Rabu, 07 Juli 2010

Salam

Beberapa tahun yang lalu, almarhum mantan Ketua Umum PBNU dan Presiden Republik Indonesia ke-4 , K.H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur pernah melontarkan ucapan yang sangat kontroversial. Dia mewacanakan ucapan ‘salam’ sebaiknya diganti dengan ‘selamat pagi’. Pendapat ini tentu saja mendapat tentangan keras dari umat Islam, karena salam dalam ajaran Islam memiliki makna yang sangat dalam.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam sejumlah hadits, salam merupakan perkara yang tidak boleh dianggap remeh temeh. Seseorang yang senantiasa menebarkan salam akan menempati posisi yang amat mulia di sisi Allah Swt. Dia akan memperoleh posisi yang sangat tinggi kelak di dalam surga.
Dalam sebuah hadits dari Malik al-Asy’ariy ra disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya di dalam surge terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar. Allah Swt menyediakan surga ini bagi orang yang senang memberi makan orang lain, menyebarkan salam, dan shalat malam ketika manusia sedang tidur,” (H.R. Ibnu Hibban).
Menebarkan salam merupakan sarana yang sangat efektif untuk menjalin dan merekatkan persaudaraan antara sesama kaum muslimin (ukhuwah Islamiyah). Dengan salam kaum muslimin akan memiliki kesatuan identitas. Mereka akan saling menjaga dan tolong menolong tanpa melihat asal, suku, ras, dan warna kulit. Mereka dipersatukan oleh satu semangat, yaitu mengabdi kepada Allah Swt.
Salam merupakan hak seorang muslim terhadap muslim lainnya, meskipun keduanya tidak saling mengenal. Oleh sebab itu setiap muslim dianjurkan untuk memberikan salam jika dia bertemu dengan muslim yang lainnya. Bahkan Rasulullah Saw mewajibkan untuk menjawab salam dari sesama muslim.
Meski memiliki tempat yang sangat khusus dalam ajaran Islam, tetapi tradisi mengucapkan salam di kalangan kaum muslimin dewasa ini mulai terkikis. Sebagian orang lebih senang mengucapkan selamat pagi atau selamat siang dari pada salam karena takut dianggap kuno dan tidak modern. Sementara sebagian lainnya merasa aneh dan keheranan manakala seseorang mengucapkan salam kepadanya karena merasa tidak mengenal atau memiliki hubungan apapun dengan orang itu.
Salam semakin dilupakan kaum muslimin, sampai-sampai muncul wacana untuk menggantinya menjadi ucapan selamat pagi. Kondisi ini sungguh sangat ironis, karena Rasulullah Saw sangat menganjurkan kaum muslimin untuk menebarkan salam kepada siapa saja, baik yang dikenal maupun tidak.
Oleh sebab itu, kaum muslimin harus kembali membudayakan ucapan salam dan menjadikannya sebagai salah satu identitas keislaman. Dengan demikian, peringatan Rasulullah Saw yang mengatakan bahwa suatu saat ucapan salam itu hanya akan diucapkan oleh orang yang saling mengenal saja tidak akan segera terjadi dalam waktu dekat ini. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, “Diantara tanda-tanda kiamat adalah manakala ada seseorang mengucapkan salam kepada orang lain yang, tidak mengucapkan salam kepadanya kecuali kalau mengenalnya saja.” (H. R. Ahmad). (Naz/MI)

Tidak ada komentar: