Rabu, 07 Juli 2010

Shidiq

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga, dan sesungguhnya seseorang berlaku jujur hingga ditulis di sisi Allah Swt sebagai orang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya kedustaan membawa kepada kemaksiatan dan kemaksiatan membawa ke neraka, dan sesungguhnya seseorang berlaku dusta hingga ditulis di sisi Allah Swt sebagai pendusta.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Shidiq menempati posisi yang sangat penting dalam ajaran Islam. Dalam sebuah riwayat disebutkan Ibnu Abbas pernah berkata, “Empat hal siapa yang berada padanya maka ia beruntung: shidiq, malu, akhlak yang baik dan bersyukur.
Shidiq ibarat kendaraan dalam suatu perjalanan. Dengan shidiq seseorang dapat mencapai puncak pencariannya, Allah Swt. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Sulaiman pernah berkata, “ Jadikanlah shidiq sebagai kendaraanmu, kebenaran sebagai pedangmu, dan Allah Swt sebagai puncak pencarianmu.”
Dalam buku Al-Mustakhlash fii-Tazkiyatil-Anfus, karangan Sa’id Hawwa, shidiq mencakup dalam enam aspek, yaitu: shidiq dalam perkataan, shidiq dalam niat dan kemauan, shidiq dalam tekad, shidiq dalam memenuhi tekad, shidiq dalam amal, dan shidiq dalam merealisasikan semua maqam yang ada pada ilmu tasawuf.
Pertama, shidiq dalam perkataan. Seseorang yang shidiq dalam bertutur kata akan senantiasa menjaga lisannya agar tidak berkata bohong. Dia tidak akan menyampaikan sesuatu kecuali kebenaran. Selain itu dia juga akan menepati ketika berjanji.
Kedua, shidiq dalam niat dan kemauan. Shidiq dalam konteks ini adalah bersihnya niat dari keinginan untuk meraih apapun kecuali ridha Allah Swt. Orang yang shidiq dalam niat dan kemauan akan senantiasa ikhlas menjalankan perintah Allah Swt.
Ketiga, shidiq dalam ‘azam (tekad). Orang yang shidiq dalam ‘azam adalah orang yang memiliki tekad yang sangat kuat untuk melakukan kebaikan. Dalam dirinya sama sekali tidak ada keraguan, sebagaimana Umar bin Khatthab ra pernah berkata, “Maju ke medan perang lalu tengkukku ditebas sungguh lebih akui sukai ketimbang aku memimpin masyarakat yang diantara mereka ada Abu Bakar ra Umar bin Khatthab menyampaikan tekadnya ini untuk menolak permintaan para sahabat yang memintanya menjadi pemimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah Saw. Umar menganggap Abu Bakar ra lebih pantas pantas menggantikan Rasulullah Saw sebagai amirul mukminin.
Keempat, shidiq dalam memenuhi tekad. Memiliki tekad yang kuat untuk melakukan suatu kebajikan tentu lebih mudah dari pada melaksanakannya. Ketika seseorang telah berada di dalam realitas yang sebenarnya dan ketika syahwatnya tidak mampu lagi dikendalikan maka dia akan melupakan tekadnya. Dia larut dalam kesesatan karena syahwatnya telah mendominasi seluruh hidup dan setiap aliran darahnya.
Kelima, shidiq dalam amal perbuatan. Orang yang shidiq dalam amal perbuatan adalah orang yang senantiasa bersungguh-sungguh melaksanakan niat dan tekadnya dalam kehidupan sehari-hari. Dia akan senantiasa berusaha untuk menyeleraskan situasi dan kondisi batinnya dengan yang tampak dalam lahiriahnya.
Keenam, shidiq dalam menjalankan maqam agama sebagaimana yang diajarkan oleh kaum sufi. Shidiq dalam konteks ini memiliki tingkatan yang paling tinggi, seperti shidiq dalam khauf, raja’, ta’zhim, zuhud, ridha, tawakkal, dan lain sebagainya.
Keenam kategori shidiq yang dijelaskan di atas harus dimiliki oleh umat Islam untuk menjadi pribadi yang paripurna. Tetapi tidak semua orang berlaku shidiq dalam setiap perkara. Mereka hanya berlaku shidiq pada sebagian perkara tetapi tidak demikian dalam perkara yang lain. Oleh sebab itu, seorang muslim yang mampu berlaku shidiq pada semua perkara menempati posisi yang amat mulia dan disebut shadiq. (Naz/MI)

Tidak ada komentar: