Pendidikan
merupakan bagian terpenting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia
dengan makhluk hidup lainnya. Menurut Paulo Freire, pendidikan adalah proses
memanusiakan manusia, sedangkan John Dewey mengatakan bahwa pendidikan adalah
proses yang dilakukan agar ada perubahan dalam masyarakat.
Dapat
dikatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses transfer dan pencarian nilai
yang terjadi di level individu maupun masyarakat yang mengarah kepada perubahan
kondisi ke arah yang lebih baik. Pendidikan sejatinya adalah proses yang mengantarkan manusia pada hakikat dirinya sendiri. Mendidik
lebih bersifat kegiatan jangka panjang. Hasilnya tidak dapat dilihat dalam
waktu dekat atau secara instan. Pendidikan merupakan kegiatan integratif antara olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan
tingkat penalaran peserta didik.
Mendidik: Transfer Knowledge dan Transfer Values
Tidak semua pendidik (baca: guru) mampu
mendidik walaupun ia pandai mengajar. Untuk menjadi pendidik sejati seseorang tidak cukup hanya menguasai materi dan memiliki keterampilan mengajar saja. Ia perlu memahami dasar-dasar agama dan norma-norma dalam masyarakat agar ketika mengajar ia mampu menghubungkan materi yang disampaikannya dengan
sikap dan keperibadiaan yang harus tumbuh dan sesuai
dengan ajaran agama dan norma-norma yang hidup dalam
masyarakat.
Seorang pendidik memiliki peran sentral dalam proses pendidikan. Ia tidak
hanya berkewajiban melakukan transfer ilmu pengetahuan (knowledge)
saja, tetapi juga melakukan transfer nilai (values). Menjalankan kedua peran ini tentu bukanlah perkara yang mudah. Oleh karena itu, setiap tenaga pendidik harus
memiliki pemahaman agama yang baik dan moralitas yang tinggi, disamping keterampilan
mengajar yang prima.
Transfer ilmu pengetahuan dapat
dilakukan secara sederhana
dengan
memberikan penjelasan, keterangan yang menarik, dan contoh-contoh konkrit yang
sederhana. Transfer
ilmu pengetahuan dianggap sudah berhasil jika peserta didik telah memahami
teori-teori yang diajarkan, atau setelah mereka mengalami perubahan secara
kognitif, dari ‘tidak tahu’ menjadi ‘tahu’.
Sementara transfer nilai
membutuhkan waktu yang lebih lama dan proses yang agak rumit. Sebuah nilai baru
akan ‘hidup’ dalam diri seorang peserta didik jika ia telah mengalami
nilai-nilai yang diajarkan tersebut secara berulang-ulang dalam konteks
kehidupan yang nyata. Transfer
nilai tidak bisa dilakukan dengan menghafal konsep-konsep nilai itu saja,
tetapi perlu mengalaminya secara langsung dengan melibatkan seluruh aspek yang
ada pada diri setiap peserta didik, baik itu aspek kognitif, aspek afektif,
maupun aspek psikomotorik. Oleh sebab itu, transfer nilai membutuhkan suatu
proses yang melibatkan pengalaman seluruh anggota komunitas, mulai dari
sekolah, anggota keluarga, hingga lingkungan masyarakat dan bahkan negara.
Formulasi
Pendidikan Islam
Pendidikan dalam Islam memainkan
peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan generasi muda dalam menghadapi
masa depan. Islam menyebut pendidikan sebagai
sebuah proses pemberdayaan manusia untuk membangun suatu peradaban yang
bermuara pada terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang sejahtera lahir dan
batin.
Pendidikan dalam Islam harus mampu menyelenggarakan
proses pembekalan pengetahuan, penenaman nilai, pembentukan sikap dan karakter,
pengembangan bakat, kemampuan dan keterampilan, menumbuhkembangkan potensi
akal, jasmani dan rohani yang optimal, seimbang dan sesuai dengan tuntutan dan
perkembangan zaman. Oleh karena itu, pendidikan Islam memikul amanah yang sangat berat agar manusia dapat menjalankan tugas
dan fungsinya sebagai khalifah di permukaan bumi.
Makna pendidikan yang paling hakiki menurut Islam adalah proses membina
seluruh potensi manusia agar menjadi makhluk yang beriman, berpikir, dan dapat
berkarya untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mampu menjadi garda terdepan dalam menyelenggarakan
pendidikan yang berkualitas agar mampu membentuk kepribadian peserta didik yang
sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.
Pendidikan
Islam menghendaki pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh secara
seimbang, melalui latihan jiwa, intelektual, rasionalitas, perasaan dan indera.
Pendidikan Islam mendorong pertumbuhan manusia dalam segala aspek; spiritual,
intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah dan bahasa baik secara individu maupun
kolektif. Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk individu-individu paripurna
dan tunduk pada ajaran Allah Swt.
Dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan
Islam adalah untuk mengembangkan
seluruh aspek yang dimiliki oleh manusia, baik itu aspek kognitif, afektif
maupun konatif. Ketiga
aspek penting pendidikan ini ternyata memiliki korelasi yang
erat dengan tiga konsep fundamental dalam Islam yaitu Iman, Ihsan dan Islam. Pengetahuan kognitif harus tunduk
kepada Iman, aspek afektif harus dibimbing oleh Ihsan, dan konatif harus
sejalan dengan Islam. Komposisi Iman-Kognitif, Ihsan-Afektif dan
Islam-Konatif ini harus
menjadi landasan dalam mengembangkan pendidikan Islam.
