Senin, 17 Juni 2013

Menggagas Pendidikan Islami


Pendidikan merupakan bagian terpenting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Menurut Paulo Freire, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, sedangkan John Dewey mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang dilakukan agar ada perubahan dalam masyarakat.
Dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses transfer dan pencarian nilai yang terjadi di level individu maupun masyarakat yang mengarah kepada perubahan kondisi ke arah yang lebih baik. Pendidikan sejatinya adalah proses yang mengantarkan manusia pada hakikat dirinya sendiri. Mendidik lebih bersifat kegiatan jangka panjang. Hasilnya tidak dapat dilihat dalam waktu dekat atau secara instan. Pendidikan merupakan kegiatan integratif antara olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan tingkat penalaran peserta didik.

Mendidik: Transfer Knowledge dan Transfer Values
Tidak semua pendidik (baca: guru) mampu mendidik walaupun ia pandai mengajar. Untuk menjadi pendidik sejati seseorang tidak cukup hanya menguasai materi dan memiliki keterampilan mengajar saja. Ia perlu memahami dasar-dasar agama dan norma-norma dalam masyarakat agar ketika mengajar ia mampu menghubungkan materi yang disampaikannya dengan sikap dan keperibadiaan yang harus tumbuh dan sesuai dengan ajaran agama dan norma-norma yang hidup dalam masyarakat.
Seorang pendidik memiliki peran sentral dalam proses pendidikan. Ia tidak hanya berkewajiban melakukan transfer ilmu pengetahuan (knowledge) saja, tetapi juga melakukan transfer nilai (values). Menjalankan kedua peran ini tentu bukanlah perkara yang mudah. Oleh karena itu, setiap tenaga pendidik harus memiliki pemahaman agama yang baik dan moralitas yang tinggi, disamping keterampilan mengajar yang prima.
Transfer ilmu pengetahuan dapat dilakukan secara sederhana dengan memberikan penjelasan, keterangan yang menarik, dan contoh-contoh konkrit yang sederhana. Transfer ilmu pengetahuan dianggap sudah berhasil jika peserta didik telah memahami teori-teori yang diajarkan, atau setelah mereka mengalami perubahan secara kognitif, dari ‘tidak tahu’ menjadi ‘tahu’.
Sementara transfer nilai membutuhkan waktu yang lebih lama dan proses yang agak rumit. Sebuah nilai baru akan ‘hidup’ dalam diri seorang peserta didik jika ia telah mengalami nilai-nilai yang diajarkan tersebut secara berulang-ulang dalam konteks kehidupan yang nyata. Transfer nilai tidak bisa dilakukan dengan menghafal konsep-konsep nilai itu saja, tetapi perlu mengalaminya secara langsung dengan melibatkan seluruh aspek yang ada pada diri setiap peserta didik, baik itu aspek kognitif, aspek afektif, maupun aspek psikomotorik. Oleh sebab itu, transfer nilai membutuhkan suatu proses yang melibatkan pengalaman seluruh anggota komunitas, mulai dari sekolah, anggota keluarga, hingga lingkungan masyarakat dan bahkan negara.

Formulasi Pendidikan Islam
Pendidikan dalam Islam memainkan peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan generasi muda dalam menghadapi masa depan. Islam menyebut pendidikan sebagai sebuah proses pemberdayaan manusia untuk membangun suatu peradaban yang bermuara pada terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin.
Pendidikan dalam Islam harus mampu menyelenggarakan proses pembekalan pengetahuan, penenaman nilai, pembentukan sikap dan karakter, pengembangan bakat, kemampuan dan keterampilan, menumbuhkembangkan potensi akal, jasmani dan rohani yang optimal, seimbang dan sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Oleh karena itu, pendidikan Islam memikul amanah yang sangat berat agar manusia dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai khalifah di permukaan bumi.
Makna pendidikan yang paling hakiki menurut Islam adalah proses membina seluruh potensi manusia agar menjadi makhluk yang beriman, berpikir, dan dapat berkarya untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mampu menjadi garda terdepan dalam menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas agar mampu membentuk kepribadian peserta didik yang sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.
Pendidikan Islam menghendaki pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang, melalui latihan jiwa, intelektual, rasionalitas, perasaan dan indera. Pendidikan Islam mendorong pertumbuhan manusia dalam segala aspek; spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah dan bahasa baik secara individu maupun kolektif. Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk individu-individu paripurna dan tunduk pada ajaran Allah Swt.
Dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah untuk mengembangkan seluruh aspek yang dimiliki oleh manusia, baik itu aspek kognitif, afektif maupun konatif. Ketiga aspek penting pendidikan ini ternyata memiliki korelasi yang erat dengan tiga konsep fundamental dalam Islam yaitu Iman, Ihsan dan Islam. Pengetahuan kognitif harus tunduk kepada Iman, aspek afektif harus dibimbing oleh Ihsan, dan konatif harus sejalan dengan Islam. Komposisi  Iman-Kognitif, Ihsan-Afektif dan Islam-Konatif ini harus menjadi landasan dalam mengembangkan pendidikan Islam.
Komposisi Iman-kognitif, artinya Islam mengajarkan setiap muslim agar memiliki pengetahuan untuk meyakini sesuatu. Islam melarang ummatnya mempercayai sesuatu tanpa pengetahuan yang benar dan dari sumber yang dapat dipercaya.  Dalam surat Al-Hajj ayat 3 Allah Swt berfirman, “Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat.”
Dalam surat Luqman ayat 20 Allah Swt juga berfirman, “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmatnya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”
Islam mengajarkan bahwa sebagai perwujudan pengabdian kepada Allah Swt, setiap aktifitas manusia haruslah dilandasi dengan pengetahuan yang benar dan dari sumber yang akurat. Oleh sebab itu pendidikan dalam Islam diarahkan untuk mengembangkan daya nalar yang dituntun oleh nilai-nilai tauhid. Pengenalan pertama di mulai dengan mengenal Allah Swt, melalui nama dan sifat-sifat-Nya. Daya nalar ini berguna bagi manusia untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Daya nalar yang benar dan murni tidak bertentangan dengan konsep Al-Qur’an.
Komposisi Ihsan dan afektif dapat dipahami dengan melihat bahwa pengembangan unsur Ihsan dalam pribadi muslim menggunakan daya imajinasi yang tertuntun oleh nilai-nilai tauhid. Pribadi muslim dapat merasakan kehadiran Allah Swt, melalui penghayatan yang diperolehnya dari kerja intuisi di dalam dirinya. Dengan demikian, seluruh dorongan dan perasaan yang ada di dalam dirinya tertuntun oleh adab-adab  yang dibolehkan, dan diatur dalam Al-Qur’an.
Sementara, nilai-nilai afektif yang dikembangkan dari psikologi pendidikan Barat, baru sampai pada tataran nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, pendekatan filsafat humanis yang banyak dijadikan landasan dalam psikologi pendidikan Barat tidak untuk dijadikan sebagai landasan psikologi pendidikan Islam. Dimensi afektif dalam Islam memiliki dua garis, yaitu horizontal dan vertikal. Garis horizontal menghubungkan manusia dan alam, sementara garis vertikal menghubungkan manusia dengan Allah Swt. Dimensi afektif dalam perspektif Islam memiliki cakupan yang lebih luas. Kontrol terhadap diri manusia yang telah ditanamkan dalam nilai-nilai keimanan, membuat manusia mampu merasakan adanya Allah Swt dalam setiap dimensi aktifitas manusia. Dimensi afektif dalam Islam tidak hanya bermuara pada sisi humanis saja tetapi juga berdimensi tauhid.
Namun dalam implementasi pendidikan saat ini, dimensi afektif hanya sampai pada tataran hubungan baik sesama manusia. Meski pada taraf pengetahuan hal ini tidak terlalu berarti, namun jika ini menjadi paradigma berpikir yang menganggap bahwa kebaikan hanya semata bermuara pada kemanusiaan, maka lambat laun dimensi nilai-nilai tauhid akan tereduksi. Bahaya dari pendidikan humanis ini semacam ini adalah tidak dimasukkannya unsur Ilahiah yang merupakan pokok ajaran Islam dalam membangun pribadi muslim.
Humanisme menganggap manusialah yang merupakan sumber tertinggi dari semua nilai yang diembannya. Akibat pemahaman semacam ini manusia menjadi sewenang-wenang terhadap manusia dan alam itu sendiri. Dalam banyak kasus, terlihat sisi ambigu dari humanisme. Satu sisi menegakkan keadilan hak asasi manusia, tetapi di sisi lain membunuh banyak manusia demi menegakkan keadilan hak asasi manusia itu sendiri.
Konatif adalah aspek implementasi atau perbuatan seseorang yang dihasilkan berdasarkan serangkaian pengetahuan, pemahaman dan penghayatannya. Komposisi Islam dan konatif bertujuan agar aktifitas atau implementasi seseorang selalu mengacu pada nilai-nilai Islam. Islam disini dimaknai sebagai perilaku-perilaku Islami. 
Namun karena pendidikan saat ini lebih menggunakan paradigma Barat yang hanya mengenal dua kutub, yakni akal dan jasmani dan mengeluarkan aspek ruhaniah dari pandangannya, maka lahirlah orang-orang terdidik tetapi kurang secara moralitas. Oleh karena itu, harus ada upaya untuk mengintegrasikan Imam-Kognitif, Ihsan-Afektif dan Islam-Konatif agar pendidikan Islam dapat mencapai tujuan hakikinya, yaitu membentuk manusia yang terbaik (insan kamil) dan tunduk kepada Allah Swt.

Tidak ada komentar: