Beberapa tahun yang lalu, almarhum mantan Ketua Umum PBNU dan Presiden Republik Indonesia ke-4 , K.H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur pernah melontarkan ucapan yang sangat kontroversial. Dia mewacanakan ucapan ‘salam’ sebaiknya diganti dengan ‘selamat pagi’. Pendapat ini tentu saja mendapat tentangan keras dari umat Islam, karena salam dalam ajaran Islam memiliki makna yang sangat dalam.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam sejumlah hadits, salam merupakan perkara yang tidak boleh dianggap remeh temeh. Seseorang yang senantiasa menebarkan salam akan menempati posisi yang amat mulia di sisi Allah Swt. Dia akan memperoleh posisi yang sangat tinggi kelak di dalam surga.
Dalam sebuah hadits dari Malik al-Asy’ariy ra disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya di dalam surge terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar. Allah Swt menyediakan surga ini bagi orang yang senang memberi makan orang lain, menyebarkan salam, dan shalat malam ketika manusia sedang tidur,” (H.R. Ibnu Hibban).
Menebarkan salam merupakan sarana yang sangat efektif untuk menjalin dan merekatkan persaudaraan antara sesama kaum muslimin (ukhuwah Islamiyah). Dengan salam kaum muslimin akan memiliki kesatuan identitas. Mereka akan saling menjaga dan tolong menolong tanpa melihat asal, suku, ras, dan warna kulit. Mereka dipersatukan oleh satu semangat, yaitu mengabdi kepada Allah Swt.
Salam merupakan hak seorang muslim terhadap muslim lainnya, meskipun keduanya tidak saling mengenal. Oleh sebab itu setiap muslim dianjurkan untuk memberikan salam jika dia bertemu dengan muslim yang lainnya. Bahkan Rasulullah Saw mewajibkan untuk menjawab salam dari sesama muslim.
Meski memiliki tempat yang sangat khusus dalam ajaran Islam, tetapi tradisi mengucapkan salam di kalangan kaum muslimin dewasa ini mulai terkikis. Sebagian orang lebih senang mengucapkan selamat pagi atau selamat siang dari pada salam karena takut dianggap kuno dan tidak modern. Sementara sebagian lainnya merasa aneh dan keheranan manakala seseorang mengucapkan salam kepadanya karena merasa tidak mengenal atau memiliki hubungan apapun dengan orang itu.
Salam semakin dilupakan kaum muslimin, sampai-sampai muncul wacana untuk menggantinya menjadi ucapan selamat pagi. Kondisi ini sungguh sangat ironis, karena Rasulullah Saw sangat menganjurkan kaum muslimin untuk menebarkan salam kepada siapa saja, baik yang dikenal maupun tidak.
Oleh sebab itu, kaum muslimin harus kembali membudayakan ucapan salam dan menjadikannya sebagai salah satu identitas keislaman. Dengan demikian, peringatan Rasulullah Saw yang mengatakan bahwa suatu saat ucapan salam itu hanya akan diucapkan oleh orang yang saling mengenal saja tidak akan segera terjadi dalam waktu dekat ini. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, “Diantara tanda-tanda kiamat adalah manakala ada seseorang mengucapkan salam kepada orang lain yang, tidak mengucapkan salam kepadanya kecuali kalau mengenalnya saja.” (H. R. Ahmad). (Naz/MI)
Rabu, 07 Juli 2010
Shidiq
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga, dan sesungguhnya seseorang berlaku jujur hingga ditulis di sisi Allah Swt sebagai orang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya kedustaan membawa kepada kemaksiatan dan kemaksiatan membawa ke neraka, dan sesungguhnya seseorang berlaku dusta hingga ditulis di sisi Allah Swt sebagai pendusta.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Shidiq menempati posisi yang sangat penting dalam ajaran Islam. Dalam sebuah riwayat disebutkan Ibnu Abbas pernah berkata, “Empat hal siapa yang berada padanya maka ia beruntung: shidiq, malu, akhlak yang baik dan bersyukur.
Shidiq ibarat kendaraan dalam suatu perjalanan. Dengan shidiq seseorang dapat mencapai puncak pencariannya, Allah Swt. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Sulaiman pernah berkata, “ Jadikanlah shidiq sebagai kendaraanmu, kebenaran sebagai pedangmu, dan Allah Swt sebagai puncak pencarianmu.”
Dalam buku Al-Mustakhlash fii-Tazkiyatil-Anfus, karangan Sa’id Hawwa, shidiq mencakup dalam enam aspek, yaitu: shidiq dalam perkataan, shidiq dalam niat dan kemauan, shidiq dalam tekad, shidiq dalam memenuhi tekad, shidiq dalam amal, dan shidiq dalam merealisasikan semua maqam yang ada pada ilmu tasawuf.
Pertama, shidiq dalam perkataan. Seseorang yang shidiq dalam bertutur kata akan senantiasa menjaga lisannya agar tidak berkata bohong. Dia tidak akan menyampaikan sesuatu kecuali kebenaran. Selain itu dia juga akan menepati ketika berjanji.
Kedua, shidiq dalam niat dan kemauan. Shidiq dalam konteks ini adalah bersihnya niat dari keinginan untuk meraih apapun kecuali ridha Allah Swt. Orang yang shidiq dalam niat dan kemauan akan senantiasa ikhlas menjalankan perintah Allah Swt.
Ketiga, shidiq dalam ‘azam (tekad). Orang yang shidiq dalam ‘azam adalah orang yang memiliki tekad yang sangat kuat untuk melakukan kebaikan. Dalam dirinya sama sekali tidak ada keraguan, sebagaimana Umar bin Khatthab ra pernah berkata, “Maju ke medan perang lalu tengkukku ditebas sungguh lebih akui sukai ketimbang aku memimpin masyarakat yang diantara mereka ada Abu Bakar ra Umar bin Khatthab menyampaikan tekadnya ini untuk menolak permintaan para sahabat yang memintanya menjadi pemimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah Saw. Umar menganggap Abu Bakar ra lebih pantas pantas menggantikan Rasulullah Saw sebagai amirul mukminin.
Keempat, shidiq dalam memenuhi tekad. Memiliki tekad yang kuat untuk melakukan suatu kebajikan tentu lebih mudah dari pada melaksanakannya. Ketika seseorang telah berada di dalam realitas yang sebenarnya dan ketika syahwatnya tidak mampu lagi dikendalikan maka dia akan melupakan tekadnya. Dia larut dalam kesesatan karena syahwatnya telah mendominasi seluruh hidup dan setiap aliran darahnya.
Kelima, shidiq dalam amal perbuatan. Orang yang shidiq dalam amal perbuatan adalah orang yang senantiasa bersungguh-sungguh melaksanakan niat dan tekadnya dalam kehidupan sehari-hari. Dia akan senantiasa berusaha untuk menyeleraskan situasi dan kondisi batinnya dengan yang tampak dalam lahiriahnya.
Keenam, shidiq dalam menjalankan maqam agama sebagaimana yang diajarkan oleh kaum sufi. Shidiq dalam konteks ini memiliki tingkatan yang paling tinggi, seperti shidiq dalam khauf, raja’, ta’zhim, zuhud, ridha, tawakkal, dan lain sebagainya.
Keenam kategori shidiq yang dijelaskan di atas harus dimiliki oleh umat Islam untuk menjadi pribadi yang paripurna. Tetapi tidak semua orang berlaku shidiq dalam setiap perkara. Mereka hanya berlaku shidiq pada sebagian perkara tetapi tidak demikian dalam perkara yang lain. Oleh sebab itu, seorang muslim yang mampu berlaku shidiq pada semua perkara menempati posisi yang amat mulia dan disebut shadiq. (Naz/MI)
Shidiq menempati posisi yang sangat penting dalam ajaran Islam. Dalam sebuah riwayat disebutkan Ibnu Abbas pernah berkata, “Empat hal siapa yang berada padanya maka ia beruntung: shidiq, malu, akhlak yang baik dan bersyukur.
Shidiq ibarat kendaraan dalam suatu perjalanan. Dengan shidiq seseorang dapat mencapai puncak pencariannya, Allah Swt. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Sulaiman pernah berkata, “ Jadikanlah shidiq sebagai kendaraanmu, kebenaran sebagai pedangmu, dan Allah Swt sebagai puncak pencarianmu.”
Dalam buku Al-Mustakhlash fii-Tazkiyatil-Anfus, karangan Sa’id Hawwa, shidiq mencakup dalam enam aspek, yaitu: shidiq dalam perkataan, shidiq dalam niat dan kemauan, shidiq dalam tekad, shidiq dalam memenuhi tekad, shidiq dalam amal, dan shidiq dalam merealisasikan semua maqam yang ada pada ilmu tasawuf.
Pertama, shidiq dalam perkataan. Seseorang yang shidiq dalam bertutur kata akan senantiasa menjaga lisannya agar tidak berkata bohong. Dia tidak akan menyampaikan sesuatu kecuali kebenaran. Selain itu dia juga akan menepati ketika berjanji.
Kedua, shidiq dalam niat dan kemauan. Shidiq dalam konteks ini adalah bersihnya niat dari keinginan untuk meraih apapun kecuali ridha Allah Swt. Orang yang shidiq dalam niat dan kemauan akan senantiasa ikhlas menjalankan perintah Allah Swt.
Ketiga, shidiq dalam ‘azam (tekad). Orang yang shidiq dalam ‘azam adalah orang yang memiliki tekad yang sangat kuat untuk melakukan kebaikan. Dalam dirinya sama sekali tidak ada keraguan, sebagaimana Umar bin Khatthab ra pernah berkata, “Maju ke medan perang lalu tengkukku ditebas sungguh lebih akui sukai ketimbang aku memimpin masyarakat yang diantara mereka ada Abu Bakar ra Umar bin Khatthab menyampaikan tekadnya ini untuk menolak permintaan para sahabat yang memintanya menjadi pemimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah Saw. Umar menganggap Abu Bakar ra lebih pantas pantas menggantikan Rasulullah Saw sebagai amirul mukminin.
Keempat, shidiq dalam memenuhi tekad. Memiliki tekad yang kuat untuk melakukan suatu kebajikan tentu lebih mudah dari pada melaksanakannya. Ketika seseorang telah berada di dalam realitas yang sebenarnya dan ketika syahwatnya tidak mampu lagi dikendalikan maka dia akan melupakan tekadnya. Dia larut dalam kesesatan karena syahwatnya telah mendominasi seluruh hidup dan setiap aliran darahnya.
Kelima, shidiq dalam amal perbuatan. Orang yang shidiq dalam amal perbuatan adalah orang yang senantiasa bersungguh-sungguh melaksanakan niat dan tekadnya dalam kehidupan sehari-hari. Dia akan senantiasa berusaha untuk menyeleraskan situasi dan kondisi batinnya dengan yang tampak dalam lahiriahnya.
Keenam, shidiq dalam menjalankan maqam agama sebagaimana yang diajarkan oleh kaum sufi. Shidiq dalam konteks ini memiliki tingkatan yang paling tinggi, seperti shidiq dalam khauf, raja’, ta’zhim, zuhud, ridha, tawakkal, dan lain sebagainya.
Keenam kategori shidiq yang dijelaskan di atas harus dimiliki oleh umat Islam untuk menjadi pribadi yang paripurna. Tetapi tidak semua orang berlaku shidiq dalam setiap perkara. Mereka hanya berlaku shidiq pada sebagian perkara tetapi tidak demikian dalam perkara yang lain. Oleh sebab itu, seorang muslim yang mampu berlaku shidiq pada semua perkara menempati posisi yang amat mulia dan disebut shadiq. (Naz/MI)
Kamis, 24 Juni 2010
Jangan Mengabaikan Kehidupan Dunia
Jangan Mengabaikan Kehidupan Dunia
Alkisah, suatu ketika Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah Saw: “Ya Rasulullah, di kampungku ada orang yang sangat baik. Jika dibandingkan dengan ummat Islam lainnya dia jauh lebih baik.”
Mendengar ucapan tersebut Rasulullah Saw bertanya: “Bagaimana kebaikannya itu?”
Umar menjawab: “Dia adalah orang yang sangat taat dalam beribadah. Setiap hari kerjanya hanya beribadah di masjid baik pagi, siang, petang maupun malam. Dia terus berada di masjid sepanjang hari.”
Rasulullah Saw bertanya: “Apakah orang tersebut makan?”
“Dia bukan malaikat, sudah barang tentu dia makan ya Rasulullah,” jawab Umar.
“Apakah dia berpakaian?” tanya Rasulullah.
“Mana mungkin dia beribadah dalam keadaan telanjang,” jawab Umar.
“Siapakah yang memberi makan dan pakainnya?” tanya Rasulullah.
“Yang memberi makanan dan pakainnya adalah orang-orang kampung,” jawab Umar.
Mendengar keterangan Umar yang demikian itu, maka Rasulullah Saw bersabda: “Kalau demikian, orang-orang kampunglah yang lebih baik dari pada orang yang engkau anggap paling baik itu.”
Kisah ini hendaknya menyadarkan kita bahwa, untuk menjadi orang yang bertakwa tidak harus dengan membenci kehidupan dunia. Kita tidak boleh melewatkan kesempatan untuk menikmati kehidupan dunia secara wajar. Bukankah dunia beserta isinya diciptakan Allah Swt untuk manusia?
Beribadah dengan ikhlas dan berdakwah tanpa pamrih tentu sikap yang amat mulia di sisi Allah Swt. Akan tetapi beribadah dan berdakwah dengan mengabaikan kebutuhan diri sendiri dan keluarga tentu bukanlah tindakan yang bijak.
Allah Swt melarang manusia beribadah sampai menyakiti dirinya sendiri. Rasulullah Saw pernah ditegur oleh Allah Swt karena beribadah hingga kakinya bengkak. “Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah,” (QS. Thaha: 2)
Ketakwaan kepada Allah Swt tidak harus membuat kita takut menikmati karunia-Nya yang halal. Kita boleh hidup sederhana, tetapi tidak boleh membiarkan diri sendiri dan keluarga hidup menderita.
Dalam suatu riwayat Rasulullah Saw pernah menegur sahabat Ibnu Mas’ud karena mewasiatkan agar seluruh hartanya disedekahkan untuk kepentingan kaum Muslimin, tanpa sedikitpun menyisakan untuk anak perempuannya. “Wahai sahabatku, jika engkau tinggalkan ahli warismu dalam kecukupan dan sehat sejahtera adalah lebih baik, dari pada engkau meninggalkannya dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang,” sabda Rasulullah Saw kepada Ibnu Mas’ud. (MI/Naz)
Alkisah, suatu ketika Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah Saw: “Ya Rasulullah, di kampungku ada orang yang sangat baik. Jika dibandingkan dengan ummat Islam lainnya dia jauh lebih baik.”
Mendengar ucapan tersebut Rasulullah Saw bertanya: “Bagaimana kebaikannya itu?”
Umar menjawab: “Dia adalah orang yang sangat taat dalam beribadah. Setiap hari kerjanya hanya beribadah di masjid baik pagi, siang, petang maupun malam. Dia terus berada di masjid sepanjang hari.”
Rasulullah Saw bertanya: “Apakah orang tersebut makan?”
“Dia bukan malaikat, sudah barang tentu dia makan ya Rasulullah,” jawab Umar.
“Apakah dia berpakaian?” tanya Rasulullah.
“Mana mungkin dia beribadah dalam keadaan telanjang,” jawab Umar.
“Siapakah yang memberi makan dan pakainnya?” tanya Rasulullah.
“Yang memberi makanan dan pakainnya adalah orang-orang kampung,” jawab Umar.
Mendengar keterangan Umar yang demikian itu, maka Rasulullah Saw bersabda: “Kalau demikian, orang-orang kampunglah yang lebih baik dari pada orang yang engkau anggap paling baik itu.”
Kisah ini hendaknya menyadarkan kita bahwa, untuk menjadi orang yang bertakwa tidak harus dengan membenci kehidupan dunia. Kita tidak boleh melewatkan kesempatan untuk menikmati kehidupan dunia secara wajar. Bukankah dunia beserta isinya diciptakan Allah Swt untuk manusia?
Beribadah dengan ikhlas dan berdakwah tanpa pamrih tentu sikap yang amat mulia di sisi Allah Swt. Akan tetapi beribadah dan berdakwah dengan mengabaikan kebutuhan diri sendiri dan keluarga tentu bukanlah tindakan yang bijak.
Allah Swt melarang manusia beribadah sampai menyakiti dirinya sendiri. Rasulullah Saw pernah ditegur oleh Allah Swt karena beribadah hingga kakinya bengkak. “Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah,” (QS. Thaha: 2)
Ketakwaan kepada Allah Swt tidak harus membuat kita takut menikmati karunia-Nya yang halal. Kita boleh hidup sederhana, tetapi tidak boleh membiarkan diri sendiri dan keluarga hidup menderita.
Dalam suatu riwayat Rasulullah Saw pernah menegur sahabat Ibnu Mas’ud karena mewasiatkan agar seluruh hartanya disedekahkan untuk kepentingan kaum Muslimin, tanpa sedikitpun menyisakan untuk anak perempuannya. “Wahai sahabatku, jika engkau tinggalkan ahli warismu dalam kecukupan dan sehat sejahtera adalah lebih baik, dari pada engkau meninggalkannya dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang,” sabda Rasulullah Saw kepada Ibnu Mas’ud. (MI/Naz)
Mahalnya Sebuah Kejujuran
Mahalnya Sebuah Kejujuran
Oleh: Khairunnas*
Dalam sebuah tayangan reality show di televisi kita menyaksikan aksi seorang pesulap menghipnotis penonton. Dalam kondisi setengah sadar sang ‘korban’ ditanyai hal-hal seputar kehidupan pribadinya. Berbagai jawaban yang seharusnya bersifat ‘rahasia’ pun meluncur dari mulutnya. Termasuk hal-hal yang selama ini tidak diketahui oleh orang terdekatnya sekalipun.
Akan tetapi, setelah kondisi kesadarannya pulih kembali dan diajukan pertanyaan yang sama, maka jawabannya berbeda. Bahkan ia menyangkal dan mengelak ketika sang pesulap mengkonfirmasi jawaban sebelumnya.
Kejujuran memang kata yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Seorang remaja yang sedang kasmaran dengan entengnya akan mengatakan ia hanya mencintai kekasihnya seorang, padahal di belakangnya ia juga menyukai orang lain. Seorang suami juga seringkali berbohong kepada istri dan anaknya, bahkan untuk hal-hal yang sepele sekalipun seperti masalah uang belanja dan lain sebagainya.
Mencari orang jujur di zaman seperti sekarang memang sesuatu yang teramat sulit. Seperti pepatah mengatakan ‘ibarat mencari jarum di dalam jerami’. Kejujuran telah menjadi barang mahal dan langka. Seorang pimpinan tak lagi berani berkata jujur kepada bawahannya. Seorang bawahan pun tak berani berkata jujur kepada pimpinannya. Mereka terjebak dalam pusaran kebohongan.
Dalam skala yang lebih besar, bangsa Indonesia saat ini pun sangat sulit menemukan seorang pemimpin yang jujur. Ketika Skandal Bank Century meledak ke hadapan publik tak ada satu pun pengambil kebijakan yang berani bertanggung jawab. Mereka lebih banyak menghindar dan berkata tidak tahu ketika Pansus Hak Angket DPR RI mengajukan pertanyaan. Mereka berusaha mencari kambing hitam dan saling lempar kesalahan. Jika kepemimpinan seperti ini terus dipertahankan, mungkinkah cita-cita kemerdekaan dapat diwujudkan?
Sebagai negeri Muslim terbesar di dunia, bangsa ini seyogyanya kembali kepada ajaran Islam yang hakiki. Islam mengajarkan seorang Muslim untuk senantiasa bersikap jujur. Kejujuran adalah landasan utama dari seluruh perbuatan baik dan puncak dari akhlakul karimah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan, sedang kebaikan itu akan menuntun ke surga. Dan seorang laki-laki yang berbuat jujur akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan menghantarkan ke neraka. Seorang laki-laki yang berbuat dusta akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (H.R. Bukhari Muslim)
Seorang Muslim yang benar adalah Muslim yang senantiasa berusaha untuk bersikap jujur baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dia tidak boleh takut berkata benar sekalipun beresiko. Seorang Muslim yang tidak jujur tak pantas mengaku sebagai ummat Muhammad SAW yang Al-Amin. Seorang Muslim yang suka berbohong tak pantas mengaku sebagai pengikut Rasulullah SAW yang memiliki sifat Asy-Ayiddiq. Dan kita tak pantas mengaku sebagai seorang Muslim jika kita terus berbohong bahkan terhadap diri sendiri sekalipun. * hamba Allah, Al-Fakir
Oleh: Khairunnas*
Dalam sebuah tayangan reality show di televisi kita menyaksikan aksi seorang pesulap menghipnotis penonton. Dalam kondisi setengah sadar sang ‘korban’ ditanyai hal-hal seputar kehidupan pribadinya. Berbagai jawaban yang seharusnya bersifat ‘rahasia’ pun meluncur dari mulutnya. Termasuk hal-hal yang selama ini tidak diketahui oleh orang terdekatnya sekalipun.
Akan tetapi, setelah kondisi kesadarannya pulih kembali dan diajukan pertanyaan yang sama, maka jawabannya berbeda. Bahkan ia menyangkal dan mengelak ketika sang pesulap mengkonfirmasi jawaban sebelumnya.
Kejujuran memang kata yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Seorang remaja yang sedang kasmaran dengan entengnya akan mengatakan ia hanya mencintai kekasihnya seorang, padahal di belakangnya ia juga menyukai orang lain. Seorang suami juga seringkali berbohong kepada istri dan anaknya, bahkan untuk hal-hal yang sepele sekalipun seperti masalah uang belanja dan lain sebagainya.
Mencari orang jujur di zaman seperti sekarang memang sesuatu yang teramat sulit. Seperti pepatah mengatakan ‘ibarat mencari jarum di dalam jerami’. Kejujuran telah menjadi barang mahal dan langka. Seorang pimpinan tak lagi berani berkata jujur kepada bawahannya. Seorang bawahan pun tak berani berkata jujur kepada pimpinannya. Mereka terjebak dalam pusaran kebohongan.
Dalam skala yang lebih besar, bangsa Indonesia saat ini pun sangat sulit menemukan seorang pemimpin yang jujur. Ketika Skandal Bank Century meledak ke hadapan publik tak ada satu pun pengambil kebijakan yang berani bertanggung jawab. Mereka lebih banyak menghindar dan berkata tidak tahu ketika Pansus Hak Angket DPR RI mengajukan pertanyaan. Mereka berusaha mencari kambing hitam dan saling lempar kesalahan. Jika kepemimpinan seperti ini terus dipertahankan, mungkinkah cita-cita kemerdekaan dapat diwujudkan?
Sebagai negeri Muslim terbesar di dunia, bangsa ini seyogyanya kembali kepada ajaran Islam yang hakiki. Islam mengajarkan seorang Muslim untuk senantiasa bersikap jujur. Kejujuran adalah landasan utama dari seluruh perbuatan baik dan puncak dari akhlakul karimah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan, sedang kebaikan itu akan menuntun ke surga. Dan seorang laki-laki yang berbuat jujur akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan menghantarkan ke neraka. Seorang laki-laki yang berbuat dusta akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (H.R. Bukhari Muslim)
Seorang Muslim yang benar adalah Muslim yang senantiasa berusaha untuk bersikap jujur baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dia tidak boleh takut berkata benar sekalipun beresiko. Seorang Muslim yang tidak jujur tak pantas mengaku sebagai ummat Muhammad SAW yang Al-Amin. Seorang Muslim yang suka berbohong tak pantas mengaku sebagai pengikut Rasulullah SAW yang memiliki sifat Asy-Ayiddiq. Dan kita tak pantas mengaku sebagai seorang Muslim jika kita terus berbohong bahkan terhadap diri sendiri sekalipun. * hamba Allah, Al-Fakir
Muharram dan Pemberantasan Korupsi
Muharram dan Semangat Pemberantasan Korupsi
Oleh: Khairunnas
Bulan Muharram telah datang, ummat Islam se-dunia kembali merayakan tahun baru 1431 Hijriah. Berbagai acara dilakukan, mulai dari lomba di sekolah-sekolah, pengajian di masjid-masjid, hingga perhelatan musik di televisi.
Hampir semua orang gembira menyambut bulan yang sering disebut sebagai ‘bulan anak yatim’ ini. Anak-anak, ibu-ibu rumah tangga, hingga pekerja kantoran, melakukan berbagai kegiatan untuk memeriahkan Tahun Baru Hijriah.
Menyambut Tahun Baru Hijriah dengan sorak sorai dan gegap gempita memang bukanlah tindakan yang salah. Tetapi, ummat Islam seyogyanya tidak sekedar menyambutnya dengan kemeriahan pesta belaka. Tahun Baru Hijriah mesti dijadikan momentum untuk merenungkan kembali kondisi Indonesia.
Tahun Baru Hijriah yang bertepatan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah mesti dijadikan sebagai momentum perubahan. Sejarah telah mencatat, peristiwa hijrah sesungguhnya bukanlah sekedar pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, tetapi merupakan momentum perubahan masyarakat, dari masyarakat jahiliah ke masyarakat muslim yang berperadaban tinggi.
Oleh sebab itu, kedatangan Tahun Baru 1431 Hijriah mesti dijadikan oleh ummat Islam Indonesia sebagai momentum untuk melakukan berbagai perbaikan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Korupsi yang telah menggerogoti dan merusak hampir seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara mesti menjadi perhatian bersama. Ummat Islam harus menjadi garda terdepan dalam perang melawan korupsi.
Sebagai bagian terbesar dari penduduk negeri ini, peran ummat Islam dalam perang melawan korupsi tentu sangat menentukan. Di pundak ummat Islam-lah bangsa ini berharap terlepas dari cengkraman para penguasa yang korup. Penguasa yang telah membuat negeri ini dijuluki sebagai ‘negeri para mafioso’.
Di Indonesia penguasa sudah seperti sekelompok mafia dalam cerita kriminalitas di film-film Italia atau Hongkong. Berbagai kasus korupsi yang merugikan negara hingga triluyan rupiah selalu melibatkan para penguasa. Kasus BLBI, Bank Bali, Buloggate, dan yang terakhir skandal Bank Century adalah fakta yang tak terbantahkan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Indonesia bisa menjadi negara ‘kleptokrasi’, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai ‘pemerintahan oleh para pencuri’.
Oleh sebab itu, ummat Islam harus menjadikan momentum Tahun Baru 1431 Hijriah sebagai simbol perlawanan terhadap korupsi. Semangat perubahan yang terdapat dalam peristiwa hijrah 1431 tahun yang lalu harus dimaknai dalam bentuk semangat untuk mencegah dan menjauhkan diri dari perilaku korupsi.
Oleh: Khairunnas
Bulan Muharram telah datang, ummat Islam se-dunia kembali merayakan tahun baru 1431 Hijriah. Berbagai acara dilakukan, mulai dari lomba di sekolah-sekolah, pengajian di masjid-masjid, hingga perhelatan musik di televisi.
Hampir semua orang gembira menyambut bulan yang sering disebut sebagai ‘bulan anak yatim’ ini. Anak-anak, ibu-ibu rumah tangga, hingga pekerja kantoran, melakukan berbagai kegiatan untuk memeriahkan Tahun Baru Hijriah.
Menyambut Tahun Baru Hijriah dengan sorak sorai dan gegap gempita memang bukanlah tindakan yang salah. Tetapi, ummat Islam seyogyanya tidak sekedar menyambutnya dengan kemeriahan pesta belaka. Tahun Baru Hijriah mesti dijadikan momentum untuk merenungkan kembali kondisi Indonesia.
Tahun Baru Hijriah yang bertepatan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah mesti dijadikan sebagai momentum perubahan. Sejarah telah mencatat, peristiwa hijrah sesungguhnya bukanlah sekedar pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, tetapi merupakan momentum perubahan masyarakat, dari masyarakat jahiliah ke masyarakat muslim yang berperadaban tinggi.
Oleh sebab itu, kedatangan Tahun Baru 1431 Hijriah mesti dijadikan oleh ummat Islam Indonesia sebagai momentum untuk melakukan berbagai perbaikan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Korupsi yang telah menggerogoti dan merusak hampir seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara mesti menjadi perhatian bersama. Ummat Islam harus menjadi garda terdepan dalam perang melawan korupsi.
Sebagai bagian terbesar dari penduduk negeri ini, peran ummat Islam dalam perang melawan korupsi tentu sangat menentukan. Di pundak ummat Islam-lah bangsa ini berharap terlepas dari cengkraman para penguasa yang korup. Penguasa yang telah membuat negeri ini dijuluki sebagai ‘negeri para mafioso’.
Di Indonesia penguasa sudah seperti sekelompok mafia dalam cerita kriminalitas di film-film Italia atau Hongkong. Berbagai kasus korupsi yang merugikan negara hingga triluyan rupiah selalu melibatkan para penguasa. Kasus BLBI, Bank Bali, Buloggate, dan yang terakhir skandal Bank Century adalah fakta yang tak terbantahkan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Indonesia bisa menjadi negara ‘kleptokrasi’, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai ‘pemerintahan oleh para pencuri’.
Oleh sebab itu, ummat Islam harus menjadikan momentum Tahun Baru 1431 Hijriah sebagai simbol perlawanan terhadap korupsi. Semangat perubahan yang terdapat dalam peristiwa hijrah 1431 tahun yang lalu harus dimaknai dalam bentuk semangat untuk mencegah dan menjauhkan diri dari perilaku korupsi.
Sikap Terbaik Menghadapi Ujian
Sikap Terbaik Menghadapi Ujian
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ''Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun/sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk,” ( QS. Al-Baqarah: 155-157)
Musibah atau ujian adalah bagian dari kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang lepas dari ujian. Segala musibah yang menimpa manusia telah digariskan oleh Allah Swt, bahkan sebelum manusia diciptakan. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadiid: 22)
Sebagai orang yang beriman, kita mestinya yakin bahwa Allah Swt mempunyai skenario yang kita tidak tahu. Satu hal yang bisa kita pegang dan yakini, bahwa skenario tersebut pastilah skenario terbaik. Oleh sebab itu kita tidak usah panik dalam menghadapi berbagai musibah dan ujian dalam hidup ini. Yang menjadi masalah bukanlah musibah atau ujian yang sedang kita hadapi, tetapi bagaimana cara kita menghadapi musibah atau ujian tersebut dengan sikap terbaik. Akan tetapi, sayang sekali kebanyakan dari kita belum mampu menghadapi ujian tersebut dengan sikap yang baik. Sebagian besar dari kita cenderung memaksakan kehidupan ini berjalan sesuai dengan keinginan kita.
Padahal Islam telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara menghadapi musibah atau ujian dengan cara terbaik. Akan tetapi kita seringkali mengabaikannya. Oleh sebab itu tidak salah jika kita kembali mempelajarinya.
Langkah pertama menghadapi ujian adalah kita harus meyakini bahwa musibah itu merupakan ekspresi cinta Allah Swt pada hamba-Nya. Allah Swt memberikan ujian agar kita menjadi lebih dewasa dan matang dalam mengarungi kehidupan. Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik maka ia diberi-Nya cobaan.” (HR. Bukhari)
Kedua, kita harus yakin bahwa semakin besar dan banyak ujian yang Allah Swt turunkan kepada kita, maka semakin besar pula pahala dan sayang Allah Swt yang akan dilimpahkan kepada kita jika kita bisa menyelesaikan setiap ujian tersebut dengan baik. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya cobaan. Sesungguhnya apabila Allah itu mencintai suatu kaum maka Ia mencobanya. Barang siapa yang rela menerimanya, ia mendapat keridhoan Allah, dan barang siapa yang murka, maka ia pun mendapat murka Allah.” (HR. Tirmidzi)
Ketiga, kita harus yakin bahwa ujian yang menimpa kita akan menghapuskan dosa-dosa yang pernah kita kerjakan. Abu Sa’id dan Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda: “Seorang muslim yang tertimpa penderitaan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan, bahkan hanya terkena duri sekalipun, semuanya itu merupakan kafarat (penebus) dari dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keempat, kita harus senantiasa positif thingking. Yakinlah apapun yang menimpa kita akan menjadi kebaikan. Abu Yahya Shuhaib bin Sinan berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh menakjubkan sikap seorang mukmin itu, segala keadaan dianggapnya baik dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu lebih baik baginya, dan apabila ditimpa penderitaan, ia bersabar, maka itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim)
Kelima, yakinlah bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Hal ini telah dijanjikan oleh Allah Swt dalam surat Al-Insyirah ayat 5-6: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Keenam, bersikaplah optimis bahwa kita pasti bisa melalui ujian tersebut. Allah Swt tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Optimisme akan melahirkan energi positif yang membuat kita dengan mudah dapat melalui segala ujian. Firman-Nya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Ketujuh, hadapilah ujian dengan usaha dan do’a sekaligus. Kita wajib mengerahkan segala kemampuan untuk menghadapi ujian. Setelah itu jangan lupa berdo’a agar Allah Swt memberikan kemudahan. “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyirah: 7–8).
Dengan berbagai ujian yang kita hadapi dalam kehidupan ini, mudah-mudahan membuat kita semakin dekat dengan Allah Swt. Musibah terbesar dalam hidup ini adalah ketika kita tidak mengenal siapa Allah Swt.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ''Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun/sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk,” ( QS. Al-Baqarah: 155-157)
Musibah atau ujian adalah bagian dari kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang lepas dari ujian. Segala musibah yang menimpa manusia telah digariskan oleh Allah Swt, bahkan sebelum manusia diciptakan. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadiid: 22)
Sebagai orang yang beriman, kita mestinya yakin bahwa Allah Swt mempunyai skenario yang kita tidak tahu. Satu hal yang bisa kita pegang dan yakini, bahwa skenario tersebut pastilah skenario terbaik. Oleh sebab itu kita tidak usah panik dalam menghadapi berbagai musibah dan ujian dalam hidup ini. Yang menjadi masalah bukanlah musibah atau ujian yang sedang kita hadapi, tetapi bagaimana cara kita menghadapi musibah atau ujian tersebut dengan sikap terbaik. Akan tetapi, sayang sekali kebanyakan dari kita belum mampu menghadapi ujian tersebut dengan sikap yang baik. Sebagian besar dari kita cenderung memaksakan kehidupan ini berjalan sesuai dengan keinginan kita.
Padahal Islam telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara menghadapi musibah atau ujian dengan cara terbaik. Akan tetapi kita seringkali mengabaikannya. Oleh sebab itu tidak salah jika kita kembali mempelajarinya.
Langkah pertama menghadapi ujian adalah kita harus meyakini bahwa musibah itu merupakan ekspresi cinta Allah Swt pada hamba-Nya. Allah Swt memberikan ujian agar kita menjadi lebih dewasa dan matang dalam mengarungi kehidupan. Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik maka ia diberi-Nya cobaan.” (HR. Bukhari)
Kedua, kita harus yakin bahwa semakin besar dan banyak ujian yang Allah Swt turunkan kepada kita, maka semakin besar pula pahala dan sayang Allah Swt yang akan dilimpahkan kepada kita jika kita bisa menyelesaikan setiap ujian tersebut dengan baik. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya cobaan. Sesungguhnya apabila Allah itu mencintai suatu kaum maka Ia mencobanya. Barang siapa yang rela menerimanya, ia mendapat keridhoan Allah, dan barang siapa yang murka, maka ia pun mendapat murka Allah.” (HR. Tirmidzi)
Ketiga, kita harus yakin bahwa ujian yang menimpa kita akan menghapuskan dosa-dosa yang pernah kita kerjakan. Abu Sa’id dan Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda: “Seorang muslim yang tertimpa penderitaan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan, bahkan hanya terkena duri sekalipun, semuanya itu merupakan kafarat (penebus) dari dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keempat, kita harus senantiasa positif thingking. Yakinlah apapun yang menimpa kita akan menjadi kebaikan. Abu Yahya Shuhaib bin Sinan berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh menakjubkan sikap seorang mukmin itu, segala keadaan dianggapnya baik dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu lebih baik baginya, dan apabila ditimpa penderitaan, ia bersabar, maka itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim)
Kelima, yakinlah bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Hal ini telah dijanjikan oleh Allah Swt dalam surat Al-Insyirah ayat 5-6: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Keenam, bersikaplah optimis bahwa kita pasti bisa melalui ujian tersebut. Allah Swt tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Optimisme akan melahirkan energi positif yang membuat kita dengan mudah dapat melalui segala ujian. Firman-Nya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Ketujuh, hadapilah ujian dengan usaha dan do’a sekaligus. Kita wajib mengerahkan segala kemampuan untuk menghadapi ujian. Setelah itu jangan lupa berdo’a agar Allah Swt memberikan kemudahan. “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al Insyirah: 7–8).
Dengan berbagai ujian yang kita hadapi dalam kehidupan ini, mudah-mudahan membuat kita semakin dekat dengan Allah Swt. Musibah terbesar dalam hidup ini adalah ketika kita tidak mengenal siapa Allah Swt.
Ajari Anak Kita Dengan Kasih dan Cinta
Ajari Anak Anda dengan Kasih dan Cinta!
Sebentar lagi tahun ajaran baru kembali datang. Orang tua mulai sibuk mencari sekolah terbaik buat anaknya. Bagi mereka yang memiliki kecupukan ekonomi tentu hal ini bukan masalah, tetapi bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan, tahun ajaran baru seringkali dihadapi dengan kening berkerut. Mereka bingung dari mana uang akan diperoleh untuk membayar sekolah.
Menyayangi anak dengan mencarikan sekolah yang terbaik buatnya sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang tua. Semua orang tua pasti akan dengan ikhlas bekerja keras demi anak-anaknya, sebab anak bagi mereka adalah sumber kebahagiaan dan pandangan yang menyenangkan.
Sebagian besar orang tua akan menjadikan anaknya sebagai tumpahan harapan di masa depan. Sejak awal sudah terbayang olehnya kebahagiaan kelak setelah anak-anaknya dewasa. Sebab keberhasilan mengantarkan anak sukses di masa depan adalah kebahagiaan bagi orang tua.
Keberhasilan seorang anak di masa depan tentu tergantung kepada pendidikan yang diperolehnya, tidak hanya pendidikan formal di sekolah-sekolah, tetapi yang jauh lebih penting adalah pendidikan di rumah. Orang tua adalah pendidik terbaik bagi anak-anaknya, terutama dalam pembentukan karakter yang baik.
Penanaman karakter yang baik adalah bagian terpenting dalam sebuah proses pendidikan. Dalam Islam diajarkan bahwa sejak dini seorang anak seyogyanya telah ditanamkan nilai-nilai ketuhanan, sehingga kelak akan menjadi seorang saleh dan taat kepada Allah Swt. Dengan demikian, dari dalam diri sang anak akan muncul unsur-unsur kebaikan dan sumber-sumber kebahagiaaan. Sosok anak yang demikianlah yang disebut sebagai perhiasan dunia, sebagaimana firman-Nya, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (Al-Kahfi: 46).
Oleh sebab itu, di tengah arus modernisasi yang ‘serba boleh’ ini, orang tua harus memberikan perhatian ekstra terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam diri anak-anaknya yang seringkali berasal dari sumber-sumber yang tidak benar. Orang tua harus menjadikan Islam sebagai rujukan utama dalam mendidik anak-anaknya, sebab jika tidak anak-anak mereka akan mengalami kebimbangan hingga terperosok ke dalam jurang kehancuran. Mengabaikan pendidikan anak berarti menjadikan mereka sebagai sumber bencana, malapetaka, dan kesengsaraan.
Seorang muslim yang benar-benar memahami ajaran Islam akan menyadari tanggung jawabnya yang besar terhadap anak-anaknya, karena dia senantiasa memperhatikan apa yang telah difirmankan Allah Swt, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6).
Dengan tuntutan tanggung jawab yang besar tersebut, Islam mewajibkan orang tua untuk memberikan perhatian penuh kepada pendidikan keislaman bagi anak-anaknya. Orang tua bertanggung jawab dalam membentuk anaknya menjadi orang yang soleh, yang tegak di atas akhlak yang mulia.
Oleh sebab itu, rumah harus dijadikan sebagai tempat bagi pembentukan jiwa, akal, kebiasaan, kencenderungan dan kepribadian anak. Orang tua harus mampu memainkan peran sebagai guru sekaligus teladan yang baik bagi anak-anaknya agar rumah sebagai tempat pendidikan pertama dan terbaik dapat menjalankan fungsinya dengan secara maksimal. Pendidikan di rumah harus dilakukan secara seimbang, baik fisik, akal, maupun rohani.
Orang tua yang memahami ajaran Islam dengan baik akan mengetahui kondisi kejiwaan anak-anaknya, sehingga mereka akan memperlakukan anak-anaknya dengan baik dan lembut. Mereka akan mendidik dan membimbing anak-anaknya dengan cara-cara yang baik.
Mereka mencurahkan cinta kepada anak-anaknya dengan bermacam cara; mendekati dengan memperhatikan tingkat kemampuan intelektualitas dan waktu anak-anaknya, mencari tahu tempat bermainnya, bercanda, berbasa-basi, serta mengucapkan kata-kata yang menyenangkan dan menarik. Semua itu akan menambah rasa cinta dan sayang anak kepada orang tua. Mereka akan mendengarkan dan mengikuti bimbingan dan arahan orang tua dengan penuh semangat dan keseriusan, sehingga ketaatan yang mereka tunjukkan benar-benar bermuara dari hati yang paling dalam. Sebab ada perbedaan antara ketaatan yang bersumber dari hati dan berdasar atas cinta kasih, penghormatan, penghargaan dan kepercayaan, dengan ketaatan palsu yang berdasarkan kepada kekasaran, kekerasan, paksaan, dan ketidakhormatan. Ketaatan pertama merupakan ketaatan yang abadi, kuat dan membuahkan hasil, sedangkan ketaatan yang kedua adalah kekataatan temporer dan mandul, serta akan cepat seiring dengan hilangnya kekerasan, kekasaran, dan paksaan.
Sebagian orang mengira bahwa ketebukaan dan kedekatan pergaulan orang tua dengan anak-anaknya akan merusak wibawanya di hadapan mereka. Pandangan seperti ini jelas salah, karena yang demikian itu merupakan salah satu cara terbaik dalam mendidik anak yang sekarang ini diterapkan dalam sistem pendidikan modern, padahal hal itu telah dilakukan oleh Rasulullah Saw sejak lima belas abad silam baik melalui ucapan maupun perbuatannya.
Kasih sayang adalah sifat Islami yang paling mendasar, yang terpancarkan dari kepribadian Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Anas ra menceritakan, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih sayang kepada keluarnya selain Rasulullah Saw. Pada saat Ibrahim hendak dicarikan wanita yang menyusuinya dari kalangan keluarga Madinah, beliau pergi dan kami bersamanya lalu beliau masuk ke suatu rumah dan menggendong Ibrahim dan menciumnya, dan kemudian pulang.” (H.R. Muslim)
Rasulullah Saw senantiasa menanamkan kelembutan dan kasih sayang kepada para pengikutnya. Kasih sayangnya semakin tampak ketika beliau sedang berhadapan dengan anak-anak, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas ra bahwa setiap kali Rasulullah Saw berjalan melewati anak-anak kecil beliau selalu tersenyum dan memberikan salam kepada mereka. (dari berbagai sumber)
Sebentar lagi tahun ajaran baru kembali datang. Orang tua mulai sibuk mencari sekolah terbaik buat anaknya. Bagi mereka yang memiliki kecupukan ekonomi tentu hal ini bukan masalah, tetapi bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan, tahun ajaran baru seringkali dihadapi dengan kening berkerut. Mereka bingung dari mana uang akan diperoleh untuk membayar sekolah.
Menyayangi anak dengan mencarikan sekolah yang terbaik buatnya sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang tua. Semua orang tua pasti akan dengan ikhlas bekerja keras demi anak-anaknya, sebab anak bagi mereka adalah sumber kebahagiaan dan pandangan yang menyenangkan.
Sebagian besar orang tua akan menjadikan anaknya sebagai tumpahan harapan di masa depan. Sejak awal sudah terbayang olehnya kebahagiaan kelak setelah anak-anaknya dewasa. Sebab keberhasilan mengantarkan anak sukses di masa depan adalah kebahagiaan bagi orang tua.
Keberhasilan seorang anak di masa depan tentu tergantung kepada pendidikan yang diperolehnya, tidak hanya pendidikan formal di sekolah-sekolah, tetapi yang jauh lebih penting adalah pendidikan di rumah. Orang tua adalah pendidik terbaik bagi anak-anaknya, terutama dalam pembentukan karakter yang baik.
Penanaman karakter yang baik adalah bagian terpenting dalam sebuah proses pendidikan. Dalam Islam diajarkan bahwa sejak dini seorang anak seyogyanya telah ditanamkan nilai-nilai ketuhanan, sehingga kelak akan menjadi seorang saleh dan taat kepada Allah Swt. Dengan demikian, dari dalam diri sang anak akan muncul unsur-unsur kebaikan dan sumber-sumber kebahagiaaan. Sosok anak yang demikianlah yang disebut sebagai perhiasan dunia, sebagaimana firman-Nya, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (Al-Kahfi: 46).
Oleh sebab itu, di tengah arus modernisasi yang ‘serba boleh’ ini, orang tua harus memberikan perhatian ekstra terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam diri anak-anaknya yang seringkali berasal dari sumber-sumber yang tidak benar. Orang tua harus menjadikan Islam sebagai rujukan utama dalam mendidik anak-anaknya, sebab jika tidak anak-anak mereka akan mengalami kebimbangan hingga terperosok ke dalam jurang kehancuran. Mengabaikan pendidikan anak berarti menjadikan mereka sebagai sumber bencana, malapetaka, dan kesengsaraan.
Seorang muslim yang benar-benar memahami ajaran Islam akan menyadari tanggung jawabnya yang besar terhadap anak-anaknya, karena dia senantiasa memperhatikan apa yang telah difirmankan Allah Swt, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6).
Dengan tuntutan tanggung jawab yang besar tersebut, Islam mewajibkan orang tua untuk memberikan perhatian penuh kepada pendidikan keislaman bagi anak-anaknya. Orang tua bertanggung jawab dalam membentuk anaknya menjadi orang yang soleh, yang tegak di atas akhlak yang mulia.
Oleh sebab itu, rumah harus dijadikan sebagai tempat bagi pembentukan jiwa, akal, kebiasaan, kencenderungan dan kepribadian anak. Orang tua harus mampu memainkan peran sebagai guru sekaligus teladan yang baik bagi anak-anaknya agar rumah sebagai tempat pendidikan pertama dan terbaik dapat menjalankan fungsinya dengan secara maksimal. Pendidikan di rumah harus dilakukan secara seimbang, baik fisik, akal, maupun rohani.
Orang tua yang memahami ajaran Islam dengan baik akan mengetahui kondisi kejiwaan anak-anaknya, sehingga mereka akan memperlakukan anak-anaknya dengan baik dan lembut. Mereka akan mendidik dan membimbing anak-anaknya dengan cara-cara yang baik.
Mereka mencurahkan cinta kepada anak-anaknya dengan bermacam cara; mendekati dengan memperhatikan tingkat kemampuan intelektualitas dan waktu anak-anaknya, mencari tahu tempat bermainnya, bercanda, berbasa-basi, serta mengucapkan kata-kata yang menyenangkan dan menarik. Semua itu akan menambah rasa cinta dan sayang anak kepada orang tua. Mereka akan mendengarkan dan mengikuti bimbingan dan arahan orang tua dengan penuh semangat dan keseriusan, sehingga ketaatan yang mereka tunjukkan benar-benar bermuara dari hati yang paling dalam. Sebab ada perbedaan antara ketaatan yang bersumber dari hati dan berdasar atas cinta kasih, penghormatan, penghargaan dan kepercayaan, dengan ketaatan palsu yang berdasarkan kepada kekasaran, kekerasan, paksaan, dan ketidakhormatan. Ketaatan pertama merupakan ketaatan yang abadi, kuat dan membuahkan hasil, sedangkan ketaatan yang kedua adalah kekataatan temporer dan mandul, serta akan cepat seiring dengan hilangnya kekerasan, kekasaran, dan paksaan.
Sebagian orang mengira bahwa ketebukaan dan kedekatan pergaulan orang tua dengan anak-anaknya akan merusak wibawanya di hadapan mereka. Pandangan seperti ini jelas salah, karena yang demikian itu merupakan salah satu cara terbaik dalam mendidik anak yang sekarang ini diterapkan dalam sistem pendidikan modern, padahal hal itu telah dilakukan oleh Rasulullah Saw sejak lima belas abad silam baik melalui ucapan maupun perbuatannya.
Kasih sayang adalah sifat Islami yang paling mendasar, yang terpancarkan dari kepribadian Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Anas ra menceritakan, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih sayang kepada keluarnya selain Rasulullah Saw. Pada saat Ibrahim hendak dicarikan wanita yang menyusuinya dari kalangan keluarga Madinah, beliau pergi dan kami bersamanya lalu beliau masuk ke suatu rumah dan menggendong Ibrahim dan menciumnya, dan kemudian pulang.” (H.R. Muslim)
Rasulullah Saw senantiasa menanamkan kelembutan dan kasih sayang kepada para pengikutnya. Kasih sayangnya semakin tampak ketika beliau sedang berhadapan dengan anak-anak, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas ra bahwa setiap kali Rasulullah Saw berjalan melewati anak-anak kecil beliau selalu tersenyum dan memberikan salam kepada mereka. (dari berbagai sumber)
Malu
Malu
Dalam tradisi ksatria Jepang (baca: ninja), kita mengenal istilah ‘hara-kiri’, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai tindakan bunuh diri ketika posisi sudah terdesak dalam sebuah pertarungan. Para ninja biasanya akan melakukan hara-kiri jika merasa sudah tidak mungkin lagi memenangkan pertarungan, karena bagi mereka menyerah adalah tindakan yang memalukan.
Pada era modern ini, hara-kiri bagi sebagian masyarakat Jepang masih dianggap sebagai salah satu pilihan yang baik, meskipun bentuknya tidak selalu bunuh diri. Dalam konteks politik atau bisnis misalnya, mereka akan memilih mengundurkan diri jika gagal mencapai target tertentu. Oleh sebab itu, belakangan ini kita sering mendengar seorang politisi atau pemimpin bisnis di Jepang mengundurkan diri dari jabatannya karena gagal menjalankan tugasnya, karena bagi masyarakat Jepang kegagalan adalah sebuah aib yang sangat memalukan.
Dalam konteks ‘malu’ inilah tulisan ini akan saya tempatkan, karena penulis tidak memiliki pretensi apapun untuk mengatakan apakah tradisi hara-kiri pada masyarakat Jepang tersebut benar atau salah. Menurut hemat penulis, ‘malu’ seyogya adalah sifat yang baik dan harus dimiliki oleh semua orang, karena dengan rasa malu seseorang akan senantiasa mawas diri. Dia akan berusaha mengendalikan dirinya agar tidak melakukan perbuatan yang memalukan.
Sebagai suri tauladan terbaik sepanjang zaman, Rasulullah Saw telah memberikan contoh bahwa salah satu kriteria seorang muslim yang baik adalah orang yang selalu memiliki rasa malu dalam dirinya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Sa’id Al-Khudri ra menceritakan, “Rasulullah Saw lebih malu daripada seorang gadis yang berada dalam pingitan, apabila beliau melihat sesuatu yang dibencinya, kami mengetahuinya dari wajahnya.” (H.R. Muttafaqun ‘Alaih).
Para ulama menjelaskan bahwa malu merupakan akhlak mulia yang selalu mendorong seseorang untuk meninggalkan segala bentuk keburukan dan melarang perbuatan yang dapat merugikan kepentingan orang lain. Rasulullah Saw mengatakan bahwa malu adalah bagian dari iman, sebagaimana sabdanya, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh satu sampai tujuh puluh sembilan, atau enam puluh satu sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah ucapan: La Ilaaha Illa Allah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan barang berbahaya dari jalanan, dan malu itu adalah cabang dari iman.” (Muttafaqun ‘Alaih).
Seorang muslim yang jujur dan benar-benar bertaqwa kepada Allah Swt akan selalu memiliki rasa malu. Dia tidak akan pernah melakukan sesuatu perbuatan buruk yang dapat menyakiti orang lain serta tidak akan berupaya untuk mengurangi atau melanggar hak-hak orang lain.
Malu menjadi semacam perisai penghalang bagi seorang muslim untuk melakukan perbuatan dosa, sehingga dia akan terhindar dari ancaman api neraka. Maka dari itu, seorang muslim seyogyanya tidak hanya malu kepada sesama manusia, tetapi lebih jauh dari itu adalah malu kepada Allah Swt. Malu kepada Allah Swt harus lebih didahulukan dari pada malu kepada manusia.
Dalam tradisi ksatria Jepang (baca: ninja), kita mengenal istilah ‘hara-kiri’, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai tindakan bunuh diri ketika posisi sudah terdesak dalam sebuah pertarungan. Para ninja biasanya akan melakukan hara-kiri jika merasa sudah tidak mungkin lagi memenangkan pertarungan, karena bagi mereka menyerah adalah tindakan yang memalukan.
Pada era modern ini, hara-kiri bagi sebagian masyarakat Jepang masih dianggap sebagai salah satu pilihan yang baik, meskipun bentuknya tidak selalu bunuh diri. Dalam konteks politik atau bisnis misalnya, mereka akan memilih mengundurkan diri jika gagal mencapai target tertentu. Oleh sebab itu, belakangan ini kita sering mendengar seorang politisi atau pemimpin bisnis di Jepang mengundurkan diri dari jabatannya karena gagal menjalankan tugasnya, karena bagi masyarakat Jepang kegagalan adalah sebuah aib yang sangat memalukan.
Dalam konteks ‘malu’ inilah tulisan ini akan saya tempatkan, karena penulis tidak memiliki pretensi apapun untuk mengatakan apakah tradisi hara-kiri pada masyarakat Jepang tersebut benar atau salah. Menurut hemat penulis, ‘malu’ seyogya adalah sifat yang baik dan harus dimiliki oleh semua orang, karena dengan rasa malu seseorang akan senantiasa mawas diri. Dia akan berusaha mengendalikan dirinya agar tidak melakukan perbuatan yang memalukan.
Sebagai suri tauladan terbaik sepanjang zaman, Rasulullah Saw telah memberikan contoh bahwa salah satu kriteria seorang muslim yang baik adalah orang yang selalu memiliki rasa malu dalam dirinya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Sa’id Al-Khudri ra menceritakan, “Rasulullah Saw lebih malu daripada seorang gadis yang berada dalam pingitan, apabila beliau melihat sesuatu yang dibencinya, kami mengetahuinya dari wajahnya.” (H.R. Muttafaqun ‘Alaih).
Para ulama menjelaskan bahwa malu merupakan akhlak mulia yang selalu mendorong seseorang untuk meninggalkan segala bentuk keburukan dan melarang perbuatan yang dapat merugikan kepentingan orang lain. Rasulullah Saw mengatakan bahwa malu adalah bagian dari iman, sebagaimana sabdanya, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh satu sampai tujuh puluh sembilan, atau enam puluh satu sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah ucapan: La Ilaaha Illa Allah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan barang berbahaya dari jalanan, dan malu itu adalah cabang dari iman.” (Muttafaqun ‘Alaih).
Seorang muslim yang jujur dan benar-benar bertaqwa kepada Allah Swt akan selalu memiliki rasa malu. Dia tidak akan pernah melakukan sesuatu perbuatan buruk yang dapat menyakiti orang lain serta tidak akan berupaya untuk mengurangi atau melanggar hak-hak orang lain.
Malu menjadi semacam perisai penghalang bagi seorang muslim untuk melakukan perbuatan dosa, sehingga dia akan terhindar dari ancaman api neraka. Maka dari itu, seorang muslim seyogyanya tidak hanya malu kepada sesama manusia, tetapi lebih jauh dari itu adalah malu kepada Allah Swt. Malu kepada Allah Swt harus lebih didahulukan dari pada malu kepada manusia.
Pemimpin yang Melayani
Pemimpin yang Melayani
Dalam sebuah artikel di harian terkemuka tanah air, diceritakan bagaimana seorang gubernur di Korea Selatan menyambut rombongan wisatawan asing. Dengan hanya didampingi oleh seorang penerjemah, sang gubernur dengan senang hati menemani perjalanan tamunya sepanjang hari itu. Tidak ada pengawalan ketat dan protokoler, dia justru membaur dan bergabung dengan para wisatawan. Tidak ada mobil dinas mewah yang menyertainya, dia justru menaiki bis yang sama dengan rombongan.
Tidak sekedar membaur dengan para wisatawan, sang gubernur juga berperan sebagai pemandu atau guide. Dia dengan sabar melayani dan menceritakan segala sesuatu yang menarik tentang daerah yang dipimpinnya. Bahkan ketika berhenti di sebuah restoran yang menghidangkan masakan khas Korea, dia dengan entengnya ikut membantu menyajikan makanan untuk rombongan.
Setelah membaca artikel tersebut, saya kemudian terbayang dengan para pemimpin bangsa kita ini. Jika seorang pesiden atau gubernur di Indonesia berkunjung ke suatu daerah, sudah barang tentu pengawalan yang ketat dan protokoler yang rumit akan ikut menyertainya. Bahkan sebelum kedatangannya aparat keamanan sudah melakukan survey untuk memastikan bahwa daerah tersebut aman dan steril untuk dikunjungi.
Tidak hanya itu, kedatangannya juga akan membuat pejabat daerah yang dikunjunginya sibuk melakukan berbagai persiapan. Beragam cara akan mereka lakukan agar penyambutannya tampak meriah dan tidak mengecewakan. Mulai dari membersihkan jalan yang akan dilalui, menyiapkan hidangan dan tempat peristirahatan yang terbaik, hingga membawakan oleh-oleh atau ‘amplop’ sebagai tanda terimakasih. Bahkan bila perlu rasa ‘bangga dan terimakasih’ atas kedatangan pemimpin tersebut ditunjukkan dengan mengerahkan anak-anak sekolah untuk sekedar melambai-lambaikan tangan dan bendera di sepanjang rute perjalanan.
Secara umum, karakteristik pemimpin di Indonesia memang lebih senang dilayani ketimbang melayani. Hal ini berbeda sekali dengan semangat kepemimpinan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat disebutkan, suatu ketika seorang sahabat datang terlambat ke majelis Rasulullah Saw. Saat itu tempat duduk sudah penuh sesak dengan para jama’ah. Dia kemudian meminta izin kepada para sahabat yang lain untuk memberikannya tempat duduk. Akan tetapi tidak ada satu pun sahabat yang bersedia. Di tengah kebingungannya, Rasulullah Saw kemudian memanggilnya. Beliau memintanya duduk di dekatnya. Tidak hanya itu, beliau juga melipat sorbannya dan memberikannya kepada sahabat tersebut untuk digunakan sebagai alas duduk. Dengan berlinang air mata sahabat tersebut menerima sorban itu, namun tidak menggunakannya sebagai alas tempat duduk, tetapi justru menciumnya.
Semangat melayani yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw di atas hendaknya menjadi pedoman bagi pemimpin zaman sekarang. Tidak hanya kepemimpinan dalam konteks kehidupan bernegara tetapi juga kepemimpinan dalam skala yang lebih kecil seperti dalam masyarakat, perusahaan, maupun rumah tangga.
Memulai menjadi pemimpin yang melayani dapat dilakukan dengan cara-cara yang amat sederhana. Misalnya dengan membiasakan diri untuk melakukan sendiri hal-hal yang bisa kita lakukan sendiri. Kita tidak perlu menyuruh bawahan jika hanya untuk melakukan hal-hal kecil seperti mematikan lampu, AC dan lain sebagainya.
Dalam sebuah artikel di harian terkemuka tanah air, diceritakan bagaimana seorang gubernur di Korea Selatan menyambut rombongan wisatawan asing. Dengan hanya didampingi oleh seorang penerjemah, sang gubernur dengan senang hati menemani perjalanan tamunya sepanjang hari itu. Tidak ada pengawalan ketat dan protokoler, dia justru membaur dan bergabung dengan para wisatawan. Tidak ada mobil dinas mewah yang menyertainya, dia justru menaiki bis yang sama dengan rombongan.
Tidak sekedar membaur dengan para wisatawan, sang gubernur juga berperan sebagai pemandu atau guide. Dia dengan sabar melayani dan menceritakan segala sesuatu yang menarik tentang daerah yang dipimpinnya. Bahkan ketika berhenti di sebuah restoran yang menghidangkan masakan khas Korea, dia dengan entengnya ikut membantu menyajikan makanan untuk rombongan.
Setelah membaca artikel tersebut, saya kemudian terbayang dengan para pemimpin bangsa kita ini. Jika seorang pesiden atau gubernur di Indonesia berkunjung ke suatu daerah, sudah barang tentu pengawalan yang ketat dan protokoler yang rumit akan ikut menyertainya. Bahkan sebelum kedatangannya aparat keamanan sudah melakukan survey untuk memastikan bahwa daerah tersebut aman dan steril untuk dikunjungi.
Tidak hanya itu, kedatangannya juga akan membuat pejabat daerah yang dikunjunginya sibuk melakukan berbagai persiapan. Beragam cara akan mereka lakukan agar penyambutannya tampak meriah dan tidak mengecewakan. Mulai dari membersihkan jalan yang akan dilalui, menyiapkan hidangan dan tempat peristirahatan yang terbaik, hingga membawakan oleh-oleh atau ‘amplop’ sebagai tanda terimakasih. Bahkan bila perlu rasa ‘bangga dan terimakasih’ atas kedatangan pemimpin tersebut ditunjukkan dengan mengerahkan anak-anak sekolah untuk sekedar melambai-lambaikan tangan dan bendera di sepanjang rute perjalanan.
Secara umum, karakteristik pemimpin di Indonesia memang lebih senang dilayani ketimbang melayani. Hal ini berbeda sekali dengan semangat kepemimpinan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat disebutkan, suatu ketika seorang sahabat datang terlambat ke majelis Rasulullah Saw. Saat itu tempat duduk sudah penuh sesak dengan para jama’ah. Dia kemudian meminta izin kepada para sahabat yang lain untuk memberikannya tempat duduk. Akan tetapi tidak ada satu pun sahabat yang bersedia. Di tengah kebingungannya, Rasulullah Saw kemudian memanggilnya. Beliau memintanya duduk di dekatnya. Tidak hanya itu, beliau juga melipat sorbannya dan memberikannya kepada sahabat tersebut untuk digunakan sebagai alas duduk. Dengan berlinang air mata sahabat tersebut menerima sorban itu, namun tidak menggunakannya sebagai alas tempat duduk, tetapi justru menciumnya.
Semangat melayani yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw di atas hendaknya menjadi pedoman bagi pemimpin zaman sekarang. Tidak hanya kepemimpinan dalam konteks kehidupan bernegara tetapi juga kepemimpinan dalam skala yang lebih kecil seperti dalam masyarakat, perusahaan, maupun rumah tangga.
Memulai menjadi pemimpin yang melayani dapat dilakukan dengan cara-cara yang amat sederhana. Misalnya dengan membiasakan diri untuk melakukan sendiri hal-hal yang bisa kita lakukan sendiri. Kita tidak perlu menyuruh bawahan jika hanya untuk melakukan hal-hal kecil seperti mematikan lampu, AC dan lain sebagainya.
Belajar Tawaddu'
Belajar Tawadhu’ Dari Orang-orang Saleh
Menjadi orang tawadhu’memang tidak mudah, tetapi setidak-tidaknya kita bisa belajar dari orang-orang yang saleh. Ketahuilah bahwa musuh utama orang-orang tawadhu’ adalah kesombongan. Kesombongan bisa tampak dari berbagai perilaku, seperti memalingkan wajah, memicingkan mata, menundukkan kepala, cara duduk, hingga intonasi suara.
Dalam buku Intisari Ihya Ulumuddin karangan Sayid Hawwa disebutkan bahwa seorang yang tawadhu’ akan selalu berusaha menghindari berbagai macam bentuk kesombongan. Diantara sikap sombong yang sering menyertai seseorang, khususnya orang-orang yang berkuasa adalah sebagai berikut: Pertama, keinginan agar orang-orang berdiri untuknya. Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Barangsiapa ingin melihat seorang lelaki dari penghuni neraka maka hendaklah dia melihat seorang lelaki yang tengah duduk tetapi di hadapannya ada orang-orang yang berdiri.” Anas ra berkata: “Tidak ada orang yang lebih mereka cintai ketimbang Rasulullah Saw. Sekalipun demikian apabila melihatnya, mereka tidak berdiri kepadanya karena mereka tahu kebenciannya terhadap hal tersebut.” (HR. Imam Tirmidzi).
Kedua, keinginan agar ketika dia berjalan didampingi atau diiringi oleh orang lain. Abu Darda berkata: “Seorang Hamba senantiasa bertambah jauh dari Allah Swt selagi dia berjalan dengan diiringi di belakangnya.” Orang-orang tidak bisa membedakan Abdur Rahman bin Auf daripada budaknya karena dia tidak membedakan dirinya dari mereka dalam bentuk lahiriah. Dalam riwayat lain disebutkan, orang-orang pernah berjalan di belakang Hasan Al-Bashri, lalu dia melarang mereka seraya berkata: “Janganlah keinginan ini ada di dalam hati seorang Hamba.”
Ketiga, tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah dengan tangannya sendiri. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Abdul Aziz kedatangan seorang tamu di rumahnya pada malam hari. Ketika itu dia sedang menulis dan lampunya hampir padam, lalu sang tamu bertanya: “Aku perbaiki lampu itu? Umar bin Abdul Aziz menjawab: “Menyuruh tamu adalah perbuatan yang tidak mulia.” Tamu itu berkata: “Aku bangunkan pembantu?” Umar berkata: “Dia baru saja tidur.” Kemudian Umar berdiri mengisi minyak lampu. Menyaksikan hal itu, sang tamu bertanya: “Kamu sendiri yang melakukan wahai Amirul Mukminin?” Umar menjawab: “Aku pergi dan kembali tetap saja Umar namanya, tidak ada sesuatu pun yang berkurang dariku! Sebaik-baik orang adalah orang yang tawadhu’ di sisi Allah Swt.
Keempat, merasa malu membawa barang kebutuhan rumah tangga ke rumah. Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Kesempurnaan seseorang tidak akan berkurang karena hanya dia membawa sesuatu untuk keluarganya. Dalam riwayat lain, Zaid bin Wahab berkata: “Aku pernah melihat Umar bin Khaththab keluar ke pasar sambil tangannya membawa susu dan memakai kain sarung yang bertambal sebanyak empat belas tambalan, sebagian tambalannya bahkan dari kulit. (disarikan dari Intisari Ihya Ulumuddin karangan Sayyid Hawwa)
Menjadi orang tawadhu’memang tidak mudah, tetapi setidak-tidaknya kita bisa belajar dari orang-orang yang saleh. Ketahuilah bahwa musuh utama orang-orang tawadhu’ adalah kesombongan. Kesombongan bisa tampak dari berbagai perilaku, seperti memalingkan wajah, memicingkan mata, menundukkan kepala, cara duduk, hingga intonasi suara.
Dalam buku Intisari Ihya Ulumuddin karangan Sayid Hawwa disebutkan bahwa seorang yang tawadhu’ akan selalu berusaha menghindari berbagai macam bentuk kesombongan. Diantara sikap sombong yang sering menyertai seseorang, khususnya orang-orang yang berkuasa adalah sebagai berikut: Pertama, keinginan agar orang-orang berdiri untuknya. Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Barangsiapa ingin melihat seorang lelaki dari penghuni neraka maka hendaklah dia melihat seorang lelaki yang tengah duduk tetapi di hadapannya ada orang-orang yang berdiri.” Anas ra berkata: “Tidak ada orang yang lebih mereka cintai ketimbang Rasulullah Saw. Sekalipun demikian apabila melihatnya, mereka tidak berdiri kepadanya karena mereka tahu kebenciannya terhadap hal tersebut.” (HR. Imam Tirmidzi).
Kedua, keinginan agar ketika dia berjalan didampingi atau diiringi oleh orang lain. Abu Darda berkata: “Seorang Hamba senantiasa bertambah jauh dari Allah Swt selagi dia berjalan dengan diiringi di belakangnya.” Orang-orang tidak bisa membedakan Abdur Rahman bin Auf daripada budaknya karena dia tidak membedakan dirinya dari mereka dalam bentuk lahiriah. Dalam riwayat lain disebutkan, orang-orang pernah berjalan di belakang Hasan Al-Bashri, lalu dia melarang mereka seraya berkata: “Janganlah keinginan ini ada di dalam hati seorang Hamba.”
Ketiga, tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah dengan tangannya sendiri. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Abdul Aziz kedatangan seorang tamu di rumahnya pada malam hari. Ketika itu dia sedang menulis dan lampunya hampir padam, lalu sang tamu bertanya: “Aku perbaiki lampu itu? Umar bin Abdul Aziz menjawab: “Menyuruh tamu adalah perbuatan yang tidak mulia.” Tamu itu berkata: “Aku bangunkan pembantu?” Umar berkata: “Dia baru saja tidur.” Kemudian Umar berdiri mengisi minyak lampu. Menyaksikan hal itu, sang tamu bertanya: “Kamu sendiri yang melakukan wahai Amirul Mukminin?” Umar menjawab: “Aku pergi dan kembali tetap saja Umar namanya, tidak ada sesuatu pun yang berkurang dariku! Sebaik-baik orang adalah orang yang tawadhu’ di sisi Allah Swt.
Keempat, merasa malu membawa barang kebutuhan rumah tangga ke rumah. Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Kesempurnaan seseorang tidak akan berkurang karena hanya dia membawa sesuatu untuk keluarganya. Dalam riwayat lain, Zaid bin Wahab berkata: “Aku pernah melihat Umar bin Khaththab keluar ke pasar sambil tangannya membawa susu dan memakai kain sarung yang bertambal sebanyak empat belas tambalan, sebagian tambalannya bahkan dari kulit. (disarikan dari Intisari Ihya Ulumuddin karangan Sayyid Hawwa)
Kesederhanaan Rasulullah
Kesederhanaan Rasulullah Saw
Menjadi penguasa di negeri ini memang enak. Semuanya disediakan oleh negara, mulai dari gaji yang besar hingga fasilitas kelas satu. Sayangnya, sebagian dari mereka belum juga merasa cukup. Mereka tergoda oleh kemewahan. Berbagai cara pun dilakukan, termasuk dengan melawan hukum. Maka terjadilah berbagai kasus korupsi yang membelit bangsa ini. Korupsi yang menyebabkan kemiskinan.
Pejabat masa kini belum juga belajar dari para pendahulunya. Pendiri bangsa ini adalah orang-orang yang hidup sederhana. Mereka bukanlah orang yang gampang tergoda oleh kemewahan. Bayangkan, Mohammad Natsir, seorang Perdana Menteri pada tahun 1950-an, suatu ketika menggunakan baju yang bertambal. Suatu sikap kesederhanaan yang sulit kita jumpai pada pemimpin saat ini.
Kesederhanaan Mohammad Natsir belumlah sebanding dengan keteladanan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sebagai pemimpin negara, seluruh rakyat tunduk terhadap kekuasaannya. Setiap saat, unta yang penuh dengan muatan barang-barang berharga tidak henti-hentinya datang kepada beliau. Berbagai perhiasan mewah seperti emas dan perak pun selalu terhampar di hadapan beliau. Namun beliau tidak pernah tergoda untuk menikmati itu semua. Harta-harta tersebut beliau bagikan kepada fakir miskin.
Kesederhanaan hidup Rasulullah Saw dapat kita lihat dari hidangan yang disediakan di tengah-tengah keluarganya. Makanan yang dihidangkan sangatlah sederhana, berbeda sekali dengan hidangan para raja atau orang-orang kaya yang ada pada masa itu. Aisyah RA mengungkapkan: “Keluarga Rasulullah Saw tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga beliau wafat.” (HR. Muslim)
Rasulullah Saw tidak pernah makan daging dengan roti kecuali ketika menjamu para tamu. Beliau juga tidak pernah makan hingga kenyang. Terbatasnya jumlah makanan, membuat beliau tidak memperoleh makanan yang cukup. Anas bin Malik mengungkapkan: “Rasulullah Saw tidak pernah makan siang dan makan malam dengan daging beserta roti kecuali bila menjamu para tamu.” (HR. At-Tirmidzi).
Suatu saat Rasulullah Saw bahkan tidak mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Beliau tertidur dalam keadaan lapar, karena tidak ada sesuap makanan pun yang mengganjal perutnya. Ibnu Abbas RA menuturkan: “Rasulullah Saw dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar selama beberapa malam berturut-turut. Mereka tidak mendapatkan hidangan untuk makan malam. Sedangkan jenis makanan yang sering mereka makan adalah roti yang terbuat dari gandum.” (HR. At-Tirmidzi)
Kesederhanaan hidup Rasulullah Saw bukanlah karena beliau tidak mempunyai harta. Beliau tidak ingin harta-harta yang dimilikinya membuat dirinya lalai kepada Allah Swt. Oleh sebab itu, harta-harta tersebut selalu beliau sedekahkan. Uqbag bin Al-Harist berkata: “Pada suatu hari Rasulullah Saw mengimami kami shalat Ashar. Seusai shalat beliau segera memasuki rumah, tidak lama kemudian beliau keluar kembali. Aku bertanya kepada beliau tentang perbuatan beliau itu. Beliau menjawab: “Aku tidak meninggalkan sebatang emas harta sedekah di rumah. Aku tidak ingin emas itu berada di tanganku sampai malam nanti. Karena itulah aku segera membagikannya.” (HR. Muslim)
Menjadi penguasa di negeri ini memang enak. Semuanya disediakan oleh negara, mulai dari gaji yang besar hingga fasilitas kelas satu. Sayangnya, sebagian dari mereka belum juga merasa cukup. Mereka tergoda oleh kemewahan. Berbagai cara pun dilakukan, termasuk dengan melawan hukum. Maka terjadilah berbagai kasus korupsi yang membelit bangsa ini. Korupsi yang menyebabkan kemiskinan.
Pejabat masa kini belum juga belajar dari para pendahulunya. Pendiri bangsa ini adalah orang-orang yang hidup sederhana. Mereka bukanlah orang yang gampang tergoda oleh kemewahan. Bayangkan, Mohammad Natsir, seorang Perdana Menteri pada tahun 1950-an, suatu ketika menggunakan baju yang bertambal. Suatu sikap kesederhanaan yang sulit kita jumpai pada pemimpin saat ini.
Kesederhanaan Mohammad Natsir belumlah sebanding dengan keteladanan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sebagai pemimpin negara, seluruh rakyat tunduk terhadap kekuasaannya. Setiap saat, unta yang penuh dengan muatan barang-barang berharga tidak henti-hentinya datang kepada beliau. Berbagai perhiasan mewah seperti emas dan perak pun selalu terhampar di hadapan beliau. Namun beliau tidak pernah tergoda untuk menikmati itu semua. Harta-harta tersebut beliau bagikan kepada fakir miskin.
Kesederhanaan hidup Rasulullah Saw dapat kita lihat dari hidangan yang disediakan di tengah-tengah keluarganya. Makanan yang dihidangkan sangatlah sederhana, berbeda sekali dengan hidangan para raja atau orang-orang kaya yang ada pada masa itu. Aisyah RA mengungkapkan: “Keluarga Rasulullah Saw tidak pernah makan roti gandum sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga beliau wafat.” (HR. Muslim)
Rasulullah Saw tidak pernah makan daging dengan roti kecuali ketika menjamu para tamu. Beliau juga tidak pernah makan hingga kenyang. Terbatasnya jumlah makanan, membuat beliau tidak memperoleh makanan yang cukup. Anas bin Malik mengungkapkan: “Rasulullah Saw tidak pernah makan siang dan makan malam dengan daging beserta roti kecuali bila menjamu para tamu.” (HR. At-Tirmidzi).
Suatu saat Rasulullah Saw bahkan tidak mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Beliau tertidur dalam keadaan lapar, karena tidak ada sesuap makanan pun yang mengganjal perutnya. Ibnu Abbas RA menuturkan: “Rasulullah Saw dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar selama beberapa malam berturut-turut. Mereka tidak mendapatkan hidangan untuk makan malam. Sedangkan jenis makanan yang sering mereka makan adalah roti yang terbuat dari gandum.” (HR. At-Tirmidzi)
Kesederhanaan hidup Rasulullah Saw bukanlah karena beliau tidak mempunyai harta. Beliau tidak ingin harta-harta yang dimilikinya membuat dirinya lalai kepada Allah Swt. Oleh sebab itu, harta-harta tersebut selalu beliau sedekahkan. Uqbag bin Al-Harist berkata: “Pada suatu hari Rasulullah Saw mengimami kami shalat Ashar. Seusai shalat beliau segera memasuki rumah, tidak lama kemudian beliau keluar kembali. Aku bertanya kepada beliau tentang perbuatan beliau itu. Beliau menjawab: “Aku tidak meninggalkan sebatang emas harta sedekah di rumah. Aku tidak ingin emas itu berada di tanganku sampai malam nanti. Karena itulah aku segera membagikannya.” (HR. Muslim)
Cara Rasulullah Memperlakukan Pekerja
Cara Rasulullah SAW Memperlakukan Pekerja
Masalah tenaga kerja acapkali menjadi isu nasional. Kita sering mendengar tenaga kerja Indonesia mengalami kekerasan di luar negeri. Mereka menjadi korban majikannya. Berbagai kekerasan mereka alami, mulai dari pemukulan, penyiksaan, hingga kekerasan seksual dan lain sebagainya.
Masalah tenaga kerja Indonesia tidak hanya terjadi di luar negeri tetapi juga di dalam negeri. Berbagai perlakuan buruk majikan (baca: pemilik perusahaan-red) dengan mudah dapat kita saksikan. Bentuknya sangat beragam, mulai dari upah yang rendah, jam kerja yang tidak jelas, perjanjian kerja yang memberatkan karyawan, hingga pemutusan hubungan kerja sepihak.
Majikan hendaknya meneladani Rasulullah SAW dalam meperlakukan para pekerjanya. Beliau adalah orang yang sangat menghargai pelayannya. Beliau menempatkan pelayan yang miskin lagi lemah pada kedudukan yang layak. Beliau mengukurnya dari sisi agama dan ketakwaannya, bukan dari sisi status sosial dan kedudukannya yang lemah. Anas bin Malik mengungkapkan, “Aku pernah menjadi pelayan Rasulullah SAW selama sepuluh tahun. Tidak pernah sama sekali beliau mengucapkan ‘hus’ kepadaku. Beliau tidak pernah membentakku terhadap sesuatu yang kukerjakan (dengan ucapan), ‘Mengapa engkau kerjakan begini!’ Dan tidak pula terhadap sesuatu yang tidak kukerjakan (dengan ucapan), ‘Mengapa tidak engkau kerjakan!” (HR. Muslim)
Pujian seorang pelayan terhadap majikannya adalah bukti bahwa sang majikan telah memperlakukannya dengan baik. Anas bin Malik mengungkapkan dengan tulus kekagumannya terhadap Rasulullah SAW sebagai seorang majikan. Beliau tidak pernah membentak dan memerintahnya. Sebaliknya beliau justru memberikan balasan yang setimpal, membuat bahagia perasaannya, menutupi kebutuhannya beserta keluarga, serta mendo’akannya.
Rasulullah SAW adalah orang yang senantiasa berlaku adil terhadap pelayannya. Beliau tidak pernah mengebiri hak kaum lemah yang berada di bawah tanggung jawabnya. Beliau memperlakukan mereka seperti layaknya saudara sendiri. “Mereka (para pelayan dan pekerja) adalah saudara kamu (seiman). Allah SWT menempatkan mereka di bawah kekuasaan kamu. Berilah mereka makanan yang biasa kamu makan, berikanlah mereka pakaian yang biasa kamu makan. Janganlah memberatkan mereka di luar batas kemampuan. Jika kamu memberikan sebuah tugas, bantulah mereka dalam melaksanakannya,” (HR. Muslim).
Masalah tenaga kerja acapkali menjadi isu nasional. Kita sering mendengar tenaga kerja Indonesia mengalami kekerasan di luar negeri. Mereka menjadi korban majikannya. Berbagai kekerasan mereka alami, mulai dari pemukulan, penyiksaan, hingga kekerasan seksual dan lain sebagainya.
Masalah tenaga kerja Indonesia tidak hanya terjadi di luar negeri tetapi juga di dalam negeri. Berbagai perlakuan buruk majikan (baca: pemilik perusahaan-red) dengan mudah dapat kita saksikan. Bentuknya sangat beragam, mulai dari upah yang rendah, jam kerja yang tidak jelas, perjanjian kerja yang memberatkan karyawan, hingga pemutusan hubungan kerja sepihak.
Majikan hendaknya meneladani Rasulullah SAW dalam meperlakukan para pekerjanya. Beliau adalah orang yang sangat menghargai pelayannya. Beliau menempatkan pelayan yang miskin lagi lemah pada kedudukan yang layak. Beliau mengukurnya dari sisi agama dan ketakwaannya, bukan dari sisi status sosial dan kedudukannya yang lemah. Anas bin Malik mengungkapkan, “Aku pernah menjadi pelayan Rasulullah SAW selama sepuluh tahun. Tidak pernah sama sekali beliau mengucapkan ‘hus’ kepadaku. Beliau tidak pernah membentakku terhadap sesuatu yang kukerjakan (dengan ucapan), ‘Mengapa engkau kerjakan begini!’ Dan tidak pula terhadap sesuatu yang tidak kukerjakan (dengan ucapan), ‘Mengapa tidak engkau kerjakan!” (HR. Muslim)
Pujian seorang pelayan terhadap majikannya adalah bukti bahwa sang majikan telah memperlakukannya dengan baik. Anas bin Malik mengungkapkan dengan tulus kekagumannya terhadap Rasulullah SAW sebagai seorang majikan. Beliau tidak pernah membentak dan memerintahnya. Sebaliknya beliau justru memberikan balasan yang setimpal, membuat bahagia perasaannya, menutupi kebutuhannya beserta keluarga, serta mendo’akannya.
Rasulullah SAW adalah orang yang senantiasa berlaku adil terhadap pelayannya. Beliau tidak pernah mengebiri hak kaum lemah yang berada di bawah tanggung jawabnya. Beliau memperlakukan mereka seperti layaknya saudara sendiri. “Mereka (para pelayan dan pekerja) adalah saudara kamu (seiman). Allah SWT menempatkan mereka di bawah kekuasaan kamu. Berilah mereka makanan yang biasa kamu makan, berikanlah mereka pakaian yang biasa kamu makan. Janganlah memberatkan mereka di luar batas kemampuan. Jika kamu memberikan sebuah tugas, bantulah mereka dalam melaksanakannya,” (HR. Muslim).
Maligi Sengaja Dimiskinkan
Maligi Sengaja Dibiarkan Miskin?
Pasbar, Singgalang
Laporan Ekspedisi Singgalang 4 ke Maligi yang disiarkan Harian Umum Singgalang, baik melalui edisi cetak maupun online, mendapat respon dari salah seorang warga Maligi alumni ‘Sekolah Laskar Pelangi’, Jasra Putra, M.Si. Menurut staf pada Pusat Perlindungan Anak dan Lansia itu, sejak masih SD di Maligi tempo doeloe, sebenarnya dia sudah heran, kenapa Maligi tidak masuk ke dalam peta Sumbar dan Pasaman yang mereka pelajari.
“Negeri ini sudah merdeka selama 64 tahun dengan gegap gempita pembangunan yang dilakukan. Berbagai hasil sudah dinikmati oleh sebagian masyarakat. Tapi untuk Maligi, negeri yang terletak di tepi pantai tersebut belum bisa menikmati kemerdekaan. Kadangkala saya pernah berpikir, waktu masih belajar di SD dan MTsM, lembaga yang disebut sebagai Sekolah Laskar Pelangi oleh Singgalang, kenapa negeri kaya ini tak masuk ke dalam peta,” ujar Jasra kepada dalam tanggapan tertulisnya yang dikirim kepada Singgalang, Jumat (1/1/2010) dari Bandung.
Jasra yang mengaku saat menulis tanggapan itu tengah mengikuti rapat untuk membuat Rencana Strategis (renstra) Pusat Perlindungan Anak dan Lansia itu mempertanyakan, apakah orang-orang yang ada saat ini di Maligi dan Pasbar masih punya tanggungjawab untuk mengangkat keterpurukan Maligi. Jangan-jangan, tuturnya, Maligi dianggap tidak pernah ada, sehingga tidak perlu menjadi perhatian oleh pejabat-pejabat yang bertanggungjawab untuk mengurusi persoalan ini, baik di level Pasbar maupun Sumbar.
“Saya sangat malu dan prihatin terhadap gega-gempita yang dijanjikan oleh ‘pedagang politik’ yang membuai masyarakat dengan janji-janji, setelah mendapat jabatan, mereka justru lupa dengan semua janjinya dan berjalan tanpa merasa berdosa. Ketertinggalan Maligi telah mereka jadikan dagangan politik. Saya curiga, ada upaya pembiaran kemiskinan di Maligi,” tegasnya.
Pada Silaturahim Idul Fitri 2008 lalu, Jasra mengaku sudah pernah melemparkan persoalan Maligi kepada sejumlah pejabat Pasbar, terutama menyangkut masalah ekonomi, sosial dan politik. Dengan enteng mereka menjawab, tutur Jasra, orang-orang penting Pasbar menyatakan sistem yang ada telah berjalan sejak masih pemerintahan Kabupaten Pasaman sebelum dimekarkan.
Ketika pejabat itu didesak untuk melahirkan beragam inisiatif untuk menyelesaikan persoalan Maligi dan daerah-daerah miskin di sepanjang pesisir Pasbar, mereka justru bersikap lempar batu sembunyi tangan, sekaligus menganggap isu itu adalah persoalan yang ‘sudah masuk angin’.
“Sebagai putra Maligi, saya berterima kasih kepada Singgalang yang telah mau mengungkap persoalan Maligi dengan melakukan ekspedisi ke sana. Mudah-mudahan informasi ini bisa membuka hati dan pikiran para pemangku kebijakan di Pasbar dan Sumbar. Bagi masyarakat Maligi, kemedekaan itu artinya sangat sederhana, yakni bagaimana mereka bisa melepaskan diri dari kubangan kemiskinan yang sudah lama dirasakan. Harapan ini, sudah tak tahu lagi hendak disampaikan ke mana dan kepada siapa,” ucapnya.
Sumber: http://musriadi.multiply.com/journal/item/276
Pasbar, Singgalang
Laporan Ekspedisi Singgalang 4 ke Maligi yang disiarkan Harian Umum Singgalang, baik melalui edisi cetak maupun online, mendapat respon dari salah seorang warga Maligi alumni ‘Sekolah Laskar Pelangi’, Jasra Putra, M.Si. Menurut staf pada Pusat Perlindungan Anak dan Lansia itu, sejak masih SD di Maligi tempo doeloe, sebenarnya dia sudah heran, kenapa Maligi tidak masuk ke dalam peta Sumbar dan Pasaman yang mereka pelajari.
“Negeri ini sudah merdeka selama 64 tahun dengan gegap gempita pembangunan yang dilakukan. Berbagai hasil sudah dinikmati oleh sebagian masyarakat. Tapi untuk Maligi, negeri yang terletak di tepi pantai tersebut belum bisa menikmati kemerdekaan. Kadangkala saya pernah berpikir, waktu masih belajar di SD dan MTsM, lembaga yang disebut sebagai Sekolah Laskar Pelangi oleh Singgalang, kenapa negeri kaya ini tak masuk ke dalam peta,” ujar Jasra kepada dalam tanggapan tertulisnya yang dikirim kepada Singgalang, Jumat (1/1/2010) dari Bandung.
Jasra yang mengaku saat menulis tanggapan itu tengah mengikuti rapat untuk membuat Rencana Strategis (renstra) Pusat Perlindungan Anak dan Lansia itu mempertanyakan, apakah orang-orang yang ada saat ini di Maligi dan Pasbar masih punya tanggungjawab untuk mengangkat keterpurukan Maligi. Jangan-jangan, tuturnya, Maligi dianggap tidak pernah ada, sehingga tidak perlu menjadi perhatian oleh pejabat-pejabat yang bertanggungjawab untuk mengurusi persoalan ini, baik di level Pasbar maupun Sumbar.
“Saya sangat malu dan prihatin terhadap gega-gempita yang dijanjikan oleh ‘pedagang politik’ yang membuai masyarakat dengan janji-janji, setelah mendapat jabatan, mereka justru lupa dengan semua janjinya dan berjalan tanpa merasa berdosa. Ketertinggalan Maligi telah mereka jadikan dagangan politik. Saya curiga, ada upaya pembiaran kemiskinan di Maligi,” tegasnya.
Pada Silaturahim Idul Fitri 2008 lalu, Jasra mengaku sudah pernah melemparkan persoalan Maligi kepada sejumlah pejabat Pasbar, terutama menyangkut masalah ekonomi, sosial dan politik. Dengan enteng mereka menjawab, tutur Jasra, orang-orang penting Pasbar menyatakan sistem yang ada telah berjalan sejak masih pemerintahan Kabupaten Pasaman sebelum dimekarkan.
Ketika pejabat itu didesak untuk melahirkan beragam inisiatif untuk menyelesaikan persoalan Maligi dan daerah-daerah miskin di sepanjang pesisir Pasbar, mereka justru bersikap lempar batu sembunyi tangan, sekaligus menganggap isu itu adalah persoalan yang ‘sudah masuk angin’.
