh posisi yang sangat tinggi kelak di dalam surga.
Dalam sebuah hadits dari Malik al-Asy’ariy ra disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya di dalam surge terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar. Allah Swt menyediakan surga ini bagi orang yang senang memberi makan orang lain, menyebarkan salam, dan shalat malam ketika manusia sedang tidur,” (H.R. Ibnu Hibban).
Menebarkan salam merupakan sarana yang sangat efektif untuk menjalin dan merekatkan persaudaraan antara sesama kaum muslimin (ukhuwah Islamiyah). Dengan salam kaum muslimin akan memiliki kesatuan identitas. Mereka akan saling menjaga dan tolong menolong tanpa melihat asal, suku, ras, dan warna kulit. Mereka dipersatukan oleh satu semangat, yaitu mengabdi kepada Allah Swt.
Salam merupakan hak seorang muslim terhadap muslim lainnya, meskipun keduanya tidak saling mengenal. Oleh sebab itu setiap muslim dianjurkan untuk memberikan salam jika dia bertemu dengan muslim yang lainnya. Bahkan Rasulullah Saw mewajibkan untuk menjawab salam dari sesama muslim.
Meski memiliki tempat yang sangat khusus dalam ajaran Islam, tetapi tradisi mengucapkan salam di kalangan kaum muslimin dewasa ini mulai terkikis. Sebagian orang lebih senang mengucapkan selamat pagi atau selamat siang dari pada salam karena takut dianggap kuno dan tidak modern. Sementara sebagian lainnya merasa aneh dan keheranan manakala seseorang mengucapkan salam kepadanya karena merasa tidak mengenal atau memiliki hubungan apapun dengan orang itu.
Salam semakin dilupakan kaum muslimin, sampai-sampai muncul wacana untuk menggantinya menjadi ucapan selamat pagi. Kondisi ini sungguh sangat ironis, karena Rasulullah Saw sangat menganjurkan kaum muslimin untuk menebarkan salam kepada siapa saja, baik yang dikenal maupun tidak.
Oleh sebab itu, kaum muslimin harus kembali membudayakan ucapan salam dan menjadikannya sebagai salah satu identitas keislaman. Dengan demikian, peringatan Rasulullah Saw yang mengatakan bahwa suatu saat ucapan salam itu hanya akan diucapkan oleh orang yang saling mengenal saja tidak akan segera terjadi dalam waktu dekat ini. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, “Diantara tanda-tanda kiamat adalah manakala ada seseorang mengucapkan salam kepada orang lain yang, tidak mengucapkan salam kepadanya kecuali kalau mengenalnya saja.” (H. R. Ahmad). (Naz/MI)
Rabu, 07 Juli 2010
Shidiq
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga, dan sesungguhnya seseorang berlaku jujur hingga ditulis di sisi Allah Swt sebagai orang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya kedustaan membawa kepada kemaksiatan dan kemaksiatan membawa ke neraka, dan sesungguhnya seseorang berlaku dusta hingga ditulis di sisi Allah Swt sebagai pendusta.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Shidiq menempati posisi yang sangat penting dalam ajaran Islam. Dalam sebuah riwayat disebutkan Ibnu Abbas pernah berkata, “Empat hal siapa yang berada padanya maka ia beruntung: shidiq, malu, akhlak yang baik dan bersyukur.
Shidiq ibarat kendaraan dalam suatu perjalanan. Dengan shidiq seseorang dapat mencapai puncak pencariannya, Allah Swt. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Sulaiman pernah berkata, “ Jadikanlah shidiq sebagai kendaraanmu, kebenaran sebagai pedangmu, dan Allah Swt sebagai puncak pencarianmu.”
Dalam buku Al-Mustakhlash fii-Tazkiyatil-Anfus, karangan Sa’id Hawwa, shidiq mencakup dalam enam aspek, yaitu: shidiq dalam perkataan, shidiq dalam niat dan kemauan, shidiq dalam tekad, shidiq dalam memenuhi tekad, shidiq dalam amal, dan shidiq dalam merealisasikan semua maqam yang ada pada ilmu tasawuf.
Pertama, shidiq dalam perkataan. Seseorang yang shidiq dalam bertutur kata akan senantiasa menjaga lisannya agar tidak berkata bohong. Dia tidak akan menyampaikan sesuatu kecuali kebenaran. Selain itu dia juga akan menepati ketika berjanji.
Kedua, shidiq dalam niat dan kemauan. Shidiq dalam konteks ini adalah bersihnya niat dari keinginan untuk meraih apapun kecuali ridha Allah Swt. Orang yang shidiq dalam niat dan kemauan akan senantiasa ikhlas menjalankan perintah Allah Swt.
Ketiga, shidiq dalam ‘azam (tekad). Orang yang shidiq dalam ‘azam adalah orang yang memiliki tekad yang sangat kuat untuk melakukan kebaikan. Dalam dirinya sama sekali tidak ada keraguan, sebagaimana Umar bin Khatthab ra pernah berkata, “Maju ke medan perang lalu tengkukku ditebas sungguh lebih akui sukai ketimbang aku memimpin masyarakat yang diantara mereka ada Abu Bakar ra Umar bin Khatthab menyampaikan tekadnya ini untuk menolak permintaan para sahabat yang memintanya menjadi pemimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah Saw. Umar menganggap Abu Bakar ra lebih pantas pantas menggantikan Rasulullah Saw sebagai amirul mukminin.
Keempat, shidiq dalam memenuhi tekad. Memiliki tekad yang kuat untuk melakukan suatu kebajikan tentu lebih mudah dari pada melaksanakannya. Ketika seseorang telah berada di dalam realitas yang sebenarnya dan ketika syahwatnya tidak mampu lagi dikendalikan maka dia akan melupakan tekadnya. Dia larut dalam kesesatan karena syahwatnya telah mendominasi seluruh hidup dan setiap aliran darahnya.
Kelima, shidiq dalam amal perbuatan. Orang yang shidiq dalam amal perbuatan adalah orang yang senantiasa bersungguh-sungguh melaksanakan niat dan tekadnya dalam kehidupan sehari-hari. Dia akan senantiasa berusaha untuk menyeleraskan situasi dan kondisi batinnya dengan yang tampak dalam lahiriahnya.
Keenam, shidiq dalam menjalankan maqam agama sebagaimana yang diajarkan oleh kaum sufi. Shidiq dalam konteks ini memiliki tingkatan yang paling tinggi, seperti shidiq dalam khauf, raja’, ta’zhim, zuhud, ridha, tawakkal, dan lain sebagainya.
Keenam kategori shidiq yang dijelaskan di atas harus dimiliki oleh umat Islam untuk menjadi pribadi yang paripurna. Tetapi tidak semua orang berlaku shidiq dalam setiap perkara. Mereka hanya berlaku shidiq pada sebagian perkara tetapi tidak demikian dalam perkara yang lain. Oleh sebab itu, seorang muslim yang mampu berlaku shidiq pada semua perkara menempati posisi yang amat mulia dan disebut shadiq. (Naz/MI)
Shidiq menempati posisi yang sangat penting dalam ajaran Islam. Dalam sebuah riwayat disebutkan Ibnu Abbas pernah berkata, “Empat hal siapa yang berada padanya maka ia beruntung: shidiq, malu, akhlak yang baik dan bersyukur.
Shidiq ibarat kendaraan dalam suatu perjalanan. Dengan shidiq seseorang dapat mencapai puncak pencariannya, Allah Swt. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Sulaiman pernah berkata, “ Jadikanlah shidiq sebagai kendaraanmu, kebenaran sebagai pedangmu, dan Allah Swt sebagai puncak pencarianmu.”
Dalam buku Al-Mustakhlash fii-Tazkiyatil-Anfus, karangan Sa’id Hawwa, shidiq mencakup dalam enam aspek, yaitu: shidiq dalam perkataan, shidiq dalam niat dan kemauan, shidiq dalam tekad, shidiq dalam memenuhi tekad, shidiq dalam amal, dan shidiq dalam merealisasikan semua maqam yang ada pada ilmu tasawuf.
Pertama, shidiq dalam perkataan. Seseorang yang shidiq dalam bertutur kata akan senantiasa menjaga lisannya agar tidak berkata bohong. Dia tidak akan menyampaikan sesuatu kecuali kebenaran. Selain itu dia juga akan menepati ketika berjanji.
Kedua, shidiq dalam niat dan kemauan. Shidiq dalam konteks ini adalah bersihnya niat dari keinginan untuk meraih apapun kecuali ridha Allah Swt. Orang yang shidiq dalam niat dan kemauan akan senantiasa ikhlas menjalankan perintah Allah Swt.
Ketiga, shidiq dalam ‘azam (tekad). Orang yang shidiq dalam ‘azam adalah orang yang memiliki tekad yang sangat kuat untuk melakukan kebaikan. Dalam dirinya sama sekali tidak ada keraguan, sebagaimana Umar bin Khatthab ra pernah berkata, “Maju ke medan perang lalu tengkukku ditebas sungguh lebih akui sukai ketimbang aku memimpin masyarakat yang diantara mereka ada Abu Bakar ra Umar bin Khatthab menyampaikan tekadnya ini untuk menolak permintaan para sahabat yang memintanya menjadi pemimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah Saw. Umar menganggap Abu Bakar ra lebih pantas pantas menggantikan Rasulullah Saw sebagai amirul mukminin.
Keempat, shidiq dalam memenuhi tekad. Memiliki tekad yang kuat untuk melakukan suatu kebajikan tentu lebih mudah dari pada melaksanakannya. Ketika seseorang telah berada di dalam realitas yang sebenarnya dan ketika syahwatnya tidak mampu lagi dikendalikan maka dia akan melupakan tekadnya. Dia larut dalam kesesatan karena syahwatnya telah mendominasi seluruh hidup dan setiap aliran darahnya.
Kelima, shidiq dalam amal perbuatan. Orang yang shidiq dalam amal perbuatan adalah orang yang senantiasa bersungguh-sungguh melaksanakan niat dan tekadnya dalam kehidupan sehari-hari. Dia akan senantiasa berusaha untuk menyeleraskan situasi dan kondisi batinnya dengan yang tampak dalam lahiriahnya.
Keenam, shidiq dalam menjalankan maqam agama sebagaimana yang diajarkan oleh kaum sufi. Shidiq dalam konteks ini memiliki tingkatan yang paling tinggi, seperti shidiq dalam khauf, raja’, ta’zhim, zuhud, ridha, tawakkal, dan lain sebagainya.
Keenam kategori shidiq yang dijelaskan di atas harus dimiliki oleh umat Islam untuk menjadi pribadi yang paripurna. Tetapi tidak semua orang berlaku shidiq dalam setiap perkara. Mereka hanya berlaku shidiq pada sebagian perkara tetapi tidak demikian dalam perkara yang lain. Oleh sebab itu, seorang muslim yang mampu berlaku shidiq pada semua perkara menempati posisi yang amat mulia dan disebut shadiq. (Naz/MI)
Langganan:
Komentar (Atom)