Senin, 17 Juni 2013

Menggagas Pendidikan Islami


Pendidikan merupakan bagian terpenting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Menurut Paulo Freire, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, sedangkan John Dewey mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang dilakukan agar ada perubahan dalam masyarakat.
Dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses transfer dan pencarian nilai yang terjadi di level individu maupun masyarakat yang mengarah kepada perubahan kondisi ke arah yang lebih baik. Pendidikan sejatinya adalah proses yang mengantarkan manusia pada hakikat dirinya sendiri. Mendidik lebih bersifat kegiatan jangka panjang. Hasilnya tidak dapat dilihat dalam waktu dekat atau secara instan. Pendidikan merupakan kegiatan integratif antara olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan tingkat penalaran peserta didik.

Mendidik: Transfer Knowledge dan Transfer Values
Tidak semua pendidik (baca: guru) mampu mendidik walaupun ia pandai mengajar. Untuk menjadi pendidik sejati seseorang tidak cukup hanya menguasai materi dan memiliki keterampilan mengajar saja. Ia perlu memahami dasar-dasar agama dan norma-norma dalam masyarakat agar ketika mengajar ia mampu menghubungkan materi yang disampaikannya dengan sikap dan keperibadiaan yang harus tumbuh dan sesuai dengan ajaran agama dan norma-norma yang hidup dalam masyarakat.
Seorang pendidik memiliki peran sentral dalam proses pendidikan. Ia tidak hanya berkewajiban melakukan transfer ilmu pengetahuan (knowledge) saja, tetapi juga melakukan transfer nilai (values). Menjalankan kedua peran ini tentu bukanlah perkara yang mudah. Oleh karena itu, setiap tenaga pendidik harus memiliki pemahaman agama yang baik dan moralitas yang tinggi, disamping keterampilan mengajar yang prima.
Transfer ilmu pengetahuan dapat dilakukan secara sederhana dengan memberikan penjelasan, keterangan yang menarik, dan contoh-contoh konkrit yang sederhana. Transfer ilmu pengetahuan dianggap sudah berhasil jika peserta didik telah memahami teori-teori yang diajarkan, atau setelah mereka mengalami perubahan secara kognitif, dari ‘tidak tahu’ menjadi ‘tahu’.
Sementara transfer nilai membutuhkan waktu yang lebih lama dan proses yang agak rumit. Sebuah nilai baru akan ‘hidup’ dalam diri seorang peserta didik jika ia telah mengalami nilai-nilai yang diajarkan tersebut secara berulang-ulang dalam konteks kehidupan yang nyata. Transfer nilai tidak bisa dilakukan dengan menghafal konsep-konsep nilai itu saja, tetapi perlu mengalaminya secara langsung dengan melibatkan seluruh aspek yang ada pada diri setiap peserta didik, baik itu aspek kognitif, aspek afektif, maupun aspek psikomotorik. Oleh sebab itu, transfer nilai membutuhkan suatu proses yang melibatkan pengalaman seluruh anggota komunitas, mulai dari sekolah, anggota keluarga, hingga lingkungan masyarakat dan bahkan negara.

Formulasi Pendidikan Islam
Pendidikan dalam Islam memainkan peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan generasi muda dalam menghadapi masa depan. Islam menyebut pendidikan sebagai sebuah proses pemberdayaan manusia untuk membangun suatu peradaban yang bermuara pada terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin.
Pendidikan dalam Islam harus mampu menyelenggarakan proses pembekalan pengetahuan, penenaman nilai, pembentukan sikap dan karakter, pengembangan bakat, kemampuan dan keterampilan, menumbuhkembangkan potensi akal, jasmani dan rohani yang optimal, seimbang dan sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Oleh karena itu, pendidikan Islam memikul amanah yang sangat berat agar manusia dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai khalifah di permukaan bumi.
Makna pendidikan yang paling hakiki menurut Islam adalah proses membina seluruh potensi manusia agar menjadi makhluk yang beriman, berpikir, dan dapat berkarya untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mampu menjadi garda terdepan dalam menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas agar mampu membentuk kepribadian peserta didik yang sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.
Pendidikan Islam menghendaki pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang, melalui latihan jiwa, intelektual, rasionalitas, perasaan dan indera. Pendidikan Islam mendorong pertumbuhan manusia dalam segala aspek; spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah dan bahasa baik secara individu maupun kolektif. Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk individu-individu paripurna dan tunduk pada ajaran Allah Swt.
Dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah untuk mengembangkan seluruh aspek yang dimiliki oleh manusia, baik itu aspek kognitif, afektif maupun konatif. Ketiga aspek penting pendidikan ini ternyata memiliki korelasi yang erat dengan tiga konsep fundamental dalam Islam yaitu Iman, Ihsan dan Islam. Pengetahuan kognitif harus tunduk kepada Iman, aspek afektif harus dibimbing oleh Ihsan, dan konatif harus sejalan dengan Islam. Komposisi  Iman-Kognitif, Ihsan-Afektif dan Islam-Konatif ini harus menjadi landasan dalam mengembangkan pendidikan Islam.
Komposisi Iman-kognitif, artinya Islam mengajarkan setiap muslim agar memiliki pengetahuan untuk meyakini sesuatu. Islam melarang ummatnya mempercayai sesuatu tanpa pengetahuan yang benar dan dari sumber yang dapat dipercaya.  Dalam surat Al-Hajj ayat 3 Allah Swt berfirman, “Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat.”
Dalam surat Luqman ayat 20 Allah Swt juga berfirman, “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmatnya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”
Islam mengajarkan bahwa sebagai perwujudan pengabdian kepada Allah Swt, setiap aktifitas manusia haruslah dilandasi dengan pengetahuan yang benar dan dari sumber yang akurat. Oleh sebab itu pendidikan dalam Islam diarahkan untuk mengembangkan daya nalar yang dituntun oleh nilai-nilai tauhid. Pengenalan pertama di mulai dengan mengenal Allah Swt, melalui nama dan sifat-sifat-Nya. Daya nalar ini berguna bagi manusia untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Daya nalar yang benar dan murni tidak bertentangan dengan konsep Al-Qur’an.
Komposisi Ihsan dan afektif dapat dipahami dengan melihat bahwa pengembangan unsur Ihsan dalam pribadi muslim menggunakan daya imajinasi yang tertuntun oleh nilai-nilai tauhid. Pribadi muslim dapat merasakan kehadiran Allah Swt, melalui penghayatan yang diperolehnya dari kerja intuisi di dalam dirinya. Dengan demikian, seluruh dorongan dan perasaan yang ada di dalam dirinya tertuntun oleh adab-adab  yang dibolehkan, dan diatur dalam Al-Qur’an.
Sementara, nilai-nilai afektif yang dikembangkan dari psikologi pendidikan Barat, baru sampai pada tataran nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, pendekatan filsafat humanis yang banyak dijadikan landasan dalam psikologi pendidikan Barat tidak untuk dijadikan sebagai landasan psikologi pendidikan Islam. Dimensi afektif dalam Islam memiliki dua garis, yaitu horizontal dan vertikal. Garis horizontal menghubungkan manusia dan alam, sementara garis vertikal menghubungkan manusia dengan Allah Swt. Dimensi afektif dalam perspektif Islam memiliki cakupan yang lebih luas. Kontrol terhadap diri manusia yang telah ditanamkan dalam nilai-nilai keimanan, membuat manusia mampu merasakan adanya Allah Swt dalam setiap dimensi aktifitas manusia. Dimensi afektif dalam Islam tidak hanya bermuara pada sisi humanis saja tetapi juga berdimensi tauhid.
Namun dalam implementasi pendidikan saat ini, dimensi afektif hanya sampai pada tataran hubungan baik sesama manusia. Meski pada taraf pengetahuan hal ini tidak terlalu berarti, namun jika ini menjadi paradigma berpikir yang menganggap bahwa kebaikan hanya semata bermuara pada kemanusiaan, maka lambat laun dimensi nilai-nilai tauhid akan tereduksi. Bahaya dari pendidikan humanis ini semacam ini adalah tidak dimasukkannya unsur Ilahiah yang merupakan pokok ajaran Islam dalam membangun pribadi muslim.
Humanisme menganggap manusialah yang merupakan sumber tertinggi dari semua nilai yang diembannya. Akibat pemahaman semacam ini manusia menjadi sewenang-wenang terhadap manusia dan alam itu sendiri. Dalam banyak kasus, terlihat sisi ambigu dari humanisme. Satu sisi menegakkan keadilan hak asasi manusia, tetapi di sisi lain membunuh banyak manusia demi menegakkan keadilan hak asasi manusia itu sendiri.
Konatif adalah aspek implementasi atau perbuatan seseorang yang dihasilkan berdasarkan serangkaian pengetahuan, pemahaman dan penghayatannya. Komposisi Islam dan konatif bertujuan agar aktifitas atau implementasi seseorang selalu mengacu pada nilai-nilai Islam. Islam disini dimaknai sebagai perilaku-perilaku Islami. 
Namun karena pendidikan saat ini lebih menggunakan paradigma Barat yang hanya mengenal dua kutub, yakni akal dan jasmani dan mengeluarkan aspek ruhaniah dari pandangannya, maka lahirlah orang-orang terdidik tetapi kurang secara moralitas. Oleh karena itu, harus ada upaya untuk mengintegrasikan Imam-Kognitif, Ihsan-Afektif dan Islam-Konatif agar pendidikan Islam dapat mencapai tujuan hakikinya, yaitu membentuk manusia yang terbaik (insan kamil) dan tunduk kepada Allah Swt.

Jumat, 14 Juni 2013

Antara Mendidik dan Mengajar


Terdapat perbedaan mendasar antara mendidik dan mengajar. Pendidikan merupakan bagian terpenting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Menurut Paulo Freire, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, sedangkan John Dewey mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang dilakukan agar ada perubahan dalam masyarakat.
Dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah sebuah proses transfer dan pencarian nilai yang terjadi di level individu maupun masyarakat yang mengarah kepada perubahan kondisi ke arah yang lebih baik. Pendidikan sejatinya adalah proses yang mengantarkan manusia pada hakikat dirinya sendiri.
Mendidik lebih bersifat kegiatan jangka panjang. Hasilnya tidak dapat dilihat dalam waktu dekat atau secara instan. Pendidikan merupakan kegiatan integratif olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan tingkat penalaran peserta didik.
Sementara mengajar merupakan kegiatan teknis keseharian yang dilakukan oleh seorang guru. Hasilnya dapat diukur dengan instrumen tertentu. Mengajar merupakan kegiatan menyampaikan materi untuk meningkatkan wawasan keilmuwan, menumbuhkan keterampilan dan menghasilkan perubahan sikap mental seseorang.
Mendidik sesungguhnya lebih menekankan pada pembentukan sikap mental atau kepribadian para peserta didik, sedangkan mengajar lebih menekankan pada aspek penguasaan pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu yang berguna bagi kelangsungan hidup manusia. Sederhananya, seorang guru matematika disebut mengajar jika dia memberi tahu anak didiknya bagaimana caranya menghitung. Namun dia belum disebut mendidik jika tidak melatih anak didiknya agar menjadi orang yang penuh perhitungan dalam setiap tindakannya.