“Sebagai putra Maligi, saya berterima kasih kepada Singgalang yang telah mau mengungkap persoalan Maligi dengan melakukan ekspedisi ke sana. Mudah-mudahan informasi ini bisa membuka hati dan pikiran para pemangku kebijakan di Pasbar dan Sumbar. Bagi masyarakat Maligi, kemedekaan itu artinya sangat sederhana, yakni bagaimana mereka bisa melepaskan diri dari kubangan kemiskinan yang sudah lama dirasakan. Harapan ini, sudah tak tahu lagi hendak disampaikan ke mana dan kepada siapa,” ucapnya.
Sumber: http://musriadi.multiply.com/journal/item/276
Maligi Riwayatmu Kini
Ekspedisi Singgalang Maligi
Tiram dan Kerbau Maligi Mulai Langka
Laporan MUSRIADI MUSANIF
PASBAR -- Secara geografis, Maligi, Kenagarian Sasak, Kecamatan Sasak Ranah Pasisie, Pasaman Barat, berada di sepanjang garis pantai yang berbatasan langsung dengan Muara Sasak dan Sikilang. Untuk akses ke jalan lintas Sumatra yang menghubungkan Simpang Empat dengan Ujung Gading, Maligi terhalang oleh dua perusahaan perkebunan kelapa sawit milik investor multinasional. Perusahaan itu memiliki pabrik pengolahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menjadi cruid palm oil (CPO) alias minyak mentah kelapa sawit.
Kendati belum diketahui adanya pencemaran terhadap perairan sepanjang pantai Maligi akibat aktifitas industri CPO di daerah hulu tersebut, namun beberapa tahun belakangan masyarakat Maligi mulai merasakan, jalan roda ekonomi sebagian keluarganya mulai macet, terutama mereka yang selama ini menggantungkan hidupnya dari mencari tiram (kerang) di aliran air payau yang ada di sekeliling kampung itu. Tiram, adalah komoditas andalan yang dahulu banyak terdapat di sana. Selain tiram, perairan Maligi juga menghasilkan berbagai jenis udang kualitas ekspor.
Mencari tiram, sesungguhnya juga merupakan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat yang melaut sebagai nelayan. Tatkala musim sulit mendapatkan ikan dan udang karena faktor cuaca tiba, biasanya mereka beralih mencari tiram. Tapi itu dulu. Kini, tiram mulai langka dan sulit didapat. Posisinya sebagai mata pencaharian yang bisa menyambung hidup warga, sudah mulai bergeser. Banyak di antara mereka yang beralih menjadi buruh kasar di perkebunan-perkebunan kelapa sawit yang memagari kampung mereka.
Tapi musim susah kembali melanda setelah banyak di antara warga yang dulu bekerja sebagai buruh di perkebunan, kini telah diberhentikan lantaran perusahaan investor besar itu tidak lagi membutuhkan buruh dalam jumlah besar. Kebun-kebun kelapa sawit sudah memasuki tahap produksi. Pengurangan besar-besaran tenaga kerja, membuat banyak di antara warga Maligi kehilangan pekerjaan, sementara untuk kembali menjalankan profesi pencari tiram, sudah tidak memungkinkan lagi. Tidak ada yang berani memastikan, kehadiran industri kelapa sawit di hulu memiliki korelasi dengan mengecilnya jumlah tiram di sana.
Sementara itu, di tengah keputusasaan dan kemelaratan menyapu kehidupan sebagian besar masyarakat Maligi, beberapa birokrat pemerintahan di Pasaman Barat dan Provinsi Sumbar malah sesumbar, Maligi adalah daerah potensial untuk pembangunan tambak udang berkualitas ekspor. Ucapan itu dilontarkan lantaran berbagai jenis udang menjadi tangkapan utama nelayan tradisional di sana. Sayangnya, kendati telah berbilang tahun, namun ucapan-ucapan pejabat itu tetap saja berstatus omong kosong.
Di laman resmi Pemkab Pasbar dituliskan, Maligi dan Sikilang adalah daerah yang dikembangkan untuk budidaya tambak dengan komoditas yang dikembangkan adalah udang windu (penaens monodon), Bandeng dan Kepiting. Pengembangan budidaya ini mempunyai prospek pasar yang besar. Peluang investasi yang dapat dilakukan adalah pembangunan usaha budidaya pembesaran dan pembenihan udang windu, bandeng dan kepiting bakau.
Kerbau maligi
Selain terkenal dengan udang, kepiting dan tiram, Maligi juga dikenal sebagai daerah penghasil kerbau terbesar di Pasaman Barat. Berbeda dengan daerah lain, peternakan kerbau di sana tidak memerlukan padang pengembalaan. Kerbau-kerbau maligi tidak pernah diikat. Gerombolan kerbau itu hanya dibiarkan berkeliaran di sepanjang aliran sungai dan muara yang mengurung daerah itu dari dunia luar.
Dahulu, ratusan kerbau dengan mudah bisa ditemukan merumput, berendam dan iberkubang. Kini, populasinya sudah jauh menurun. Sulit diperoleh penjelasan, faktor apa sesungguhnya yang mengakibatkan peternakan itu tidak lagi menarik perhatian warga.
“Nampaknya saja kerbau itu yang liar dan tak bertuan. Semuanya sudah ada yang punya. Pemiliknya dengan mudah bisa mengenali kerbau yang berkeliaran itu miliknya dari bentuk tanduk, warna bulu dan oakannya (suara kerbau). Seorang peternak, biasanya memulai usaha peternakan dengan membeli seekor atau beberapa ekor kerbau betina untuk kemudian dilepas. Takkan lebih dari lima tahun, kerbaunya akan berkembang biak dan bisa dijual sebagai tambahan penghasilan keluarga,” tutur seorang warga.
Sepintas, beternak kerbau di Maligi terlihat begitu mudah, karena hanya dibiarkan lepas seperti hewan-hewan liar. Tapi sebenarnya tidak. Kerbau-kerbau itu juga perlu dipantau terus pergerakannya. Bila tidak, maka ketika hendak ditangkap dan dijual, si pemilik akan kesulitan mencari di mana posisi ternaknya tersebut. Maklum, wilayah jelajah sang kerbau cukup luas.
Bagi masyarakat Maligi, kerbau tidak hanya untuk dijual ke luar daerah yang akan dimanfaatkan orang di daerah lain dalam kawasan Pasaman Barat untuk menarik bajak pengolah sawah, tetapi juga berfungsi sebagai penarik pedati. Kerbau maligi dikenal cukup kuat dan tangguh menarik pedati bermuatan sekitar satu ton, melewati jalan berlumpur dan memudikkan aliran sungai. Berkat bantuan kerbau penarik pedati itu pulalah, warga Maligi bisa mengirim hasil produksi daerah mereka ke Pasar Sasak, sekaligus membawa barang-barang kebutuhan harian masuk ke Maligi.***
Sumber: http://musriadi.multiply.com/journal/item/274
Tiram dan Kerbau Maligi Mulai Langka
Laporan MUSRIADI MUSANIF
PASBAR -- Secara geografis, Maligi, Kenagarian Sasak, Kecamatan Sasak Ranah Pasisie, Pasaman Barat, berada di sepanjang garis pantai yang berbatasan langsung dengan Muara Sasak dan Sikilang. Untuk akses ke jalan lintas Sumatra yang menghubungkan Simpang Empat dengan Ujung Gading, Maligi terhalang oleh dua perusahaan perkebunan kelapa sawit milik investor multinasional. Perusahaan itu memiliki pabrik pengolahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menjadi cruid palm oil (CPO) alias minyak mentah kelapa sawit.
Kendati belum diketahui adanya pencemaran terhadap perairan sepanjang pantai Maligi akibat aktifitas industri CPO di daerah hulu tersebut, namun beberapa tahun belakangan masyarakat Maligi mulai merasakan, jalan roda ekonomi sebagian keluarganya mulai macet, terutama mereka yang selama ini menggantungkan hidupnya dari mencari tiram (kerang) di aliran air payau yang ada di sekeliling kampung itu. Tiram, adalah komoditas andalan yang dahulu banyak terdapat di sana. Selain tiram, perairan Maligi juga menghasilkan berbagai jenis udang kualitas ekspor.
Mencari tiram, sesungguhnya juga merupakan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat yang melaut sebagai nelayan. Tatkala musim sulit mendapatkan ikan dan udang karena faktor cuaca tiba, biasanya mereka beralih mencari tiram. Tapi itu dulu. Kini, tiram mulai langka dan sulit didapat. Posisinya sebagai mata pencaharian yang bisa menyambung hidup warga, sudah mulai bergeser. Banyak di antara mereka yang beralih menjadi buruh kasar di perkebunan-perkebunan kelapa sawit yang memagari kampung mereka.
Tapi musim susah kembali melanda setelah banyak di antara warga yang dulu bekerja sebagai buruh di perkebunan, kini telah diberhentikan lantaran perusahaan investor besar itu tidak lagi membutuhkan buruh dalam jumlah besar. Kebun-kebun kelapa sawit sudah memasuki tahap produksi. Pengurangan besar-besaran tenaga kerja, membuat banyak di antara warga Maligi kehilangan pekerjaan, sementara untuk kembali menjalankan profesi pencari tiram, sudah tidak memungkinkan lagi. Tidak ada yang berani memastikan, kehadiran industri kelapa sawit di hulu memiliki korelasi dengan mengecilnya jumlah tiram di sana.
Sementara itu, di tengah keputusasaan dan kemelaratan menyapu kehidupan sebagian besar masyarakat Maligi, beberapa birokrat pemerintahan di Pasaman Barat dan Provinsi Sumbar malah sesumbar, Maligi adalah daerah potensial untuk pembangunan tambak udang berkualitas ekspor. Ucapan itu dilontarkan lantaran berbagai jenis udang menjadi tangkapan utama nelayan tradisional di sana. Sayangnya, kendati telah berbilang tahun, namun ucapan-ucapan pejabat itu tetap saja berstatus omong kosong.
Di laman resmi Pemkab Pasbar dituliskan, Maligi dan Sikilang adalah daerah yang dikembangkan untuk budidaya tambak dengan komoditas yang dikembangkan adalah udang windu (penaens monodon), Bandeng dan Kepiting. Pengembangan budidaya ini mempunyai prospek pasar yang besar. Peluang investasi yang dapat dilakukan adalah pembangunan usaha budidaya pembesaran dan pembenihan udang windu, bandeng dan kepiting bakau.
Kerbau maligi
Selain terkenal dengan udang, kepiting dan tiram, Maligi juga dikenal sebagai daerah penghasil kerbau terbesar di Pasaman Barat. Berbeda dengan daerah lain, peternakan kerbau di sana tidak memerlukan padang pengembalaan. Kerbau-kerbau maligi tidak pernah diikat. Gerombolan kerbau itu hanya dibiarkan berkeliaran di sepanjang aliran sungai dan muara yang mengurung daerah itu dari dunia luar.
Dahulu, ratusan kerbau dengan mudah bisa ditemukan merumput, berendam dan iberkubang. Kini, populasinya sudah jauh menurun. Sulit diperoleh penjelasan, faktor apa sesungguhnya yang mengakibatkan peternakan itu tidak lagi menarik perhatian warga.
“Nampaknya saja kerbau itu yang liar dan tak bertuan. Semuanya sudah ada yang punya. Pemiliknya dengan mudah bisa mengenali kerbau yang berkeliaran itu miliknya dari bentuk tanduk, warna bulu dan oakannya (suara kerbau). Seorang peternak, biasanya memulai usaha peternakan dengan membeli seekor atau beberapa ekor kerbau betina untuk kemudian dilepas. Takkan lebih dari lima tahun, kerbaunya akan berkembang biak dan bisa dijual sebagai tambahan penghasilan keluarga,” tutur seorang warga.
Sepintas, beternak kerbau di Maligi terlihat begitu mudah, karena hanya dibiarkan lepas seperti hewan-hewan liar. Tapi sebenarnya tidak. Kerbau-kerbau itu juga perlu dipantau terus pergerakannya. Bila tidak, maka ketika hendak ditangkap dan dijual, si pemilik akan kesulitan mencari di mana posisi ternaknya tersebut. Maklum, wilayah jelajah sang kerbau cukup luas.
Bagi masyarakat Maligi, kerbau tidak hanya untuk dijual ke luar daerah yang akan dimanfaatkan orang di daerah lain dalam kawasan Pasaman Barat untuk menarik bajak pengolah sawah, tetapi juga berfungsi sebagai penarik pedati. Kerbau maligi dikenal cukup kuat dan tangguh menarik pedati bermuatan sekitar satu ton, melewati jalan berlumpur dan memudikkan aliran sungai. Berkat bantuan kerbau penarik pedati itu pulalah, warga Maligi bisa mengirim hasil produksi daerah mereka ke Pasar Sasak, sekaligus membawa barang-barang kebutuhan harian masuk ke Maligi.***
Sumber: http://musriadi.multiply.com/journal/item/274
Langganan:
Komentar (Atom)