Komposisi Iman-kognitif,
artinya Islam mengajarkan setiap muslim agar memiliki pengetahuan untuk
meyakini sesuatu. Islam melarang ummatnya mempercayai sesuatu tanpa pengetahuan
yang benar dan dari sumber yang dapat dipercaya. Dalam surat Al-Hajj ayat 3 Allah Swt
berfirman, “Di antara manusia ada orang
yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan
yang sangat jahat.”
Dalam
surat Luqman ayat 20 Allah Swt juga
berfirman, “Tidakkah kamu
perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang
di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmatnya lahir dan
batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa
ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”
Islam
mengajarkan bahwa sebagai perwujudan
pengabdian kepada Allah Swt, setiap
aktifitas manusia haruslah dilandasi dengan pengetahuan yang benar dan
dari sumber yang akurat. Oleh sebab itu pendidikan dalam Islam diarahkan untuk
mengembangkan daya nalar yang dituntun oleh nilai-nilai tauhid. Pengenalan
pertama di mulai dengan mengenal Allah Swt, melalui nama dan sifat-sifat-Nya. Daya nalar ini berguna
bagi manusia untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Daya nalar
yang benar dan murni tidak bertentangan dengan konsep Al-Qur’an.
Komposisi
Ihsan dan afektif dapat
dipahami dengan melihat bahwa pengembangan unsur Ihsan dalam pribadi muslim
menggunakan daya imajinasi yang tertuntun oleh nilai-nilai tauhid. Pribadi
muslim dapat merasakan kehadiran Allah Swt, melalui penghayatan yang
diperolehnya dari kerja intuisi di dalam dirinya. Dengan demikian, seluruh dorongan dan
perasaan yang ada di dalam dirinya tertuntun oleh adab-adab yang dibolehkan, dan diatur dalam Al-Qur’an.
Sementara,
nilai-nilai afektif yang dikembangkan dari psikologi pendidikan Barat, baru
sampai pada tataran nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, pendekatan filsafat humanis yang banyak
dijadikan landasan dalam psikologi pendidikan Barat tidak untuk dijadikan
sebagai landasan psikologi pendidikan Islam. Dimensi afektif dalam Islam
memiliki dua garis, yaitu horizontal dan vertikal. Garis horizontal
menghubungkan manusia dan alam, sementara garis vertikal menghubungkan manusia dengan Allah Swt.
Dimensi afektif dalam perspektif Islam memiliki cakupan yang lebih luas.
Kontrol terhadap diri manusia yang telah ditanamkan dalam nilai-nilai keimanan,
membuat manusia mampu merasakan adanya Allah Swt dalam setiap dimensi aktifitas
manusia. Dimensi afektif dalam Islam tidak hanya bermuara pada sisi humanis
saja tetapi juga berdimensi tauhid.
Namun
dalam implementasi pendidikan saat ini, dimensi afektif hanya sampai pada
tataran hubungan baik sesama manusia. Meski pada taraf pengetahuan hal ini
tidak terlalu berarti, namun jika ini menjadi paradigma berpikir yang menganggap bahwa kebaikan
hanya semata bermuara pada kemanusiaan, maka lambat laun dimensi nilai-nilai
tauhid akan tereduksi. Bahaya dari pendidikan humanis ini semacam ini adalah
tidak dimasukkannya unsur Ilahiah yang merupakan pokok ajaran Islam dalam
membangun pribadi muslim.
Humanisme
menganggap manusialah yang merupakan sumber tertinggi dari semua nilai yang
diembannya. Akibat pemahaman semacam ini manusia menjadi sewenang-wenang
terhadap manusia dan alam itu sendiri. Dalam banyak kasus, terlihat sisi ambigu
dari humanisme. Satu
sisi menegakkan keadilan hak asasi manusia, tetapi di sisi lain membunuh banyak manusia demi menegakkan keadilan hak
asasi manusia itu sendiri.
Konatif adalah aspek
implementasi atau perbuatan seseorang yang dihasilkan berdasarkan serangkaian
pengetahuan, pemahaman dan penghayatannya.
Komposisi Islam dan konatif bertujuan agar aktifitas atau implementasi seseorang selalu mengacu pada
nilai-nilai Islam. Islam disini dimaknai sebagai perilaku-perilaku Islami.
Namun
karena pendidikan saat ini lebih menggunakan paradigma Barat yang hanya
mengenal dua kutub, yakni akal dan jasmani dan mengeluarkan aspek ruhaniah dari
pandangannya, maka lahirlah orang-orang terdidik tetapi kurang secara moralitas.
Oleh karena itu, harus ada upaya untuk mengintegrasikan Imam-Kognitif,
Ihsan-Afektif dan Islam-Konatif agar pendidikan Islam dapat mencapai tujuan
hakikinya, yaitu membentuk manusia yang terbaik (insan kamil) dan tunduk kepada Allah Swt.