Pendidikan adalah Transfer Knowledge dan Transfer Value
Tidak semua guru mampu mendidik walaupun ia pandai mengajar. Untuk menjadi pendidik sejati seorang guru tidak cukup hanya menguasai materi dan memiliki keterampilan mengajar saja. Ia perlu memahami dasar-dasar agama dan norma-norma dalam masyarakat agar ketika sedang mengajar mampu menghubungkan materi yang disampaikannya dengan sikap dan keperibadiaan yang harus tumbuh dan sesuai dengan ajaran agama dan norma-norma yang hidup dalam masyarakat.
Guru memiliki peran sentral dalam proses pendidikan. Ia tidak hanya berkewajiban melakukan transfer ilmu pengetahuan (knowledge) saja, tetapi juga melakukan transfer nilai (values). Tentu menjalankan kedua peran ini bukanlah perkara yang mudah. Setiap guru membutuhkan pendidikan akademis yang memadai, pemahaman terhadap nilai-nilai agama dan moralitas yang baik, dan keterampilan mengajar yang prima.
Mentransfer ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan, keterangan yang menarik, dan contoh-contoh konkrit yang sederhana. Proses transfer ilmu pengetahuan dianggap sudah berhasil jika peserta didik telah memahami teori-teori yang diajarkan, atau setelah mereka mengalami perubahan secara kognitif, dari ‘tidak tahu’ menjadi ‘tahu’.
Jika transfer ilmu pengetahuan dapat berlangsung secara sederhana, maka transfer nilai membutuhkan waktu yang lebih lama dan proses yang agak rumit. Sebuah nilai baru akan ‘hidup’ dalam diri seorang peserta didik jika dia telah mengalami nilai-nilai yang diajarkan tersebut secara berulang-ulang dalam konteks kehidupan yang nyata.
Mentransfer nilai tidak bisa dilakukan dengan menghafal konsep-konsep nilai itu saja, tetapi perlu mengalaminya secara langsung dengan melibatkan seluruh aspek yang ada pada diri setiap peserta didik, baik itu aspek kognitif, aspek afektif, maupun aspek psikomotorik. Oleh sebab itu, transfer nilai membutuhkan suatu proses yang melibatkan pengalaman seluruh anggota komunitas, mulai dari sekolah, anggota keluarga, hingga lingkungan masyarakat dan negara.
Dengan melakukan transfer ilmu dan nilai secara bersamaan maka akan tercipta sistem pendidikan yang totalitas, yaitu pendidikan yang tidak hanya berupa pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga pembentukan watak dan karakter. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Arah Pendidikan Islam
Sejalan dengan itu, Islam menyebut pendidikan sebagai sebuah proses pemberdayaan manusia untuk membangun suatu peradaban yang bermuara pada terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. Oleh karena itu, pendidikan dalam Islam memainkan peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan generasi muda dalam menghadapi masa depan.
Pendidikan Islam harus mampu menyelenggarakan proses pembekalan pengetahuan, penenaman nilai, pembentukan sikap dan karakter, pengembangan bakat, kemampuan dan keterampilan, menumbuhkembangkan potensi akal, jasmani dan rohani yang optimal, seimbang dan sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Pendidikan Islam memikul amanah yang sangat berat ini agar manusia dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai khalifah di permukaan bumi.
Pendidikan yang hakiki menurut Islam adalah suatu proses membina seluruh potensi manusia agar menjadi makhluk yang beriman, berpikir, dan dapat berkarya untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya. Pendidikan Islam harus mampu menjadi garda terdepan dalam menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas agar mampu membentuk kepribadian peserta didik yang sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.

Rabu, 07 Juli 2010

Salam

Beberapa tahun yang lalu, almarhum mantan Ketua Umum PBNU dan Presiden Republik Indonesia ke-4 , K.H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur pernah melontarkan ucapan yang sangat kontroversial. Dia mewacanakan ucapan ‘salam’ sebaiknya diganti dengan ‘selamat pagi’. Pendapat ini tentu saja mendapat tentangan keras dari umat Islam, karena salam dalam ajaran Islam memiliki makna yang sangat dalam.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam sejumlah hadits, salam merupakan perkara yang tidak boleh dianggap remeh temeh. Seseorang yang senantiasa menebarkan salam akan menempati posisi yang amat mulia di sisi Allah Swt. Dia akan memperoleh posisi yang sangat tinggi kelak di dalam surga.
Dalam sebuah hadits dari Malik al-Asy’ariy ra disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya di dalam surge terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar. Allah Swt menyediakan surga ini bagi orang yang senang memberi makan orang lain, menyebarkan salam, dan shalat malam ketika manusia sedang tidur,” (H.R. Ibnu Hibban).
Menebarkan salam merupakan sarana yang sangat efektif untuk menjalin dan merekatkan persaudaraan antara sesama kaum muslimin (ukhuwah Islamiyah). Dengan salam kaum muslimin akan memiliki kesatuan identitas. Mereka akan saling menjaga dan tolong menolong tanpa melihat asal, suku, ras, dan warna kulit. Mereka dipersatukan oleh satu semangat, yaitu mengabdi kepada Allah Swt.
Salam merupakan hak seorang muslim terhadap muslim lainnya, meskipun keduanya tidak saling mengenal. Oleh sebab itu setiap muslim dianjurkan untuk memberikan salam jika dia bertemu dengan muslim yang lainnya. Bahkan Rasulullah Saw mewajibkan untuk menjawab salam dari sesama muslim.
Meski memiliki tempat yang sangat khusus dalam ajaran Islam, tetapi tradisi mengucapkan salam di kalangan kaum muslimin dewasa ini mulai terkikis. Sebagian orang lebih senang mengucapkan selamat pagi atau selamat siang dari pada salam karena takut dianggap kuno dan tidak modern. Sementara sebagian lainnya merasa aneh dan keheranan manakala seseorang mengucapkan salam kepadanya karena merasa tidak mengenal atau memiliki hubungan apapun dengan orang itu.
Salam semakin dilupakan kaum muslimin, sampai-sampai muncul wacana untuk menggantinya menjadi ucapan selamat pagi. Kondisi ini sungguh sangat ironis, karena Rasulullah Saw sangat menganjurkan kaum muslimin untuk menebarkan salam kepada siapa saja, baik yang dikenal maupun tidak.
Oleh sebab itu, kaum muslimin harus kembali membudayakan ucapan salam dan menjadikannya sebagai salah satu identitas keislaman. Dengan demikian, peringatan Rasulullah Saw yang mengatakan bahwa suatu saat ucapan salam itu hanya akan diucapkan oleh orang yang saling mengenal saja tidak akan segera terjadi dalam waktu dekat ini. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, “Diantara tanda-tanda kiamat adalah manakala ada seseorang mengucapkan salam kepada orang lain yang, tidak mengucapkan salam kepadanya kecuali kalau mengenalnya saja.” (H. R. Ahmad). (Naz/MI)

Shidiq

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga, dan sesungguhnya seseorang berlaku jujur hingga ditulis di sisi Allah Swt sebagai orang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya kedustaan membawa kepada kemaksiatan dan kemaksiatan membawa ke neraka, dan sesungguhnya seseorang berlaku dusta hingga ditulis di sisi Allah Swt sebagai pendusta.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Shidiq menempati posisi yang sangat penting dalam ajaran Islam. Dalam sebuah riwayat disebutkan Ibnu Abbas pernah berkata, “Empat hal siapa yang berada padanya maka ia beruntung: shidiq, malu, akhlak yang baik dan bersyukur.
Shidiq ibarat kendaraan dalam suatu perjalanan. Dengan shidiq seseorang dapat mencapai puncak pencariannya, Allah Swt. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Sulaiman pernah berkata, “ Jadikanlah shidiq sebagai kendaraanmu, kebenaran sebagai pedangmu, dan Allah Swt sebagai puncak pencarianmu.”
Dalam buku Al-Mustakhlash fii-Tazkiyatil-Anfus, karangan Sa’id Hawwa, shidiq mencakup dalam enam aspek, yaitu: shidiq dalam perkataan, shidiq dalam niat dan kemauan, shidiq dalam tekad, shidiq dalam memenuhi tekad, shidiq dalam amal, dan shidiq dalam merealisasikan semua maqam yang ada pada ilmu tasawuf.
Pertama, shidiq dalam perkataan. Seseorang yang shidiq dalam bertutur kata akan senantiasa menjaga lisannya agar tidak berkata bohong. Dia tidak akan menyampaikan sesuatu kecuali kebenaran. Selain itu dia juga akan menepati ketika berjanji.
Kedua, shidiq dalam niat dan kemauan. Shidiq dalam konteks ini adalah bersihnya niat dari keinginan untuk meraih apapun kecuali ridha Allah Swt. Orang yang shidiq dalam niat dan kemauan akan senantiasa ikhlas menjalankan perintah Allah Swt.
Ketiga, shidiq dalam ‘azam (tekad). Orang yang shidiq dalam ‘azam adalah orang yang memiliki tekad yang sangat kuat untuk melakukan kebaikan. Dalam dirinya sama sekali tidak ada keraguan, sebagaimana Umar bin Khatthab ra pernah berkata, “Maju ke medan perang lalu tengkukku ditebas sungguh lebih akui sukai ketimbang aku memimpin masyarakat yang diantara mereka ada Abu Bakar ra Umar bin Khatthab menyampaikan tekadnya ini untuk menolak permintaan para sahabat yang memintanya menjadi pemimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah Saw. Umar menganggap Abu Bakar ra lebih pantas pantas menggantikan Rasulullah Saw sebagai amirul mukminin.
Keempat, shidiq dalam memenuhi tekad. Memiliki tekad yang kuat untuk melakukan suatu kebajikan tentu lebih mudah dari pada melaksanakannya. Ketika seseorang telah berada di dalam realitas yang sebenarnya dan ketika syahwatnya tidak mampu lagi dikendalikan maka dia akan melupakan tekadnya. Dia larut dalam kesesatan karena syahwatnya telah mendominasi seluruh hidup dan setiap aliran darahnya.
Kelima, shidiq dalam amal perbuatan. Orang yang shidiq dalam amal perbuatan adalah orang yang senantiasa bersungguh-sungguh melaksanakan niat dan tekadnya dalam kehidupan sehari-hari. Dia akan senantiasa berusaha untuk menyeleraskan situasi dan kondisi batinnya dengan yang tampak dalam lahiriahnya.
Keenam, shidiq dalam menjalankan maqam agama sebagaimana yang diajarkan oleh kaum sufi. Shidiq dalam konteks ini memiliki tingkatan yang paling tinggi, seperti shidiq dalam khauf, raja’, ta’zhim, zuhud, ridha, tawakkal, dan lain sebagainya.
Keenam kategori shidiq yang dijelaskan di atas harus dimiliki oleh umat Islam untuk menjadi pribadi yang paripurna. Tetapi tidak semua orang berlaku shidiq dalam setiap perkara. Mereka hanya berlaku shidiq pada sebagian perkara tetapi tidak demikian dalam perkara yang lain. Oleh sebab itu, seorang muslim yang mampu berlaku shidiq pada semua perkara menempati posisi yang amat mulia dan disebut shadiq. (Naz/MI)

Kamis, 24 Juni 2010

Jangan Mengabaikan Kehidupan Dunia

Jangan Mengabaikan Kehidupan Dunia
Alkisah, suatu ketika Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah Saw: “Ya Rasulullah, di kampungku ada orang yang sangat baik. Jika dibandingkan dengan ummat Islam lainnya dia jauh lebih baik.”
Mendengar ucapan tersebut Rasulullah Saw bertanya: “Bagaimana kebaikannya itu?”
Umar menjawab: “Dia adalah orang yang sangat taat dalam beribadah. Setiap hari kerjanya hanya beribadah di masjid baik pagi, siang, petang maupun malam. Dia terus berada di masjid sepanjang hari.”
Rasulullah Saw bertanya: “Apakah orang tersebut makan?”
“Dia bukan malaikat, sudah barang tentu dia makan ya Rasulullah,” jawab Umar.
“Apakah dia berpakaian?” tanya Rasulullah.
“Mana mungkin dia beribadah dalam keadaan telanjang,” jawab Umar.
“Siapakah yang memberi makan dan pakainnya?” tanya Rasulullah.
“Yang memberi makanan dan pakainnya adalah orang-orang kampung,” jawab Umar.
Mendengar keterangan Umar yang demikian itu, maka Rasulullah Saw bersabda: “Kalau demikian, orang-orang kampunglah yang lebih baik dari pada orang yang engkau anggap paling baik itu.”

Kisah ini hendaknya menyadarkan kita bahwa, untuk menjadi orang yang bertakwa tidak harus dengan membenci kehidupan dunia. Kita tidak boleh melewatkan kesempatan untuk menikmati kehidupan dunia secara wajar. Bukankah dunia beserta isinya diciptakan Allah Swt untuk manusia?

Beribadah dengan ikhlas dan berdakwah tanpa pamrih tentu sikap yang amat mulia di sisi Allah Swt. Akan tetapi beribadah dan berdakwah dengan mengabaikan kebutuhan diri sendiri dan keluarga tentu bukanlah tindakan yang bijak.

Allah Swt melarang manusia beribadah sampai menyakiti dirinya sendiri. Rasulullah Saw pernah ditegur oleh Allah Swt karena beribadah hingga kakinya bengkak. “Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah,” (QS. Thaha: 2)

Ketakwaan kepada Allah Swt tidak harus membuat kita takut menikmati karunia-Nya yang halal. Kita boleh hidup sederhana, tetapi tidak boleh membiarkan diri sendiri dan keluarga hidup menderita.

Dalam suatu riwayat Rasulullah Saw pernah menegur sahabat Ibnu Mas’ud karena mewasiatkan agar seluruh hartanya disedekahkan untuk kepentingan kaum Muslimin, tanpa sedikitpun menyisakan untuk anak perempuannya. “Wahai sahabatku, jika engkau tinggalkan ahli warismu dalam kecukupan dan sehat sejahtera adalah lebih baik, dari pada engkau meninggalkannya dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang,” sabda Rasulullah Saw kepada Ibnu Mas’ud. (MI/Naz)

Mahalnya Sebuah Kejujuran

Mahalnya Sebuah Kejujuran
Oleh: Khairunnas*

Dalam sebuah tayangan reality show di televisi kita menyaksikan aksi seorang pesulap menghipnotis penonton. Dalam kondisi setengah sadar sang ‘korban’ ditanyai hal-hal seputar kehidupan pribadinya. Berbagai jawaban yang seharusnya bersifat ‘rahasia’ pun meluncur dari mulutnya. Termasuk hal-hal yang selama ini tidak diketahui oleh orang terdekatnya sekalipun.
Akan tetapi, setelah kondisi kesadarannya pulih kembali dan diajukan pertanyaan yang sama, maka jawabannya berbeda. Bahkan ia menyangkal dan mengelak ketika sang pesulap mengkonfirmasi jawaban sebelumnya.
Kejujuran memang kata yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Seorang remaja yang sedang kasmaran dengan entengnya akan mengatakan ia hanya mencintai kekasihnya seorang, padahal di belakangnya ia juga menyukai orang lain. Seorang suami juga seringkali berbohong kepada istri dan anaknya, bahkan untuk hal-hal yang sepele sekalipun seperti masalah uang belanja dan lain sebagainya.
Mencari orang jujur di zaman seperti sekarang memang sesuatu yang teramat sulit. Seperti pepatah mengatakan ‘ibarat mencari jarum di dalam jerami’. Kejujuran telah menjadi barang mahal dan langka. Seorang pimpinan tak lagi berani berkata jujur kepada bawahannya. Seorang bawahan pun tak berani berkata jujur kepada pimpinannya. Mereka terjebak dalam pusaran kebohongan.
Dalam skala yang lebih besar, bangsa Indonesia saat ini pun sangat sulit menemukan seorang pemimpin yang jujur. Ketika Skandal Bank Century meledak ke hadapan publik tak ada satu pun pengambil kebijakan yang berani bertanggung jawab. Mereka lebih banyak menghindar dan berkata tidak tahu ketika Pansus Hak Angket DPR RI mengajukan pertanyaan. Mereka berusaha mencari kambing hitam dan saling lempar kesalahan. Jika kepemimpinan seperti ini terus dipertahankan, mungkinkah cita-cita kemerdekaan dapat diwujudkan?
Sebagai negeri Muslim terbesar di dunia, bangsa ini seyogyanya kembali kepada ajaran Islam yang hakiki. Islam mengajarkan seorang Muslim untuk senantiasa bersikap jujur. Kejujuran adalah landasan utama dari seluruh perbuatan baik dan puncak dari akhlakul karimah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan, sedang kebaikan itu akan menuntun ke surga. Dan seorang laki-laki yang berbuat jujur akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan menghantarkan ke neraka. Seorang laki-laki yang berbuat dusta akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (H.R. Bukhari Muslim)
Seorang Muslim yang benar adalah Muslim yang senantiasa berusaha untuk bersikap jujur baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dia tidak boleh takut berkata benar sekalipun beresiko. Seorang Muslim yang tidak jujur tak pantas mengaku sebagai ummat Muhammad SAW yang Al-Amin. Seorang Muslim yang suka berbohong tak pantas mengaku sebagai pengikut Rasulullah SAW yang memiliki sifat Asy-Ayiddiq. Dan kita tak pantas mengaku sebagai seorang Muslim jika kita terus berbohong bahkan terhadap diri sendiri sekalipun. * hamba Allah, Al-Fakir

Muharram dan Pemberantasan Korupsi

Muharram dan Semangat Pemberantasan Korupsi
Oleh: Khairunnas
Bulan Muharram telah datang, ummat Islam se-dunia kembali merayakan tahun baru 1431 Hijriah. Berbagai acara dilakukan, mulai dari lomba di sekolah-sekolah, pengajian di masjid-masjid, hingga perhelatan musik di televisi.
Hampir semua orang gembira menyambut bulan yang sering disebut sebagai ‘bulan anak yatim’ ini. Anak-anak, ibu-ibu rumah tangga, hingga pekerja kantoran, melakukan berbagai kegiatan untuk memeriahkan Tahun Baru Hijriah.
Menyambut Tahun Baru Hijriah dengan sorak sorai dan gegap gempita memang bukanlah tindakan yang salah. Tetapi, ummat Islam seyogyanya tidak sekedar menyambutnya dengan kemeriahan pesta belaka. Tahun Baru Hijriah mesti dijadikan momentum untuk merenungkan kembali kondisi Indonesia.
Tahun Baru Hijriah yang bertepatan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah mesti dijadikan sebagai momentum perubahan. Sejarah telah mencatat, peristiwa hijrah sesungguhnya bukanlah sekedar pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, tetapi merupakan momentum perubahan masyarakat, dari masyarakat jahiliah ke masyarakat muslim yang berperadaban tinggi.
Oleh sebab itu, kedatangan Tahun Baru 1431 Hijriah mesti dijadikan oleh ummat Islam Indonesia sebagai momentum untuk melakukan berbagai perbaikan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Korupsi yang telah menggerogoti dan merusak hampir seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara mesti menjadi perhatian bersama. Ummat Islam harus menjadi garda terdepan dalam perang melawan korupsi.
Sebagai bagian terbesar dari penduduk negeri ini, peran ummat Islam dalam perang melawan korupsi tentu sangat menentukan. Di pundak ummat Islam-lah bangsa ini berharap terlepas dari cengkraman para penguasa yang korup. Penguasa yang telah membuat negeri ini dijuluki sebagai ‘negeri para mafioso’.
Di Indonesia penguasa sudah seperti sekelompok mafia dalam cerita kriminalitas di film-film Italia atau Hongkong. Berbagai kasus korupsi yang merugikan negara hingga triluyan rupiah selalu melibatkan para penguasa. Kasus BLBI, Bank Bali, Buloggate, dan yang terakhir skandal Bank Century adalah fakta yang tak terbantahkan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Indonesia bisa menjadi negara ‘kleptokrasi’, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai ‘pemerintahan oleh para pencuri’.
Oleh sebab itu, ummat Islam harus menjadikan momentum Tahun Baru 1431 Hijriah sebagai simbol perlawanan terhadap korupsi. Semangat perubahan yang terdapat dalam peristiwa hijrah 1431 tahun yang lalu harus dimaknai dalam bentuk semangat untuk mencegah dan menjauhkan diri dari perilaku korupsi.